skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2014

It's started from you, Kak ^^

Selamat dini hari, kak..

Surat ini untukmu. Ini yang pertama kali aku tuliskanuntukmu. Semampuku. Surat pertama di tahun 2014. Dan, aku akan memulainya dengan kamu.

Ah, kakak tahu? Bukan hanya surat yang aku mulai dengan kakak, tapi hatiku pun aku mulai dengan kamu. *eeeaakk gombal dini hari*

Saat ini aku menulis ini ditemani sebuah lagu Endah n Rhesa.
Mau aku share liriknya gak kak? Kata anak gaul sekarang sih, "Jlebb banget".

I love you but it’s not so easy to make you here with me
i wanna touch and hold you forever but you’re still in my dream

and I can’t stand to wait your love is coming to my life
but I still have a time to break a silence


I used to hide and watch you from a distance
and i knew you realized
i was looking for a time to get closer
at least to say hello



When you love someone just be brave to say
that you want him to be with you
when you hold your love don’t ever let him go
or you will loose your chance to make your dream come true


I never thought that i’m so strong
i stuck on you and wait so long
but when love comes it can’t be wrong
don’t ever give up, just try and try to get what you want
cause love will find the way






Apa mungkin juga emosi ini masih belum stabil sejak kita bertemu terakhir kali kemarin? Ketika remang- remang lampu jalan di luar menyalakan kembali cahaya lampauku. Cahaya yang seluruhnya kamu. Ketika obrolan kita mengalahkan suara gemuruh jantungku. Ketika lambaian terakhir ke atas kepalaku, seolah kamu tahu aku masih belum rela berpisah. Maka lagi- lagi aku harus membiarkan diriku tersilaukan kenang yang  benderang demi merampungkan secarik surat ini. Menelanjangi rinduku sembari membayangkan senyummu.
*gleekk, gombalnya makin parah*

Kak, mungkin kamu perlu tahu. Menulismu selalu tak semudah yang terlihat. Butuh keberanian yang besar untuk menumpahkan asingku pada kata- kata. Sebab kemudian aku akan menyadari bahwa kamu telah benar- benar hilang dari hari- hariku. Betapa bencinya aku ketika harus mengakui bahwa aku menulismu hanya dengan bangunan karakter di kepalaku.

Biarlah aku menyelesaikan sejumput keberanian lain yang kukumpulkan, mendatangimu dengan segenap rindu dalam kata- kata resah yang panjang dan membosankan.

Apakah kakak masih ingat aku yang dulu? Si gadis di tahun-tahun pertama sekolah menengahnya. Perkenalan kita bermula ketika aku akan mengikuti ujian bersekolah di tempat yang sama denganmu. Sebagai senior pertama yang aku kenal, mana mungkin aku semudah itu melupakanmu. Entah mengapa, aku terlalu yakin kamu pun tidak melupakanku sejak itu, si gadis sombong dan arogan. Aku yang terlalu sibuk dengan persiapan ini itu hingga menanyakan namamu pun terlupa.

Kakak sadar si gadis sombong ini lulus di kelas yang diinginkan? Ucapan selamatmu membuatku tersipu. "Selamat ya dek, cita-citamu kesampaian." Ah, benar kan, kamu mengingat setiap detil kata-kataku dulu. Tapi aku sudah tidak searogan kemarin. Aku berubah menjadi gadis "culun" karena sistem sekolah kita.

Berada di atap yang sama tetap saja tidak membuatku jadi lebih berani. Tetap saja, aku hanya bisa menatapmu dari jauh, mencuri-curi pandang ke arahmu sekali waktu. Aku yang biasanya blak-blakan menjadi aku yang sembunyi-sembunyi menikmati canda tawamu. Aku yang pucat pasi tiap berpapasan denganmu. Aku yang begitu payah sehingga tak pernah berani berbicara banyak padamu dulu itu. Dulu, ketika melihat kepulanganmu dari lantai dua sekolah kita merupakan sebuah kebahagiaan yang sederhana dan cukup saja. Klasik.

Setiap kamu tanyakan kenapa aku selalu menghindar dan tak banyak omong dulu, aku hanya menjawab takut pada senior. Begitu saja pun, aku masih saja sering dihukum oleh senior putri, kak.

Di tahun kedua, Tuhan seperti berpihak padaku. Aku bisa melihat kamu minimal tiga kali sehari saat makan. Kamu seperti candu bagiku. Tapi, tetap saja, menggapaimu ibarat mimpi rasanya.

Aku lupa sejak kapan kita mulai dekat. Aku juga lupa sejak kapan aku mulai sanggup berpura-pura tidak kaku di depanmu. Hubungan "kakak-adik" tidak sah ini sungguh menyiksa, sekalipun aku menikmatinya. Sampai kapan ini akan bertahan, hanya Tuhan yang tahu, kak.

Aku setengah berharap kau melupakan semua hal- hal memalukan tentangku.
Setengahnya tidak.

Si adik-kelas-culun-yang menggemaskan. Hei, meski aku akan selalu menjadi seperti itu di matamu, bukankah akan sangat baik bagiku untuk tetap menempati satu bilik ingatan di benakmu? Jika ya, sungguh, aku lebih memilih untuk menjadi si-adik-kelas-payah ini.

Jadi, ingatan secuil apa yang kamu miliki tentangku, kak? :)

Kakakku tersayang, sembilan musim panas dan sembilan musim hujan telah berlalu semenjak dini hari pertama yang penuh dengan percakapanku dan kamu. Bagiku ini selalu tentang kamu, si kakak kelas dengan suara serak dan kulit eksotisnya. Kakak kelas manis dengan kerlingan nakal dan senyuman tengilnya. Kakak kelas yang dewasa dengan pemikiran-pemikiran dan ekspektasinya yang begitu besar pada dunia. Kakak kelas usil yang selalu aku mintai "snack malamnya". Kakak kelas yang diidolakan banyak wanita dan yang selalu aku rindukan panggilannya "Dedeeek.." sambil memegang kepalaku. Tanda sayang mungkin ya kak? Ah, tapi kau sudah membuatku terlalu ge-er.

Waktu berlalu dengan tega. Begitu cepat. Begitu menyakitkan.

Tidak semudah itu menghilangkanmu dari memoriku sebelum aku mengungkapkan rasa yang dulu pernah ada ini. Tapi, untuk mengungkapkan pun butuh keberanian. Keberanian untuk merusak hubungan manis persaudaraan kita selama ini.

Jadi kak, jangan hentikan aku untuk menyimpanmu dengan apik di geligi memoriku. Sebab di sana kau adalah apa yang hanya kukenal. Selalu kau yang seperti itu.

Kakak, ini adalah surat pertamaku dari entah berapa hari, bulan atau mungkin tahun-tahun ke depan. Meski telah kutulis beratus surat untukmu dari jauh hari yang lalu, meski akan masih ada yang lain setelahnya, jika ini adalah permulaan lain yang kudapat,

.

ketahuilah bahwa aku memulainya dengan kamu.

.
Akan lebih banyak surat datang untukmu, kak.

Memikirkannya saja dadaku bergemuruh. Aku tak ingin surat ini sampai kepadamu sebagai satu dari sekian yang berserakan di depan pagar dirimu, sementara kau masih tertidur di dalam mabuk oleh anggur yang tak lain adalah kekasih lalumu.

Mengutip ulang lirik lagu tadi, sungguh kak, I've never thought that I'm so strong that I stuck on you and wait so long. Love will find its way. Demikian pun surat ini akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepadamu, kak, Semoga surat ini juga membawa serta gemetar jari- jari dan cekat di tenggorokanku yang tak mau pergi.

Berjanjilah, bila kelak surat- suratku sampai juga kepadamu, bacalah sampai habis. Sekali waktu rindu ini perlu teralamat. Bukankah kau yang paling mengerti soal itu?


Salam sayang, adikmu
Grace
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, Januari 03, 2014 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, cinta dan perasaan, Keluarga, surat, tentang mimpi

Senin, 13 Mei 2013

Pulang...

Tidak lagi menjadi sebuah keberatan. Sebuah kata yang mungkin telah lama menjadi keinginan yang selama ini terkatup rapat di dalam dada. Belum pernah ada rasa yang melebihi rasa ingin pulang. Setiap orang butuh pulang. Setiap orang butuh kembali ke sebuah tempat dimana ia ‘berasal.’ Ketika menuliskan ini ada sebuah pertanyaan besar di dalam hati bahwa, kapankah waktu yang tepat untuk pulang. Adakah memang setiap orang butuh tempat untuk pulang? Dan bagaimana dengan sebuah kebingungan ketika hendak pulang kemana.

Biasanya pulang di awali oleh sebuah perjalanan. Seseorang akan melalui perjalanan panjang itu, sampai dia berada pada sebuah titik: hendak meneruskan perjalanannya atau kembali. Pulang. Saya membayangkan sebuah lorong panjang yang selama ini sudah saya lalui. Terkadang lorong itu gelap yang lama. Dan bahkan sebuah terang yang sangat singkat. Kadang juga lorong tersebut adalah sebuah  remang-remang, dan kamu hanya mendapati bayanganmu sendiri di sana.

Pulang, bukan akhir. Ia adalah labuhan. Dimana di sana ada rindu panjang yang selama ini tertahan. Kamu bisa melepaskan apapun yang selama ini kamu tahan. Apapun. Apapun yang kamu rasakan tinggal dilepaskan. Terkadang kamu kepingin pulang karena kamu hanya terlanjur capek berjalan sendirian. Jika orang bertanya: kenapa kamu ingin pulang?

Mungkin karena kamu rindu.

Saya meninggalkan rumah sejak tahun 2004. Kini hampir 9 tahun saya di luar. Sejak saya keluar dari rumah, saya berpindah pindah tempat dari satu kota ke kota yang lain. Dari satu kos ke kos yang lain. Dan akhirnya saya tiba pada sebuah kondisi dimana saya hanya kepingin pulang.

Merindukan rumah.

Rumah menjadi sesuatu yang saya dambakan. Rumah menjadi sebuah pilihan untuk rindu. Akhir-akhir ini saya hanya ingin pulang, hanya karena saya ingin mendapati orang rumah yang ada di rumah. Dan mereka bertanya kepada saya tentang hal-hal yang sederhana. Misalnya: “darimana saja hari ini?” atau “tadi ngapain saja?” dua pertanyaan sederhana yang saya inginkan. Dua pertanyaan sederhana yang akan membawa kita kepada obrolan yang panjang. Atau bisa jadi hal ini dikarenakan, saya sedang kangen mengobrol. Saya rindu percakapan-percakapan dengan ayah yang panjang-panjang dan jenaka. Saya rindu akan teriakan-teriakan ibu di pagi hari. Belum ada yang bisa menggantikannya. Belum ada yang bisa seperti mereka. Akhir-akhir ini seperti ada sebuah keresahan besar yang ada di dalam hati saya.

Rindu pulang karena rindu percakapan-percakapan sederhana. Atau canda tawa sederhana antara saya dan ketiga adik. Ah, sebentar lagi adik kecil  berulang tahun yang ke-14. Saya punya harapan banyak. Saya menelepon mereka kemarin malam. Dan ternyata di rumah sedang ramai. Kami mengobrol, lalu saya tanya apa yang mereka lakukan sepanjang hari ini, “Tidak banyak. Pacaran dan mencarikan pacar untuk kakak agar tidak kesepian.” Mereka menjawabnya sambil tertawa. Tawa mereka yang khas. Jawaban yang bagus pikir saya.

Tawa yang buat saya tambah rindu.

Adik-adik kecilku, kakak tunggu di sini ya saat liburan nanti. Temani kakak agar tidak kesepian!
Pada akhirnya, saya memang rindu... Pulang...










>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Mei 13, 2013 0 komentar
Label: Keluarga, semacam curhat

Senin, 18 Maret 2013

Lima Puluh Tiga Tahun itu Seksi!!



Selisih waktu dua hari, tepat Ayah ulang tahun. 16 Maret 1960. 16 Maret 2013. Sekarang saya di kantor, agak mengantuk, kemarin tidur terlalu larut, tapi kemudian saya buka komputer lalu hendak menuliskan sesuatu untuknya—entah suatu kebetulan atau bukan, ketika Ayah berulang tahun kemarin ada hujan di luar. Tapi bukan, bukan karena itu saya tidak menulis tepat di hari ultahnya.

Ini adalah tahun kesekian saya merayakan ulang tahun Ayah di luar dan hanya melalui tulisan. Kepada Ayah yang pemberani, ijinkan saya menulis sesuatu. Ini adalah ulang tahunmu yang ke lima-puluh-tiga. Tahun-tahun panjang begitu banyak yang kau lalui.

Pengalaman dan debu perjalanan itu seperti menggantung di kerut wajahmu. Menjadi dewasa dan matang itu sendiri terlihat dari begitu banyak ubanmu. Semangat yang membara toh tidak padam dari sinar matamu. Kebijakan senantiasa keluar dari mulutmu.

Hal yang baik itu menular, Ayah. Seperti katamu selalu lakukan segala sesuatu itu tulus, tulus saja. Anak macam apa yang ketika dinasehati seperti ini tidak mau mendengarkan. Tidak mudah menjalani usiamu, 
Yah. Tidak—lalu saya bertanya? Dengan apa kau bisa bertahan?

Saya ini anak sulung ndablek bin jogal Ayah, yang musti berkali-kali dibilangi dulu baru mengerti kemudian. Tapi Ayah selalu menyayangi saya, lucunya setiap Ayah berulang tahun selalu ada berkah yang kecipratan untuk saya di perantauan.

Kemarin saya habis Sosialisasi di Jakarta. Tepat di hari ulang tahun Ayah pun saya berkumpul dengan orang-orang terbaik saya dari semasa kuliah hingga sekarang. Saya merasa selain di rumah, itu kali pertama saya bisa tertawa sebahagia dan selepas kemarin, setelah hari-hari panjang dan berat yang saya lalui di perantauan. Tuhan menyediakan orang untuk berbagi. Tuhan mencukupkan segala kebutuhan. Tuhan adalah gembalaku, itu sudah cukup! Itu pun saya pelajari tepat di hari ulang tahun mu, Ayah.

Betul—anak perempuan Ayah sudah dewasa. Banyak(?) yang naksir. Tapi belum ada yang serius mengajak saya—begitulah. Jangan tanya kenapa! Jaman tidak segampang dulu ketika Ayah bertemu Ibu. Atau pria-pria itu memang tidak sepemberani Ayah saja. Mereka penakut.

Terima kasih untuk punya gen dari Hasibuan. Terima kasih untuk memberi nama yang begitu kuat kepada saya Grace Rouli Maharani. Terima kasih meluruhkan ketulusan. Terima kasih sudah mengajarkan kalau di dalam hidup, ketika jatuh tak lupa untuk berdiri lagi.

Ah, yang sehat ya Ayah. Kita belum ke bulan, berdua saja! Kita juga belum tour ke Israel, sekeluarga! Selamat ulang tahun Jannen Henry Kiraman Hasibuan. Lima puluh tiga tahun itu sexy!

Cium.



KPPN MANNA, 18 Maret 2013. 09:18

*sedang ingin memanggilnya, Ayah. Padahal biasanya Bapak :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Maret 18, 2013 0 komentar
Label: Keluarga, kicauan pagi

Rabu, 19 Desember 2012

It's Called "Going-Home-Sick"...

Dari judulnya aja udah aneh. yang ada juga homesick, kangen rumah.. Lah ini malah going-home-sick, istilah yang saya ciptakan setiap kali mo mudik..hihihiii.. Maksa? biarin…

Apa itu going-home-sick? Menurut kamus pribadi dari otak kanan saya bagian agak belakang, going home sick ini sejenis sindrom yang menghinggapi saya setiap kali mau mudik. Kenapa saya tidak menyebut pulang? Karena biasanya yang saya sebut pulang adalah perjalanan dari kantor selama 5 menit ke arah perkotaan untuk menuju ke rumah mungil di lingkungan sepi dengan kamar yang didalamnya cuma berisi kasur dan lemari dengan dinding putih.. halahh.. Nah, klo ritual yang saya sebut going-home-sick ini, perjalanan yang ditempuh dengan 3 jam perjalanan darat yang memabukkan, plus 2 kali naik pesawat, dengan rute bks-cgk-mes, menuju suatu rumah yang dihuni oleh kedua orang tua tercinta, seorang kakek, tante, dan 3 orang adik. Gejala going home sick ini yakni gelisah, pengen ke kamar kecil terus menerus, suka melamun dan bengong-bengong, serta panas dingin.. hihihihiii. boong, gak separah itu kok..

Tapi memang sih, tiap kali saya mau pulang, saya jadi merasakan hal - hal aneh yang membuat semuanya jadi ga nyaman. Bukannya saya tak mau pulang, uuhh..saya ingin sekali pulang, tapi yah itu..ada sedikit rasa ga nyaman, jantung berdebar kencang, dan gelisah, ahh mungkin saking membuncahnya kebahagiaan di dada ini.. #ngiiiiiiiiik

Tiap kali pulang ke rumah orang tua, saya seakan-akan harus berperan menjadi seseorang yang berbeda dari biasanya, gak sepenuhnya karakter baru sih, tapi ada beberapa hal dari kebiasaan saya yang harus dipangkas, hihihi..setidaknya dikontrol untuk tidak terlalu liar. Biarpun orang tua saya itu termasuk orang tua yang demokratis dan tidak pernah memaksakan kehendak ke anak2nya, tp beliau juga masi sangat "kejawen".  (Eh bener ga sih ini saya make istilah kejawen?)
à masih sangat memperhitungkan norma2 yang berlaku di masyarakat, masih mempedulikan omongan tetangga serta saudara2 sekitar. Dan yang paling parah, masih menganggap saya ini anak kecil, huhuhuuu.. Maklum juga sih, secara saya tidak tumbuh bersama mereka. Lulus SMP, saya sudah mendapat hak sepenuhnya untuk mau memutuskan kemana selanjutnya, dan saya memilih untuk sekolah hengkang dari Medan, hingga saat ini bekerja pun diluar kampung halaman tercinta.  Jadi, kemungkinan memori orang tua saya terputus sampai disitu, dan tak pernah menyangka kalo waktu itu terbang, dan saat itu sudah  lebih dari 8 tahun lalu..Fuuuihhh...

Dan selama 8 tahun itu, tentu saja ortu tak selalu menyaksikan apa saja yang sudah terjadi dengan saya. Melewatkan kelulusan demi kelulusan saya, melewatkan hari pertama saya kerja, melewatkan makan2 saat saya ulang tahun, melewatkan ekspresi saya saat mendapatkan SK mutasi di hari ulang tahun, melewatkan saat saya jatuh cinta, dan melewatkan kebandelan2 saya yang laen. . Tak pernah juga melihat saya pulang pagi setelah capek 'beredar' saat kuliah dulu.. Hihihihiii..

Saya dan kedua orang tua memang seakan hidup dalam dua atmosfir yang berbeda. Jadi ketika saya pulang ke mereka, saya harus sedikit menyetel gaya hidup saya untuk disesuaikan sama mereka.Saya yang terbiasa memutuskan segala sesuatu sesuai dengan apa yang ada di kepala saya tanpa ada yang protes, saya yang terbiasa untuk mandiri, ga begitu peduli hari ini sudah makan apa belum dan saya yang terbiasa untuk fight by my self, sekarang musti mulai sedikit mengontrol semua ego untuk melakukan hal-hal itu, dan menjadi anak baik - baik. Ahh, saya sebenarnya memang anak baik kok..ciyuuuzzz..hhiihihi.. Sarapan bareng ma kluarga, klo pergi harus izin orang dirumah dulu, slalu ada saja yang menyuruh saya makan, sehingga program diet saya kacau balau, dan tidak boleh pulang lebih dari jam 8 malam.. Keberatan? Kadang-kadang. Tapi sepertinya saya lebih banyak menikmati semua itu kok. .
Hidup sendiri itu tantangan, tapi memiliki orang-orang yang berada di sekeliling kita dan menghawatirkan keberadaan kita itu lebih menyenangkan.

Ya, seperti yang bapak saya pernah bilang, "setua apapun kamu, sesukses dan semandiri apapun, kamu tetap anak kami, dan itu tak bisa berubah."
Huhuuhuhu, terharu...
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Desember 19, 2012 0 komentar
Label: Keluarga, kicauan pagi, semacam curhat

Kamis, 26 April 2012

Home = Heaven in the world


Lama ga ngeblog bikin gue berhasrat tingkat tinggi buat nulis tentang indahnya surga dunia..Surga dunia?? What the maksud??
Oke, gue mulai dengan memperkenalkan diri gue terlebih dulu. Gue Grace, (sekarang udah resmi jadi) PNS Kemenkeu, dilahirkan dan dibesarkan di Medan, tiga tahun sekolah di Sibolga, tiga tahun kuliah di Jakarta, hampir 6 bulan bekerja di Jakarta, dan nanti bakalan ga tau ditempatkan di kota antah berantah mana lagi di belahan dunia ini. Dan ketika gue mempublish tulisan ini, ternyata gue udah ditempatkan di Manna, sebuah kota kecil di Bengkulu Selatan, di propinsi Bengkulu, yg di tulisan sebelumnya udah gue bilang kalau bentuknya seperti putri tertidur, demi mengemban tugas mulia bagi bangsa dan negara.
Wow, selama 22 tahun hidup, ternyata gue udah pernah berdomisili cukup lama di empat kota yang berbeda yaa..hehee.. And well, ini adalah tahun kesekian gue hidup jauh dari keluarga, dari kedua orang tua, dan ketiga adik gue. Dan ini pun merupakan tahun kesekian perjuangan gue ngelewatin hal yang sama sekali belum pernah gue alami sebelumnya. Ada begitu banyak sensasi yang gue rasakan..hihiii.. Gue juga ngedapetin saat-saat dimana gue bisa jadi seorang yang sangat jauh berbeda dari gue yang sebelumnya. Oke, sekali lagi gue tekankan, "sebelumnya" disini berarti saat-saat di mana gue masih hidup dan tinggal bersama keluarga..*wink-wink*

Gue udah lama memimpikan bakalan kuliah di Universitas Indonesia sejak SD, yang bahkan mau ngambil jurusan apa aja gue belum kepikiran. Gue ga tahu dari mana dapet ilham kayak gitu padahal masih anak ingusan banget, tp yang gue tau pokoknya gimana pun juga, gue harus kuliah di UI, titik!!*ngotot banget ya jadi anak-anak..hehe*

Dan karena alasan itu jugalah akhirnya gue mencari info tentang SMA yang paling bagus, yang bisa bikin gue buat masuk ke UI. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Gue dapat informasi dari kakak kelas tentang SMA Matauli yang akhirnya memang menjadi sekolah gue. Awalnya sih, gue ga percaya bakal bisa masuk sana, karna ada beberapa persyaratan yang kalau dipikir secara logika, gue gak mungkin lulus. Lagipula jujur aja, gue juga gak begitu tertarik dengan sekolahnya. Gue hanya tertarik sama seragamnya dan asramanya. Dan sekali lagi gue tekankan, gue milih itu sekolah karena cukup menjanjikan membawa gue ke UI. 
Tiga tahun harus berpisah dengan keluarga dan tinggal di asrama, di awalnya memang terasa berat. Bagi gue, hal ini merupakan keputusan besar yang mesti gue ambil sepanjang hidup. Sekitar Juni 2004, saat usia gue baru menginjak 15 tahun, usia yg terbilang masih belia buat seorang cewe manja kayak gue pisah dari keluarga. Tapi, tentu saja, gue tetap bahagia!
Ditempa dengan tingginya tingkat senioritas di asrama menjadikan gue perlahan-lahan lebih mandiri dan lebih berhati baja. Yaa well, ga boong jg sih klo gue jg masih sering nangis.  Jauh dari rumah itu emang campur aduk banget lah perasaannya! Gue dapetin bayak hal di Matauli ini. Memakai istilah gue di butah Angkatan XI, kalau di Matauli gue dapet emas, di asrama gue dapet permata. Ah Matauli, terlalu banyak kisah buat diceritakan. Mungkin lain kali gue emg harus  nyisihin waktu buat nulis tentang sebagian dari hidup gue yang itu.. :)

Dan lagi-lagi ketika masuk kuliah, gue kembali tinggal jauh dari keluarga. Impian gue kuliah di UI memang kandas, tapi tempat gue berkuliah juga tidak berada di kota di mana gue berasal. Ya, gue adalah alumni Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jakarta. Berkuliah disini adalah suatu anugerah Tuhan semata dan gue sangat bersyukur. Namun, di samping itu, gue juga merasa sangat sedih, selain karena kegagalan masuk UI yg telah diidam-idamkan sejak kecil, tiba-tiba gue sadar kalo hidup di Jakarta tidaklah mudah, gue harus kembali lagi beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang yg akan sangat berbeda seperti di sekolah dulu. Puji Tuhan, Allah menempatkan gue disana gak sendirian, Dia mempertemukan gue dengan keluarga baru di PMK STAN. Ah, lagi-lagi, tulisan ini akan menjadi begitu panjang kalo gue jg harus bercerita tentang masa-masa kuliah. Mungkin, teman-teman yang membaca tulisan ini bisa bantu gue kali ya bikin tulisan lain tentang dunia mahasiswa. :)

Lulus kuliah ternyata tidak membawa gue kembali ke kampung halaman. Ketika akhirnya surat sakti bernama SK Penempatan keluar, yang menyatakan gue bertugas di KPPN Manna, daerah yg lebih jauh lagi dari 2 tempat gue sebelumnya, tiba2 bikin gue menyadari bahwa gue harus meninggalkan segala zona nyaman gue, keluarga, dan sahabat-sahabat gue, serta harus memulai segalanya lagi dari awal. Ya, kayak membangun kembali rumah gue. Kayak mengulang kembali pencarian seumur hidup gue dari awal terutama dalam hal persahabatan dan komunitas. Ternyata merantau 6 tahun belum cukup bikin gue semakin tangguh menghadapi tantangan hidup.. *ceileeeee*
Gue mulai panik, pikiran-pikiran ketakutan dan kecemasan mulai berkecamuk. Mungkin ga ya akan ada orang yg setipe dengan gue, nerima dan memahami gue, mungkin ga ya gue bisa menjadi terang-Nya disana nanti, mungkin ga ya gue bisa memberikan kontribusi di kantor, dan begitu banyak “mungkin ga ya” yg lain. Well, sampai sekarang kadang-kadang masih saja ngerasa gitu.

Beberapa waktu yang lalu, gue sempat jatuh sakit. Mungkin sakit types adalah sakit yg lumrah di kalangan anak kos. Anehnya, bertahun2 hidup ngekos, baru kali ini gue jatuh sakit, dan berhasil mendatangkan mama ke sini. Begitu tidurnya dikelonin, tidak lama kesehatan gue pulih. Mungkin efek homesick kali ye..
Sepulangnya mama, rutinitas hidup gue kembali seperti biasa. Ketika mama nelpon, seperti biasa orang2 rumah itu pada gantian ngomong, dengan celotehannya masing. Mama juga suka cerita perkembangan terbaru dari ketiga adik gue dengan keunikannya masing2. Gue senang, tapi di lain sisi, gue tiba-tiba merasa kesepian dan sendirian. Gue ga berada di sana bersama mereka. Gue ga bisa ngobrol-ngobrol dengan mereka. Dan tiba2 lagi, gue teringat, udah berapa banyak ya momen yg gue lewatkan dengan mereka selama 7 tahun ini? Well, mungkin gue keliatan berlebihan, kedengarannya terlalu membesar-besarkan sesuatu yg mungkin bagi kalian bukan masalah besar. Apapun pendapat kalian, tapi ya inilah yg emang gue rasain skrg.

Dulu aja ya, gue selalu nganggap bapak itu orang yang nyebelin, sok gaul, sok akrab ama temen-temen gue dari dulu, kadangkala ga menyenangkan, suka naik darah, sukanya nonton olahraga atau berita sambil berkomentar itu2 aja, yg menurut gue (saat itu) membosankan dan ga meaning.
Gue selalu aja kesal tiap kali mama teriak-teriak bangunin gue pagi-pagi untuk beragkat sekolah. Menurut gue (waktu itu), mama adalah ibu yg paling ga pengertian sedunia. Gue emang termasuk dalam golongan anak yang pembangkang dan keras kepala. Saking kerasnya, gue sampe pernah ga tegur sapa ama bapak berminggu-minggu.. *durhaka banget jd anak.. hikkss..*  Apa yg ada dalam pikiran gue mesti terjadi sesuai keinginan gue, ga peduli gimana pun caranya, sekalipun ngorbanin adik2 gue.. hehee.. Mungkin ini yg menjadi salah satu alasan  kenapa adik2 gue bahagia banget gitu tau gue mesti merantau ke kota lain untuk belajar. Mungkin dalam pikiran mereka, akhirnya salah satu doa mereka terkabul juga, si diktator ini bakal segera meninggalkan rumah ini. Well, jelas bangetlah ketika ga satupun dari mereka yg nangis karna sedih waktu gue meninggalkan rumah, yaa sama kayak hari-hari biasa aja.. sssttt, tp sekarang mereka jd sering nanyain kpn gue pulang loh.. mungkin bener kata pepatah, dekat berantem, jauh rindu.. *emang ada ya pepatah kyk gitu? Heheee..*

Sekarang gue berada disini.. di dalam kamar di rumah dinas yang (menurut gue) cukup nyaman. Namun, dalam tiap malam sebelum gue tidur, entah kenapa gue selalu ngerasa kesepian. Wajar sih karna emg gue jg lg sendirian, dan kota ini juga amat terangat sepi nian. Hehe.. Kembali deh gue teringat, dulu gue berbagi kamar dengan adik cewek gue. Kalo gue lagi bete, gue akan nyuruh dia sesuka hati keluar dari kamar hanya karna gue pengen sendiri. Dan sekarang gitu ngeliat keadaan gue ini, entah kenapa gue pengen bobo ditemani ketiga adik gue. Satu kasur, satu ruangan, satu udara. Ahhh, ternyata  sendiri itu ga bikin kita jd lebih baik. Dan ternyataaaaa, gueee kangen banget ama mereka.. L

Beberapa minggu terakhir ini, gue selalu bangun kesiangan. Entah kenapa, gue merindukan suara teriakan mama di pagi hari, rasanya gue bener2 kehilangan itu. Mungkin, gue bakal pura-pura susah bangun Cuma buat diteriakin kayak gitu.. hehe.. lucu sih ya.. Dulu, gue mikir dengan tinggal jauh dari rumah bakal nyelamatin hidup dari teriakan-teriakan pagi hari yg menjengkelkan. Dan lagi2 gue salah. Ternyata itulah yang menyempurnakan hidup gue. Oya, satu lagi, seumur-umur dari dulu, gue ga pernah muji masakan mama, karna ya emang masakannya di rumah ya itu-itu aja, antara sayur bening, ikan, tahu/tempe, sop dan soto bening. Ngebosenin banget emang. Mama emang tipikal ibu yang memperhatikan gizi dan nutrisi yang terkandung dalam tiap makanan yg kami konsumsi di rumah, makanya masaknya juga itu2 aja. Pokoknya, ga boleh santan, minyak jgn banyak, jgn berlemak, ga pake penyedap/ajinomoto, ga boleh indomie, jangan yg berlemak. *maklumlah, orang medis..hehe*
Oke, dan lucunya, gue sekarang malah ingin kembali makan yg begitu. Bersih, terpercaya, dan dibikin (pake cinta) ama mama sendiri. Berat badan gue (mungkin) terjaga. Kesehatan gue jg terjaga, ga gampang sakit kayak sekarang ini. Di sini, seringnya ga sempat masak, akhirnya makan terbang. Di warteg, di mall, di kantin, di pinggir jalan, yg kebersihan dan nilai gizinya Cuma si pemasak dan Tuhan lah yang tau.
Well, tentang bapak. Gue selalu mengidolakan karakter dia yg ‘friendly’ banget. Gaya bicara dia yg humoris namun terkadang terkesan jayus malah bikin kangen. Dulu gue berpikir apa yang bapak katakan dan nasehatkan pada kami terlalu berlebihan, harus ginilah, harus gitulah, ga boleh inilah, ga boleh itulah, tak jarang disampaikan dengan nada emosi malah. Wow, dan ternyata apa yg gue alami sejauh ini emang ternyata udh diprediksi bapak bertahun-tahun lalu. Gue lupa kalo dulu bapak telah melewati masa2 yg telah, sedang, dan mungkin akan gue alami ke depannya. Wadduh, bisa-bisanya ya gue lupa. Tanpa pelajaran dan nilai hidup dari mereka, mungkin gue ga tau bakal jd org kayak apa.

Jadi sebenernya inti dari apa yang mau gue sampein disini ya kadang2 kita lupa bersyukur atas apa yg kita miliki saat ini. Kadang kita lupa menghargai siapa yg kita bisa liat, kita sentuh, kita peluk, kita cium, dan kita ajak ngomong. Padahal sebenernya mereka ada di depan mata kita loh, di samping kita, baring2 bersama kita, atau sekedar nonton tivi bareng..
Hhuaaaaaa..ngomongin ini bikin gue mikir andai aja gue tau kalo gue bakal kangen banget ama ortu dan adek2 gue kayak gini ni, mungkin gue bakal lebih ‘MEMANFAATKAN MOMEN-MOMEN’ bareng mereka saat itu. Heheheee..
Tapi, kayaknya dengan berada jauh dari mereka kyk gini, gue diberi pelajaran tentang apa arti keluarga dan seberapa besar peran keluarga dalam hidup gue. Dulu gue ga bisa bener-bener ngejawab pertanyaan arti dan peran keluarga dengan serius. And now, gue bisa! They mean heaven in the world for me.. J
Walaupun saat ini jaraklah yang misahin gue dengan kedua orangtua dan ketiga adik gue, tiap kali gue kangen mereka, gue selalu berdoa agar mereka selalu berada dalam lindungan-Nya.
Karena gue yakin, mereka hanya sejauh doa.
:))


From Manna, with love..
Grace
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, April 26, 2012 0 komentar
Label: Keluarga

Senin, 07 November 2011

And the reason is YOU..

Kata orang, "Everything happens for a reason".

Pagi tadi, saya bangun dengan ogah2an, sekujur tubuh terasa meriang, tapi waktu telah cukup siang bagi seorang wanita yang harus berangkat ke kantor.Saya beranjak dari tempat tidur dan langsung berseru, "Kok cepet banget sih?"
Iya, sejak kemarin saya berharap sehari bisa lebih dari 24 jam. kenapa? Karena saya belum rela meninggalkan Jakarta dan kembali ke Manna. Sama sekali belum rela.

Sepanjang hari di kantor ini, saya lebih banyak diam dan merenung. Berkali-kali mempertanyakan lagi, "Kenapa saya harus balik ke sini?" Kenapa harus sekarang?". Jujurly speaking, hati ini serasa berpasir. Masih belum percaya bahwa saya sudah di sini lagi. Segala apa dan siapa yang saya ingini tak bisa saya temui disni.
Sedih sekali rasanya begitu sadar orang2 terbaik saya ada sangat jauh dari sini.

Ketika mulai mengobrak abrik ransel bawaan saya kemarin, saya sadar ada barang yang hilang. Ya. HARDISK! Barang pertama yang saya beli dengan penghasilan saya sendiri. Kehilangan barang itu menambah kegundahan saya. Ditambah demam dan luka di bagian wajah dan tangan bagian kiri yang saya pun tak tahu kapan dan bagaimana mulanya.
Ya, Tuhan, saya benar-benar ingin pulang.

Mungkin hal2 tersebut tampaknya cuma masalah simple bagi seseorang yang terbiasa hidup di tanah perantauan seperti saya. Tapi entah kenapa, ditempa hal2 di atas, hari ini saya berpikir, "Tuhan, saya sebenernya takut putus asa. Tapi.."


Dan, Tuhan memang benar2 Maha kreatif,  kejutan-kejutannya selalu menakjubkan. Saya bersyukur melihat celah2 yang menakjubkan itu.
Well, hari ini, DIA lagi dan lagi menunjukkan kepada saya betapa saya org yang diberkati. Sejauh-jauhnya jarak yang memisahkan, sesempit-sempitnya kesempatan yang ada, secengeng-cengengnya saya, ada orang-orang terbaik yang selalu tulus menyiapkan perhatian dan hatinya untuk saya. Bukankah itu luar biasa?

Terimakasih buat kalian yang datang lewat telepon, SMS, BBM, Twitter, Facebook, walaupun sekedar menanyakan kabar atau ngobrol ngalur ngidul. Terimakasih buat setiap kenangan yang ada lewat foto demi foto, dan tiap semangat yang kalian tularkan dari sana. Terimakasih juga buat orang-orang disekitar saya saat ini yang begitu teramat perhatian. :)


Semoga catatan ini bisa menjadi bukti akal sehat dan perasaan saya masih ada. Ya, mereka harus tetap ada, keberadaan kalian adalah alasannya.


Manna, 18.32 WIB
Di tengah migrain yang pelan-pelan terusir.
:)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, November 07, 2011 0 komentar
Label: Keluarga, me and my GOD, semacam curhat, untuk sahabat
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates