skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label me and my GOD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me and my GOD. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Desember 2013

Pelajaran dari pembuangan Babel :)

4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan ujian di Kelas Padang Gurun. Bahkan beberapa waktu belakangan saya berpikir kalau-kalau saya seperti bangsa Israel yang sedang dalam masa pembuangan dalam kitab Yeremia. Keadaan yang menghimpit sebagian besar kebahagiaan saya, tanpa orang-orang terdekat. Ketika apa yang kau ingini tak semulus jalan orang-orang. Dan ketika saya merasa terdampar, sampailah saya kepada suatu perenungan...

Ketika kau merasa Allah membuangmu...

Pernah baca kisah bangsa Israel pada masa pembuangan di Babel?

Yeremia telah menubuatkan pembuangan di Babel selama 70 tahun. Pesan Allah kepada Yeremia juga cukup jelas. Orang Israel akan berada dalam masa pembuangan dan penguasaan Babel. Namun terdapat hal yang penting untuk dicermati di mana Allah memerintahkan mereka yang tidak ikut dalam pembuangan agar tetap menundukkan diri kepada pemerintahan raja Babel, Nebukadnezar. Sementara kepada mereka yang terangkut dalam pembuangan di Babel, Allah berpesan agar mereka hidup sebagaimana mestinya: kawin, berumah tangga, bekerja, beranak cucu.

Dan lebih dari itu, Allah menyuruh mereka bekerja mengupayakan kesejahteraan Babel! Wow!! Dalam Yeremia 29:7 tertulis, “Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan: sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”
Kelihatan seperti paradoks bukan? Dimana umat Israel tetap disuruh berdoa, berharap, dan bekerja di tengah masa perbudakan dan kehancuran.

Mengapa??? It’s one of million dollar question!!

Allah tidak pernah membiarkan bangsa Israel dalam kondisi tanpa petunjuk. Ketika kembali saya membaca Yeremia 29:10-11, saya sadar Allah sedang memberikan penjelasan yang amat meneguhkan kepada bangsa Israel. “Sebab beginilah firman Tuhan: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku, mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Dalam kehidupan, Allah mungkin menempatkan kita pada situasi dan kondisi yang tidak mengenakkan. Kita seperti ingin lari. Bukan seperti, malah memang benar-benar ingin lari. Kita mengupayakan segala cara untuk berusaha keluar dari situasi ataupun tempat tersebut. Namun ingatlah bahwa tidak kebetulan Allah “membuang” kita ke tempat itu, ke dalam situasi seperti itu. Mungkin terlihat pahit, terlihat tidak menyenangkan, tapi  masih ingat kan pesan Allah dalam Yeremia tadi? Usahakanlah kesejahteraan di sana, berdoalah untuk tempat dan situasi yang tidak menyenangkan itu. Buatlah perubahan!

Untuk kasus Israel, pelajaran menyakitkan itu mungkin dimaksudkan agar mereka bertobat dari segala kejahatan mereka yang mengerikan: agar mereka menyadari kedaulatan Allah atas sejarah kehidupan bangsa mereka: serta segudang alasan lain yang banyak dikaji oleh para ahli Perjanjian Lama. Hanya saja apapun alasan Allah, ada satu hal yang pasti,  rancangan Allah jauh melebihi rancangan kita. Allah tidak sedang coba coba ketika membuang Israel ke Babel. Allah punya maksud mulia yang mungkin sulit dipahami oleh nalar umat pada masa itu.
Demikian pula dalam kehidupan kita, Allah tidak sedang bermain dadu ketika Dia mengizinkan kondisi tak enak itu terjadi. Allah bukannya tak punya rencana ketika membuangmu ke suatu tempat, ke dalam sebuah situasi, ke dalam sebuah kondisi. Mungkin Allah sedang mengajar kita sesuatu, atau Allah sedang membentuk karakter kita, atau Allah ingin kita melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, berdoalah: agar kita menjadi peka dan mengerti apakah yang menjadi kehendak Allah. Sampai Allah sendiri yang akan membawa dan memanggil kita dari tempat itu. Hingga pengalaman penyertaan Allah dalam masa-masa penantian itu menjadi pelajaran dan pengertian bagi kita untuk terus menundukkan diri dalam kedaulatan Allah.

Ketika menulis catatan ini, aku sendiri pun sedang bergumul dengan satu perasaaan “terdampar” dalam sebuah tempat yang sangat jauh dari yang aku idam-idamkan, dalam pekerjaan yang tak lagi memikat hatiku, dan seperti Allah tidak lagi sedang mengantarku ke Tanah Kanaan. Didera oleh rasa bosan ini, aku merasa Allah sedang membuangku. Aku merasa ‘terpenjara’ sehingga tak mampu memberi yang terbaik dalam memaksimalkan seluruh talentaku. Aku ingin segera terbebas dari tempat ini.
Pertemuan dengan pasal ini mengubah pandanganku. Aku menyadari bahwa keberadaanku dalam tempat pembuangan ini berada dalam kerangka kedaulatan Allah. Bagianku adalah mengerjakan dengan setia dan mengupayakan ‘kesejahteraan’ di sana. Sampai Allah sendiri yang membawaku keluar.
Ah, pemahaman ini sungguh melegakanku. Bahwa di tengah tengah masa yang tidak mengenakkan ini, Allah berdaulat penuh. Dan penutup Yeremia 29 sungguh meneguhkanku secara pribadi. Ia berujar: ”Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;  apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kucerai-beraikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” (Yeremia 29:12-14)

Selamat malam. Tuhan Yesus memberkati.. :’)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Desember 09, 2013 0 komentar
Label: me and my GOD, semacam curhat

Senin, 01 April 2013

Sudah Tiga Bulan...

Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi 2013 ini rasanya terlalu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya merayakan malam tahun baru dengan keluarga besar di Medan. Sekarang Maret sudah habis, dan memasuki bulan baru. 1 April 2013. Selamat April Mop! *yang artinya hari ini gajian..horeeee..* Ya, kalimat itu terdengar klise dan terlalu cepat ketika diucapkan di bulan-bulan seperti ini, yang pertengahan tahun saja belum masuk. Tapi bagi saya, ada beberapa alasan yang membuat saya mengucapkan kalimat di atas.


Teman sekaligus saudara saya di DJPB, KPPN Pangkalan Bun, Herbert, menyatakan 2013 ini tahun yang penuh masalah buat dia, padahal baru berjalan beberapa bulan saja. Saya, yang mendengar juga merasakan hal yang sama sepertinya. Tapi kalau memang harus, maka kata yang saya pilih untuk menggambarkan 2013 adalah mengagumkan. Atau agar lebih elegan, tahun ini saya gambarkan dengan satu kata dalam bahasa Inggris: outstanding. Saya tidak mau ikut-ikutan, tapi saya juga tidak mau memendam rasa syukur buat 2013 yang sedang berjalan ini. Banyak hal yang mengagumkan saya sepanjang tiga bulan ini. Meskipun kekaguman itu timbul setelah hati yang sakit, air mata yang berember-ember, mata yang bengkak di pagi hari (karena tangis di tengah malam), dan kesesakan lainnya.


Saya ingat, dulu saya pernah bilang hidup saya kok rasanya enak-enak saja. Meskipun sempat merasa minder, karena tidak punya pacar, karena saya ditempatkan di daerah yang jauh dari keramaian, jauh dari peradaban, dan jauh dari komunitas yang membangun, tapi saya punya orang-orang terbaik di sekitar saya. Bagaimana tidak? Keluarga yang sepenuhnya mendukung, suasana dan rekan sekerja di kantor yang kondusif dan hangat, teman-teman yang selalu ada buat saya, baik yang biasa saya hubungi lewat dunia maya, atau travelling bareng, bahkan yang hanya sekedar hahahihi bareng, dan semua keenakan lainnya. Jadi saya minta Tuhan memberi kejutan. Dan hebatnya Tuhan jawab di tahun ini juga. Atau mata saya saja yang baru terbuka. Entahlah, tapi saya kemudian sadar, bahwa hidup saya jauh dari “enak-enak saja”. Bayangkan, 2013 saya mulai dengan bedrest total selama dua bulan di rumah akibat patah tulang panggul karena jatuh dari motor. Di rumah selama dua bulan membawa saya kepada perenungan ini itu, *merenungkan uang saya yang sudah habis kemana saja ya… Ditambah lagi tepat di hari Valentine, 14 Februari 2013 kemarin, tragedi besar-besaran terjadi. Perasaan yang sama yang saya rasakan ketika mendengar pengumuman SPMB lebih dari lima tahun lalu. Perasaan yang sama ketika orang-orang terdekat saya mengalami kebahagiaan, tapi saya justru sebaliknya. Ketakutan ditinggal teman terdekat di daerah terpencil benar-benar mencekam saya. Perasaan malu yang teramat sangat seakan menerkam kenyamanan saya. Kekhawatiran akan masa depan kembali muncul mengganggu ketenangan jiwa dan pikiran saya. 
Untuk beberapa saat, saya sempat menjadi seseorang yang anti-sosial, sering merenung dan tersedu sendiri. Ah, sudahlah tidak usah dibahas ya. Saya memang harus siap mental untuk apapun yang terjadi. Dan terus berdoa. Ya, sesuatu yang seringnya saya tinggalkan: bersiap dan berdoa. Berita itu tidak mengharuskan saya berdoa tapi membawa saya kembali pada ketenangan jiwa yang dulu selalu saya alami ketika berdoa dan membuat saya siap untuk menghadapi apapun. Toh, Tuhan mendengar doa saya dan sudah merancang yang terbaik bagi hidup saya.


Ketika kembali ke perantauan, ketika saya ingin memulai kembali semuanya dari awal, yang saya dapati malah konflik dengan teman serumah saya (sekarang tidak lagi serumah). Teman seangkatan saya, yang seharusnya bisa menjadi sahabat sekaligus saudara dikarenakan kami hanya berdua perempuan yang penempatan di sini. Entahlah, menurut saya dia masih belum bisa saya kategorikan sebagai seorang sahabat (apalagi saudara). Maaf terkesan kasar. Meski tak penting, tapi itu benar-benar membuka mata saya untuk belajar merespon tiap orang. Dan saya seperti ditampar juga, karena ternyata pengendalian diri saya masih jauh dari kategori baik. Tidak semua orang dapat menerima saya yang apa adanya. Tidak semua orang juga dapat saya paksakan untuk cocok dengan saya. Yang saya syukuri, saya jadi tahu siapa teman saya sebenarnya.

Mengapa saya merasa ditampar dengan adanya masalah ini? Begini, saya selalu merasa saya tahu benar bagaimana memilih teman dan tahu bagaimana menjadi teman yang baik. Dan selama sekolah dan kuliah, bahkan sejak kecil, saya tidak punya masalah yang cukup besar dalam hal relasi ini. Tapi Tuhan goyangkan zona nyaman saya, dan inilah saya sekarang, mungkin jadi satu-satunya orang yang pernah diteriaki, “Kau bukan temanku lagi!” dari seseorang yang selama ini saya anggap teman yang cukup baik untuk jadi teman.

Awalnya saya menyangkal dan (setelah terisak-isak) malah mengeluarkan pernyataan, “Oke, itu kerugian dia kalau tak mau lagi berteman denganku.” Ketika saya pikir masalah itu sangat sepele, tapi mungkin karena respon saya yang salah dari awal, hingga kini pun antara saya dan dia masih terjadi perang dingin. Saya belum punya mental yang cukup kuat untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Rasa sakit dan pahit itu masih ada di dalam sini *nunjuk ke hati dan merembes ke mulut*. Ah, padahal mulai bulan ini, kami resmi akan menjadi rekan kerja di seksi yang sama. Saya tidak tahu sudah sejauh apa orang di kantor tahu masalah ini dari dia, saya juga tidak tahu dia dan “pendukungnya” bilang apa tentang saya. Yang pasti, saya tidak peduli, sebab bukan mereka yang mendefenisikan saya itu seperti apa. Semoga Tuhan berkenan di 2013 yang belum berakhir ini untuk menjawab pergumulan saya tentang relasi yang satu ini dan terus menajamkan saya.

Pelajaran moral: saya semakin bersyukur untuk sahabat-sahabat sejati, yang saya sesungguhnya tidak tahu apakah mereka akan mengecewakan saya suatu waktu atau tidak. Tapi yang pasti mereka telah turut menorehkan sejarah dalam hidup saya, berperan besar membuat saya menjadi seseorang seperti saya sekarang. Dan bagaimana saya tidak beryukur untuk itu? Saya juga jadi realistis bahwa teman juga bukan sesuatu yang abadi. Dan, meski tidak ada istilah mantan teman, tapi bukan hal yang mustahil untuk bilang, “Oh iya, dia temanku dulu.” *Englishnya, “somebody that I used to know”..okesipp! Pinter…


Satu hal yang bisa jadi “pengalihan isu” dari kekecewaan demi kekecewaan ini mungkin adanya issue beasiswa internal S1 dan Program Pertukaran Pemuda Antar Negara. Tapi lagi-lagi sangat disayangkan, Surat Edaran dari Kantor Pusat yang keluar beberapa waktu lalu seolah “melarang” angkatan saya untuk ikut seleksi beasiswa internal, dengan adanya syarat khusus minimal 2D (yang baru dipersyaratkan tahun ini saja). Lalu apa respon saya? Mungkin sama seperti respon sebagian besar teman-teman seperjuangan seangkatan saya. Marah? Sedih? Kecewa? Jelas! Tapi nasi sudah menjadi bubur, pilihannya sekarang hanya tinggal membuat bubur ayam yang lezat. Di saat saya benar-benar merasa “down”, ingin segera melarikan diri dari kantor ini, dari daerah ini, dari rutinitas yang membosankan, dan dari orang-orang yang memuakkan di kantor, Tuhan malah seolah menyuruh saya untuk tetap bertahan di sana. Ya, saya menyebutnya Kelas Padang Gurun. Saya anggap ini jadi ajang pembentukan karakter dan pengungkapan karakter sebenarnya dari diri saya. Saya bersyukur kepada Tuhan karena melalui ini, saya bisa melatih pikiran saya untuk tetap positif dan satu kalimat yang saya imani dan amini sesaat sebelum menulis tulisan ini adalah: “If God lead you to it, He will lead you through it.” Maka, terpujilah Tuhan. Itu semua karena Engkau.

Ah, iya, Pendaftaran dan seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara perwakilan Provinsi Bengkulu sebentar lagi. Saya sangat tertarik dengan program yang diadakan Kemenpora ini. Apapun yang terjadi saya akan berjuang semaksimal mungkin untuk bisa ikut serta. Sekali lagi, “If God lead you to it, He will lead you through it.”


Oh, dan lagi, dari semua itu yang paling saya syukuri adalah saya tidak sendirian merayakan sukacita Paskah kemarin. Betapa saya bersyukur karena di masa-masa kelas padang gurun inilah saya menemukan komunitas baru di kota ini. Dalam hal mencari-menemukan komunitas dan pelayanan juga jadi masa pembelajaran yang berharga. Setelah sempat vacuum dalam pelayanan dan belum menemukan komunitas, sekarang saya sudah kembali, Tuhan kembali tuntun saya ke dunia pelayanan anak Sekolah Minggu di Gekisia Efata Manna. Tuhan juga pertemukan saya dengan pemuda-pemudi yang luar biasa, yang menyambut saya yang masih baru bergabung ini, dengan begitu hangatnya dalam persekutuan mereka. Tiga hari kemarin (29-31 Maret 2013) saya merasakan sukacita yang luar biasa dalam Tuhan bisa berkumpul bersama mereka. Saya sadar betul bahwa kami, saya dan mereka masih butuh banyak belajar, tentang firman Tuhan, tentang kasih-Nya, tentang bagaimana menjadi pemuda yang bertumbuh dalam iman dan karakter, saling menajamkan, saling membangun, saling mendukung, dan saling mendoakan. Komunitas kecil di kota yang kecil tapi berdampak besar. Doa saya, semoga saya bisa menjadi berkat bagi gereja dan daerah ini, Tuhan.



Saya tidak tahu apakah hingga akhir tahun 2013 Tuhan masih mengijinkan saya berada di sini, di kota ini, di kantor ini, dan di gereja ini. Apakah saya masih bersama dengan orang-orang yang sama, atau ada banyak orang lain yang datang silih berganti, dan menorehkan bekas di hati saya. Apakah saya masih mendampingi dan mengajari anak-anak Sekolah Minggu atau tidak. Apakah saya akhirnya punya pacar, sehingga tahun depan tidak mendapat gelar jomblo perak.. Apakah saya tiba-tiba mendapat SK Mutasi.. Ah, terlalu banyak rasanya yang tidak saya ketahui. Yang saya tahu, rancangan Tuhan itu pasti. Iya dan amin. Tahun 2013 masih panjang. dan di hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun-tahun mendatang, saya selalu punya Bapa yang sempurna, yang tak pernah meninggalkan saya, yang memelihara saya, dan yang abadi, ketika orang-orang dan hal-hal yang terjadi dalam hidup saya hanya bersifat sementara. Dan jujur hingga kini, saya masih berharap saya bisa sekolah lagi dan bekerja sesuai passion saya, dan tidak tinggal jauh dari keluarga seperti ini. Eh, tapi hey, bukankah setiap Minggu saya berdoa, “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”? Biarlah saya tunduk pada kehendak Bapa yang sempurna itu. Karena saya, kamu, dan kita memang diciptakan oleh Dia dan untuk kemuliaan-Nya. Terpujilah Allah Bapa, kini dan selamanya.


Selamat Paskah 2013, sahabat.. :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, April 01, 2013 0 komentar
Label: me and my GOD, semacam curhat, untuk sahabat

Kamis, 21 Maret 2013

Padang Gurun



Ketika umat Israel melewati padang gurun sebelum sampai ke Tanah Kanaan, mereka banyak bersungut-sungut. Mereka ketakutan akan orang-orang besar menduduki Tanah Kanaan yang harus mereka hadapi dan lawan. Musa menguatkan mereka dan berujar, “TUHAN, Allahmu yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu, dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa TUHAN Allahmu mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.”





Allah yang sama, yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib untuk melepaskan Israel, Dia yang akan berperkara dengan kita. Allah yang sama yang berjalan bersama Israel akan berjalan bersama kita melalui padang gurun rohani kita. Ketika kehidupan menjadi menyesakkan, ketika masa depan terlihat begitu menakutkan, percayalah, Allah yang akan mendukungmu seperti seorang Bapa mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tanah perjanjianmu.


Selamat pagi dan Tuhan memberkati :)


>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Maret 21, 2013 0 komentar
Label: kicauan pagi, me and my GOD

Rabu, 20 Februari 2013

Yes, Jesus Loves Me

Saya menyukai lagu-lagu pujian untuk Allah. Tapi tidak semua lagu biasanya saya suka. Biasanya saya menyukai lagu-lagu dengan lirik yang sarat makna namun disampaikan dengan deretan kata yang terpahat apik.

Anehnya, ketika saya dalam suatu kondisi yang terbeban berat, lagu-lagu yang senantiasa berdendang dalam hati ini justru lagu-lagu teramat sederhana. Lagu-lagu ungkapan iman yang biasanya dinyanyikan oleh anak-anak:

With Christ in the vessel we can smile at the storm, smile at the storm. As we go sailing home.
Jika Yesus ada di dalam lambung perahu, kita dapat tersenyum pada saat badai, tersenyum pada saat badai, ketika kita mendayung pulang.

Amat sederhana bukan? Tapi kesederhanaan kalimat-kalimatnya mengungkapkan iman yang luar biasa kalau Allah senantiasa menjaga. Tak ada yang perlu ditakutkan dalam badai kehidupan, ketika Yesus berada di sana.

Satu lagu sederhana lainnya adalah:
Hallelujah any how!| Never ever let the trouble makes you down.| When hard time is coming your way|
Just raise up your hand and say hei! |
Hallelujah Anyhow..
Pujilah Tuhan bagaimanapun juga| jangan pernah biarkan masalah membuatmu jatuh | ketika waktu-waktu sulit merintangi jalanmu| angkatlah tangan dan katakan | pujilah Tuhan bagaimanapun jua.

Ya! Pujilah Tuhan, bersyukurlah dalam kondisi apapun. Karena kita tahu Allah kita layak untuk menerima ungkapan syukur kita yang terbesar. Karena kita tahu selama Yesus ada di dalam perahu, kita tak akan tenggelam dalam badai.

Dan karena kita tahu ada satu kebenaran dalam satu lagu sederhana berikut:

Jesus loves me this I know | for the Bible tells me so| Little ones to him belong| they are weak, but He is strong.
Yes Jesus loves me| Yes Jesus loves me |The bible tells me so
Yesus sayang padaku | seperti yang diberitahu oleh alkitab kepadaku | mereka yang kecil milik kepunyaanNya | mereka lemah tapi Dia kuat
Ya, Yesus sayang padaku | Ya, Yesus sayang padaku | seperti yang diberitahu oleh alkitab kepadaku.

Betapa menguatkan bukan? Lagu-lagu sederhana itu adalah refleksi iman yang menjadi jangkar kokoh ketika hidup penuh badai.

Jadi, mari mengucap syukur dalam segala hal ^^

>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Februari 20, 2013 0 komentar
Label: lagu, me and my GOD

Kamis, 07 Februari 2013

The Choice is Yours, dear


"Berarti pada akhirnya hati kita dong ya yang akan memilih? Nah gimana dong biar pilihan kita ga jatuh kepada orang yang salah?"
"Intinya, tiap orang punya prinsip, kalo mereka mantebnya lewat hal itu, ya IT'S THEIR CHOICE..."
Sepenggal obrolan saya dengan seorang teman pria yang berada di pojok kanan atasnya Indonesia (Bagian Timur). Mengobrol dengannya terkadang membuat saya berpikir keras akan banyak hal. Dan kali ini entah kenapa tengah malam menjelang pagi begini saya begitu tergelitik dengan beberapa kata yang dilontarkannya. IT'S THEIR CHOICE! Ah, rasanya hidup ini terlalu singkat jika harus dilewatkan dengan pilihan-pilihan yang salah.
Life is the art of making choices, hidup adalah seni membuat pilihan, kalau kata orang bijak. Setiap manusia secara intuisi  ingin membuat keputusan paling tepat dalam setiap pilihan yang ada. Secara naluriah kita menyadari bahwa keputusan yang kita ambil sekarang akan mempengaruhi masa depan kita. Masa depan. Dua frasa yang sakral ini membuat kita akan berusaha keras untuk mengambil pilihan yang paling bijak untuk masa depan yang lebih baik. Baik informasi, pengetahuan, dan pengalaman dikumpul sebanyak-banyaknya, data diolah sebijak-bijaknya untuk menghasilkan keputusan paling baik.
Tak hanya bagi diri sendiri, keputusan yang kita ambil pun seringkali akan menyinggung, menyentuh, menggoncang kehidupan orang lain. Taruhlah keputusan seorang ibu yang memutuskan untuk berhenti bekerja, tentu akan menyinggung dan memengaruhi kehidupan anak-anak dan keluarganya. Di tataran yang lebih besar, keputusan seorang pemimpin akan mempengaruhi anak buah, dan keputusan seorang presiden akan memengaruhi jalan hidup warga negaranya. Kehidupan miliaran manusia ditentukan setiap harinya oleh beragam keputusan yang diambil oleh para petinggi di berbagai negeri. Tak heran seni mengambil keputusan menjadi sebuah ilmu sakti mandra guna yang harus dikuasai oleh mereka yang ingin meraih posisi tertinggi di berbagai sektor, entah pemerintah, entah perusahaan.
Di tataran individu, seni mengambil keputusan ini kerap membuat banyak anak manusia merasa frustasi. Membuat keputusan yang salah adalah momok mengerikan. Setiap orang, tentu termasuk saya, merasa ngeri atas setiap konsekuensi yang akan datang dari pilihan yang salah. Banyak orang, termasuk saya, cenderung takut untuk melangkah ketika di hadapan tersedia sejumlah pilihan yang cukup membingungkan. Mau kuliah dimana? Mau bekerja dimana? Mau menikah dengan siapa? Satu pilihan, dan hidup akan berubah.
Bagaimana jika kita membuat keputusan yang salah?  Tapi benarkah ada keputusan yang salah?
“Bagaimana jika saya dahulu tidak bertemu dengan dia? Bagaimana seandainya jika saya tidak bekerja di sini? Bagaimana seandainya saja saya terus dan tidak menyerah? Bagaimana seandainya dulu saya tidak menjawab ya? Ah seandainya saja saya dahulu memperjuangkan untuk belajar di jurusan itu bukan malah berkuliah di sini. Ah, bagaimana jika ternyata ini adalah keputusan yang salah?”
Sayangnya, ketika kita tiba pada satu titik dimana kita menyadari bahwa kita mengambil langkah yang salah, sesal atas keputusan yang telah diambil menjadi tiada guna.
Dibanyak kesempatan, kita tidak akan pernah benar-benar mengetahui apakah pilihan yang telah kita buat merupakan pilihan yang paling tepat, atau justru kesalahan terbesar. Semuanya akan tergantung pada makna apa yang kita beri pada setiap peristiwa, hikmah apa yang kita petik dari setiap kejadian.
Pernah dalam sebuah rapat muncul sesal di antara panitia atas sebuah keputusan yang telah diambil bersama. Namun seseorang dengan bijak berujar, “Pada waktu keputusan itu dibuat, informasi yang kita dapatkan adalah demikian. Kita membuat keputusan terbaik berdasarkan informasi yang terbaik yang bisa kita peroleh waktu itu. Kita toh tak bisa memprediksi masa depan. Jadi kurasa tak ada yang perlu disesalkan.” Wow!
Dan untuk kasus saya, tentu ada banyak waktu dimana saya berharap bisa memutar jarum kehidupan dan membuat pilihan yang berbeda, mengambil keputusan yang tak sama.  Kita semua begitu bukan? Namun dalam perjalanannya, saya menyadari bahwa setiap kesalahan yang dibuat telah membuat saya belajar banyak hal. Saya mengetahui banyak hal. Bertumbuh semakin kuat. Dan mengalami hal yang membuat saya mampu menarik sudut pandang yang berbeda, yang mungkin tak akan bisa saya lakukan jika saya tak jatuh dalam kesalahan itu. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama, tentu saja saya tidak lebih bodoh dari keledai dan tidak ingin terus menerus jatuh pada kesalahan yang sama.
Intinya hal-hal yang dianggap sebagai pilihan yang salah itu justru memberi peta agar tak terjerumus pada lubang yang sama.
Menyesali suatu keputusan yang diambil tanpa menarik makna darinya hanya akan mendatangkan duka yang lebih besar. Karena penyesalan tak akan pernah membawa kita ke titik dimana kita mulai melangkah. Kita tak punya banyak pilihan selain meneruskan perjalanan dimana kita mendapat ilham bahwa kita telah melakukan kesalahan.
Pada akhirnya, berjalan bersama Tuhan setiap harinya akan melepaskan beban berat dalam proses pasca pengambilan keputusan itu. Kenapa? Karena kita tahu selama kita berjalan dalam tuntunan Tuhan, bahkan kesalahan dan bencana terburuk pun bisa dipakai untuk mendatangkan kebaikan. And then we can relax, God is in His perfect control, dear!
Teruntuk kamu, sahabatku, sebut saja "Bunga", saya berdoa agar kamu tetap melibatkan Tuhan dalam mengambil dan menjalani keputusan yang kamu ambil dari setiap pilihan yang ada, selanjutnya, mari belajar menjadi wanita cantik dan ibu yang baik seperti yang kita cita-citakan dulu. Selamat menempuh hidup baru ya. Suatu saat saya akan menulis tentang kisahmu seperti yang saya janjikan kemarin. Percaya dan tunggu sajalah, hiihhii..
Dan kamu, sumber ide saya malam ini, mungkin efek lengan yang semakin kekar karena push-up dan belajar tenis dua minggu ini menjadikanmu semakin bijak dan dewasa sekarang. Semoga kamu konsisten ya menjalani pilihanmu untuk tidak merokok dua minggu ini. Saya tunggu cerita-cerita inspiratifmu selanjutnya...
Dan saya, ahh kenapa tiba-tiba malam ini bahasa saya menjadi berat begini yah. *melipir*

THEN, OF COURSE,  THE CHOICE IS YOURS!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 07, 2013 0 komentar
Label: Kisah Kita, me and my GOD, opini, random thinking, untuk sahabat

Sabtu, 02 Februari 2013

Notes from God


>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Sabtu, Februari 02, 2013 0 komentar
Label: me and my GOD

Rabu, 23 Januari 2013

2013 in Action


Januari 2103 hampir habis. Dan berhubung saya anti-mainstream, maka di suatu pagi yang cerah ini, saya juga malah baru sekarang berkicau tentang pergantian tahun. Resolusi. Impian. Target. Agenda. Kenangan. Review. Belum terlambat kan?

2012

Sempat diisukan bahwa kiamat di tahun ini, sampai-sampai dibuat filmnya. 
Peramal lokal yang melihat 2012 'gelap', ternyata memang gelap hanya untuk dirinya.
Heboh dengan isu 'kehancuran' lewat perhelatan besar dunia, ternyata sampai penutupan acara masih aman-aman saja. 
Ada juga berita menyenangkan dari dalam negeri. Akhirnya banyak angin segar tentang pemerintahan ibukota  dari media semenjak duduknya walikota yang dipuja-puja.

Kalau dari saya, tahun ini lewat cepatnya minta ampun. Saat ini saya sedang membuat agenda baru buatan sendiri (lagi) untuk tahun 2013! Rasanya masih aneh menuliskan angka itu.

Tahun 2012 secepat itu lewat, namun ternyata terlalu banyak hal yang terjadi di tahun ini. Drastis. Dari yang jauh jadi dekat, dari yang dekat jadi jauh. Terjadi dalam arti harfiah dan tidak. Dari yang sering menjadi jarang, dari yang tidak pernah menjadi sering. Hahahaha bingung kan?

Tapi ada satu hal besar yang saya pelajari tahun ini.

Meskipun resolusi tidak terpenuhi sepenuhnya,
Meskipun rencana-rencana tidak mulus jalannya,
Meskipun banyak hal di luar ekspektasi,

Saatnya belajar bersyukur, mengenal diri sendiri, dan percaya dengan skenario Yang Di Atas. DIA, Sang Gembala Agung tetap menyertai saya sepanjang perjalanan ini. Sekalipun mendaki gunung lewati lembah, kalau kata Ninja Hattori.

Semuanya pasti berubah, tidak bisa mengharapkan segalanya akan sama menyenangkannya seperti yang diinginkan. Hanya tinggal percaya atau tidak bahwa di balik perubahan (yang saya pikir) buruk itu selalu mendatangkan kebaikan.


Hello, 2013! 



Semoga selalu menjadi pembelajar dan tetap bermimpi besar di tahun-tahun seterusnya. Semoga menjadi lebih baik! Yang paling nyata di depan mata, semoga bisa kembali kuliah lagi dengan memperoleh beasiswa tugas belajar S1/D4! (Ah, iya, pengumuman D4 STAN sebentar lagi, Ceman-ceman. Doakan yah!)

Allah yang sama yang telah menyertai kita di tahun-tahun sebelumnya, akan terus dan tetap menyertai langkah kita menghadapi hari-hari, dan tahun-tahun yang akan datang.


Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.
Banyak hal tak ‘ku pahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang
“I know who holds tomorrow” cipt. Ira F. Stanphill
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Januari 23, 2013 0 komentar
Label: kicauan pagi, lagu, me and my GOD, tentang mimpi

Senin, 14 Januari 2013

Mencari Apa?

01.43 AM waktu Indonesia bagian galau di daerah saya
Dan saya masih terjaga di sini, di kamar memang. Di dalam sebuah rumah mungil di Medan. Loh kok belum tidur? Belum ngantuk sih. Padahal di sekeliling saya ada ibu dan adik perempuan saya yang sudah tertidur dengan pulasnya.

Sudah tanggal 14 saja ya! Ah, tidak terasa waktu cepat berlalu. Atau mungkin saya harus berkata, syukurlah. Saya rasanya ingin cepat-cepat bulan ini berakhir. Ingin cepat-cepat sembuh dan masa-masa pemulihan tulang ini berakhir. Sedikit galau memang melihat masa liburan saya yang hanya dipakai untuk bedrest masih harus ditambah 2 bulan lagi. Eh, tapi saya juga tidak ingin cepat-cepat kembali bekerja. Saya masih ingin mencari ketenangan pikiran, kelegaan hati, dan sumber inspirasi. Mengingat beberapa waktu lalu sebelum pulang ke Medan, saya teramat sibuk di kantor.

Sudah lebih 2 minggu di rumah. Jadi beberapa hari ini saya berpikir. Kali ini minus uring-uringan. Saya coba berpikir dengan sehat. Dengan segelas calci-forte, suplemen kalsium untuk tulang ada di tangan saya, dan Alkitab serta laptop ada di hadapan saya

Mari coba dipikirkan

Apa sih sebenarnya cita-cita saya?

Apa jadi PNS Kemenkeu itu cita-cita saya?

Well, saya punya banyak cita-cita. Sungguh banyak. Istilah gampangnya, saya ini banyak maunya. Tapi justru itu toh yang membingungkan. Dari segitu banyaknya mau saya, tapi pekerjaan sebagai "PNS" tidak masuk ke dalam daftar saya sejak kecil. Pernah saya bahas soal cita-cita dan keinginan di postingan beberapa waktu sebelumnya. Dan, oke, maaf, mungkin tulisan ini sedikit kontras dengan postingan itu, karena kali ini memang cuma sekedar pemikiran random saya yang meracau tengah malam menjelang pagi.

Saya tidak bilang saya benci dengan pekerjaan saya sekarang. Hanya rasanya kok seperti ada yang tidak tepat. Seperti seolah semua orang di dalam kantor saya berpikir dengan otak kiri. Saya? Saya berpikir dengan otak kanan. Otak kiri saya tidak mati. Dia hanya sudah lama tidak digunakan. Dan saat digunakan, rasa membosankannya membuat saya merindukan cara bekerja otak kanan. 

Mungkin memang harus diimbangi. 

Tentu saja. Ini kan hanya perumpamaan. Tidak mungkin otak kiri tidak berjalan sama sekali. Tidak mungkin otak kanan beroperasi sendiri. Tapi yang namanya dominasi selalu ada bukan? Jadi mengapa tidak bekerja dengan belahan otak yang mendominasi saja? Tentunya hidup akan jauh lebih mudah. Less effort, more results. 

Jadi masa-masa bedrest  ini pun akhirnya saya habiskan untuk bersenang-senang (baca: memanjakan otak kanan). Saya menulis sepanjang hari. Bereksperimen dengan nada lagu di kamar mandi. Karena tidak bisa hang out  dengan teman yang ada di Medan ini, akhirnya saya lampiaskan dengan browsing, termasuk browsing berburu tiket promo untuk travelling berikutnya (OK, ini memang tidak ada hubungannya dengan otak kanan). Menikmati musik baru hasil berburu ilegal. Membaca koleksi buku baru yang sudah menumpuk di rak buku (adik) saya. Tidur cukup dan ngemil yang enak-enak (ya, ini kembali tidak ada hubungannya dengan pengembangan otak kanan). 

Hasilnya?

Saya berharap semoga saya segera pulih dan fresh ketika kembali ke Manna dan bekerja lebih bersemangat!

Jadi saya berpikir, this can be good! Mungkin saya begini dulu untuk sementara ini. Work less, play hard.  Bukankah bisa dibilang begitu, huh? Jarang sekali saya mendapat kesempatan beristirahat begitu lama di saat orang lain sibuk bekerja. Sepulang dari sini nanti, saya akan berjuang, belajar mencintai pekerjaan saya, walaupun mungkin di dalam bidang yang tidak begitu sreg dengan saya. 

Nah, sementara saya akan begini dulu. Tentunya tidak berdiam diri. Sambil mencari juga dong.

Mencari apa?

Mencari dulu, apa mau saya sebenarnya, apa mau DIA, Sang Pemilik Hidup dan Otoritas tertinggi, dan yang paling penting menyesuaikan mau saya dengan apa mau Tuhan sebenarnya dalam hidup saya.

Oke, akan segera saya sign-out, sebelum ibu terbangun dan memergoki saya yang masih sakit ini belum tidur hingga selarut ini.
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Januari 14, 2013 0 komentar
Label: me and my GOD, random thinking, semacam curhat, tentang mimpi

Selasa, 31 Januari 2012

Enjoy Every Moment


Guys, kalo gue ntar ketemu Babe, setelah gue peluk en cium Babe luaamaaa banget, gue rasa gue bakal ngajuin 1 pertanyaan.. Kenapa sih Tuhan ciptain cewek tuh begini?!?! Kenapa sih Tuhan ciptain cewek tuh feelingnya kuat bgt, gampang suka ama cowok? en benci dengan ketidak pastian … asli itu pertanyaan yg udah gue tanyakan bertaon-taon tapi gue belon nemu jawabannya..
Gue ngeliat dari pengalaman temen2 gue, paling ’sengsara’ kalau lagi masa pdkt, soalnya ngga jelas itu cowok demen kagak sih sebenernya? en biasanya kalau udah dihadapkan pada ‘ketidak-jelasan’, rasanya tuh ngga tenang.. rasanya tuh pengen cepet2 ‘jelas’, but belakangan ini gue dapet yg paling penting itu ‘enjoy every moment’..

Gue mulai berpikir, kalau kita ngga bisa enjoy masa kita temenan en secepetnya pengen punya status yg ‘jelas’ *padahal benernya sih statusnya jelas bgt, temenan! hehehe* Nah, kalau status itu sudah di tangan, apa kita bisa enjoy juga sama masa pacaran?! atau kita akan juga ‘get rush’ buat punya status yang lebih jelas en lebih ’sah’ lagi?
Dunno kan?
 
Kadang ketidaksabaran kita itu menghancurkan banyak hal … Menghancurkan moment2 manis en indah yang semestinya terjadi kalau kita mau sabar nunggu waktu Tuhan..
So, girls …Just Enjoy Your Moment.. Apapun yg sedang kita hadapi sekarang, try to enjoy it … karna ada banyak moment yang cuman akan lewat 1 kali … Sayang bgt kalau cuman hanya gara2 pengen ‘kejelasan’ kita menghancurkan banyak hal yg semestinya bisa kita nikmatin.

Take your time, Enjoy every moment..
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Januari 31, 2012 0 komentar
Label: cinta dan perasaan, me and my GOD, random thinking
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates