skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Surat untuk Kartini Masa Depan

Dear kamu...


Nyadar ga kalau kemarin itu tanggal 21 April? Nyadar ga kalau kemarin itu Hari Kartini? Pasti nggak! Mana pernah kamu inget hal-hal seperti ini. Kamu kan yang selalu bilang, buat apa ikut berpartisipasi dalam acara yang belum tentu benar kita pahami maksudnya. Ah, kamu!

Dan suer, kamu pasti akan ngakak kalau aku bilang, kemarin aku ikut perayaan Hari Kartini di gereja bersama para ibu-ibu lainnya. Tuh, kan, ngakak kan? Tenang, bukan perayaan besar-besaran kok, cuma makan bareng di pantai. Katanya sih ini cara kita menghargai jasa ibu kartini. Peringatan atas tercetusnya emansipasi oleh kaum kita. Blah!

Apa gak nyadar ya kalau kita belum benar-benar mendapatkan pengakuan itu? Di negara tercinta kita ini, masih banyak perempuan sebagai objek. Masih ingat tentang UU Anti Pornografi? Menurut kamu, itu mendiskriminasikan perempuan gak sih? Aku sih gak keberatan kalau pemerintah mengatur pendistribusian majalah dan kaset-kaset porno, tapi kalau sampai mengatur tata busana (yang sayangnya, perempuan), itu bikin aku gerah. Ah iya, contohnya lagi, banyak pelecehan seksual di sekeliling kamu dan aku, dengan korbannya tentu saja dong kaum kita.

Eh, ga usah jauh-jauh deh.. Kamu dan aku saja, yang sedang berada di puncak kesuksesan *tsaaaahh*, justru susah mendapatkan pasangan kan? Hihihihiii.. Dengan banyak alasan, yang intinya karena kita dianggap terlalu kelas tinggi. Dari situ saja kita udah tahu, kita belum benar-benar menerima pengakuan kan? Padahal biarpun kita ini keren, berkarir cemerlang, tapi kan tetap saja kita bisa masak, bersih-bersih rumah, dan melakukan tugas lainnya kan? Hehehehe..

Kamu sering lihat di tivi gak? Artis sebut saja namanya bunga, di sisi lain, emansipasi yang dia lakukan justru membuatnya kehilangan banyak hal. Keluarga, suami, bahkan anaknya sendiripun tak mampu dia pertahankan. Dan semua terjadi karena dia memperjuangkan apa yang dia sebut sebagai emansipasi.

Eh, bentar bentar bentar.. Menurut kamu, apa benar yang Kartini inginkan itu adalah emansipasi dan kesetaraan gender? Mungkin ga, kalau katau-kata emansipasi, kesetaraan gender dan hal-hal seperti itu, kita sendiri yang ciptakan? Bisa jadi yang diinginkan Kartini bukan seperti itu. Bukan pula semakin banyak wanita berpendidikan tinggi, berkarir cemerlang, tapi banyak juga di antaranya yang justru mengabaikan kodratnya sebagai perempuan.

Oh, tapi yang jelas aku tahu, yang kita inginkan adalah sama. Kita hanya ingin menjadi perempuan yang lebih baik, untuk melahirkan anak-anak bangsa yang lebih baik di tengah bangsa yang semakin hari semakin mengenaskan ini. Kalau aku bilang ini inti dari emansipasi, kira-kira kamu setuju gak?

Aduh, udah ah! Semakin aku nulis panjang lebar, semakin aku merasa pusing. Rasanya semua terlalu rumit. Benar katamu, tak mudah memahami makna dari sesuatu, makanya lagi-lagi, aku juga heran. Kenapa hari ini aku nulis panjang lebar tapi gak jelas begini yah?

Selamat melanjutkan aktivitas Senin soremu, teman!
Jangan lupa, April ini sudah hampir habis. Emansipasi tak akan membuat kamu berhenti belajar memasak dan berdiskusi tentang hal-hal penting dan gak penting di dunia ini kan? *wink-wink*

Dari,
Aku

"Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jenderal mitos-mitos tentangnya."
**Pramoedya Ananta Toer dalam kata pengantar Panggil Aku Kartini Saja
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, April 22, 2013 0 komentar
Label: opini, surat, untuk sahabat

Senin, 08 April 2013

L.i.f.e o.f. P.I





Lama sekali tidak ke Bioskop. Oh, jangan ketawain saya. Film terakhir yang saya tonton di bioskop adalah RectoVerso. Bersama seorang sohib saya melihat akting seksi Lukman Sardi. Entah mengapa saya memang bukan tipe yang rajin pergi ke bioskop. Apalagi ditambah daerah tempat saya tinggal sekarang tidak ada fasilitasnya.

Kalau berbicara soal menonton, saya lebih suka download atau copy file dan menonton film-film di DVD atau komputer saya. Dan akhirnya untuk menjawab kegelisahan diri saya sendiri, ketika cuti kemarin saya menonton Life of Pi. Sendirian. DVD yang saya beli ketika hang-out bersama 2 orang teman saya.

Saya tidak akan memberikan spoiler kepadamu tentang film Life of Pi. Saya hanya ingin menceritakan kepadamu. Bagaimana film Life of Pi merefleksikan sesuatu kepada saya.

Dua tokoh utama dalam film itu adalah Richard Parker (seekor macan Bengali) dan Pi. Terapung-apung di laut selama berpuluh-puluh hari. Di film itu digambarkan bagaimana Pi bersusah payah untuk menaklukan ketakutannya sendiri atas Richard Parker. Lalu bagaimana mereka berdua bertahan melewati hari-hari yang sangat sulit di lautan. Hanya berdua saja. Dengan semesta.

Di awal film ini Pi mengatakan kepada penulis yang hendak mengisahkan ceritanya ke dalam buku bahwa: ceritanya adalah perjalanan untuk menemukan Tuhan.

Dan coba tebak, apakah memang Tuhan bisa ditemukan dalam ceritanya.

Oh, ada sesuatu yang direfleksikan kepada saya seusai menonton film itu. Sepanjang angkot ketika saya pulang dari rumah teman. Saya terus menerus dihantui oleh sebuah statement yang diucapkan oleh Pi,

All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.

... What hurts the most is not taking a moment to say goodbye.



Pernyataan ini begitu menghantui saya.

Saya melihat hubungan Richard Parker dan Pi dalam film ini seperti hubungan laki-laki dan perempuan. Terserah yang mana yang menjadi laki-laki dan yang mana yang menjadi perempuan. Atau seperti hubungan dua orang saudara bisa juga sohib kental. Lagi-lagi terserah mau mendefenisikan yang mana. Tetapi yang mana pun itu, itu terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita memilih atau (tidak sengaja) dipilih untuk bersama seseorang. Setuju atau tidak setuju. Punya intensitas yang cukup tinggi dengan orang tersebut. Suka maupun tidak suka. Tetapi bersama.

Di dalam kebersamaan banyak hal yang terjadi. Ada perasaan utuh ketika kita bersama seseorang. Dan ada yang diambil ketika kita (tidak sengaja) berpisah atau dipisahkan dari orang tersebut. Dan ini pun yang kemudian dialami oleh Pi, ketika Richard Parker pergi dari dia tanpa sedikitpun menengok ke belakang bahkan hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.

Ah, Pi patah hati.

Sampai di sini saya berpikir bahwa, persoalannya bukan ketika ditinggalkan atau meninggalkan. Persoalannya adalah ketika hendak meninggalkan paling tidak kita dengan berani menatap mata teman kita dan bilang "selamat tinggal."

Karena yang paling sakit adalah ketika kita tidak berani bilang selamat tinggal.

Saya begitu masuk ke dalam perasaan Pi sehingga saya tidak memikirkan perasaan Richard Parker. Oh Richard Parker ternyata punya cara lain untuk bilang “selamat tinggal” ia berjalan ke arah hutan dengan tubuhnya yang kurus, berhenti sejenak di ujung rumput sebelum masuk ke hutan ... diam, baru kemudian berlari ke dalam hutan.

Ia memang tidak menengok ke arah Pi. Ia hanya diam. Dan itu adalah caranya mengucapkan “selamat tinggal.”


Oh yang ini lain pembahasan, tapi saya mau bilang bahwa saya menemukan Tuhan dalam film ini.

Tuhan menjelma menjadi seekor macan. Richard Parker namanya. DIA tidak membiarkan Pi sendirian di tengah lautan lepas itu. DIA tidak melihat Pi dari jauh. DIA melihat Pi dari dekat. Bahkan sangat dekat.


Doubt is useful, it keeps faith a living thing. Afterall, you cannot know the strength of your faith until it is tested.


Kadang kita seperti ragu, dan merasa ditinggalkan. Tuhan seperti mengucapkan "selamat tinggal" Padahal kita tidak pernah tahu, Tuhan bisa begitu dekat. Sangat dekat.
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, April 08, 2013 0 komentar
Label: film, opini

Kamis, 14 Februari 2013

Ada yang Salah dengan Valentine


Sebelumnya, Selamat Hari Kasih Sayang!

Happy Valentine Day 14 February 2013!

Valentine, kata ini tentu tidak asing di telinga kita. Bukannya saya latah atau sok-sok abege (maaf saya memang masih muda) ikut-ikutan membicarakan dan merayakan Valentine. Maaf juga kalau postingan saya kali ini dianggap terlalu ekstrim dan sedikit menyindir. Bukan bermaksud apa-apa kok.

Kalau mendengar kata Valentine, pasti identik dengan bunga, coklat, warna pink, dan berbagai hadiah-hadiah unik atau mungkin romantis. (Lihat saja, tampilan google hari ini juga, cantik sekali! :) )Valentine juga dikait-kaitkan dengan agama. Ada yang mengatakan bahwa Valentine adalah pembodohan, musyrik, kafir, pemalsuan sejarah, dan kebohongan.

Jujur, saya tidak memusingkan hal di atas. Mau Valentine kayak gini kek, mau Valentine kayak gitu kek, who cares? Lagipula apakah saat hari Valentine terjadi pembunuhan massal? Apakah saat Valentine terjadi kematian mendadak saat memakan coklat? Apakah saat Valentine, dunia akan runtuh? Yang ada malah buat sebagian orang, hari Valentine adalah hari yang menakutkan, lebih menakutkan dari Haloween atau malam 1 Suro, di mana para single tiba-tiba diperlihatkan dengan jelas label mereka: sendirian pada hari ini, ibarat orang yang lagi puasa di tengah-tengah jamuan makan. Tapi saya rasa, selama Valentine tidak mengubah dunia sehingga mengalami revolusi besar yang benar-benar membawa pengaruh negatif, tentu Valentine bukanlah hal berbahaya yang harus diperbincangkan dari mulut ke mulut. Faktanya, dari tahun ke tahun Valentine memang tidak membawa pengaruh besar terhadap rotasi bumi ataupun peristiwa yang terjadi di dalamnya.

14 Februari adalah momentum yang memperingatkan kita akan pentingnya KASIH SAYANG dan saling berbagi. Kasih bukanlah sesuatu yang asing, kita memang harus membaginya setiap hari kepada setiap orang yang memang menurut kita harus dikasihi. Dan Valentine, adalah momentum untuk memperingatkan lagi bahwa kasih itu ada dan setiap orang pantas untuk memberi dan menerimanya.

Setiap agama dan kepercayaan pasti mengajarkan KASIH. Kasih antara manusia dan Tuhan, serta kasih antara sesama manusia. Jadi pantaskah beberapa oknum menghakimi bahwa Valentine adalah kafir? Dosa? Pembodohan dan pemalsuan sejarah? Jika momentum Valentine sebenarnya adalah hanya untuk mengingatkan kita bahwa kasih itu ADA dan setiap orang PANTAS mendapatkannya. Pantaskah beberapa oknum berpendapat bahwa Valentine adalah dosa dan dikait-kaitkan dengan agama tanpa bisa memberi bukti secara fakta? 

Lucunya, bukti-bukti itu hanya didapatkan dari internet dan beberapa blog yang dipertanyakan fakta dan kejelasan informasi di dalamnya.
Selama Valentine tidak merusak moral, norma agama, dan nilai-nilai sosial, saya rasa tidak ada yang harus ditakutkan dan dikhawatirkan dari hari kasih sayang yang jatuh tanggal 14 February ini. :)

Kalau mau berpendapat lain, silakan, tapi bukankah berlebihan jika membahas Valentine seperti membahas kasus korupsi di Indonesia? Menjelaskan sejarah sistematis Valentine blablabla tanpa tahu tujuan yang akan dicapai setelah menjelaskan hal tersebut. Korupsi memang berpengaruh di Indonesia, tapi apa iya, Valentine juga segitu berpengaruhnya? Lagipula, dalam Valentine terjadi perbuatan saling memberi, dan saling memberi sudah dipatenkan banyak orang sebagai hal yang baik.

Valentine dikaitkan dengan agama? Saya menjamin akan banyak orang menertawai tingkah ini. Lagipula, jika googling tentang sejarah valentine, yang bermunculan hanyalah informasi blog-blog yang dipertanyakan realitanya.

Percaya pada sesuatu yang memiliki tanda tanya besar? Lucunya.

Akhir kata, kita memang butuh perayaan ini. Bukan karena ini hari yang baik jika kita tiba-tiba ingin menjadi penjual kue, coklat, kartu, dan bunga dadakan. Saya bersyukur bahwa pada tanggal ini kita merayakan cinta dan kasih sayang, bukan perang, pembunuhan, politik, atau bahkan kemajuan teknologi informasi. Saya senang bahwa setidaknya sekali dalam setahun kita diingatkan bahwa di tengah dunia yang skeptis ini, masih ada tempat buat perasaan yang berbunga-bunga, bahwa kasih sayang itu memang ada dan nyata, bukan sekedar romantisme belaka. Kasih yang terbesar adalah kasih Allah kepada umatnya. Kasih itulah yang seharusnya kita bagikan kepada orang-orang sekitar kita setiap harinya. Bukan sekedar coklat atau bunga, dan bukan hanya hari ini.

Just spread love out to everyone you love! Percayalah kawan, hidupmu akan lebih berwarna...

Selamat Hari Kasih Sayang :)



Let there be love shared among us
Let there be love in our hearts
May now your love sweep this nation
Cause us, O Lord, to arise
Give us a fresh understanding
Of brotherly love that is real
Let there be love shared among us
Let there be love
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 14, 2013 0 komentar
Label: opini

Sabtu, 09 Februari 2013

Kenyamanan, Mimpi, dan Perjalanan


“Terlalu nyaman di Medan. Bahaya tampaknya :|” – Status BBM saya, 8 Februari 2013, pukul 22.00 WIB

sepenggal chat dari Josep yang saya munchscreen
Keluar dari kota nyaman. 

Boleh saya katakan sebagai zona nyaman juga? Zona nyaman itu seperti kamar tidur kita ketika di rumah, rumah kita ketika berada di lingkungan masyarakat, kota kita ketika kita berada di lingkup provinsi, provinsi kita ketika berada di lingkup Negara, dan itu hanya kesimpulan saya saja dari obrolan absurd tengah malam bersama tiga orang teman saya malam itu. Josep dan Rumanty yang keduanya sama-sama tertohok, dan Niko, seorang teman (yang sebenernya temannya teman) saya, berasal dari Kediri, yang saya juga belum pernah bertemu dengannya, tapi kami sudah sering mengobrolkan banyak hal. Terakhir kemarin malam, saat dia curhat sudah tidak lagi di Medan, sekarang berpindah tugas di Dumai, dan mengeluhkan tantangan yang dihadapinya di tempat baru.

Benar mungkin kata Josep, zona nyaman saya rasa bukan membuat seseorang malu melakukan sesuatu hal, tapi saat berada di dalam zona nyaman, mungkin kita tidak akan berkembang, tidak kreatif, dan membuang beberapa kesempatan.

Kesempatan mengejar impian. Kesempatan berkarya. Kesempatan yang kadangkala tidak kita dapatkan ketika masih berkutat di zona nyaman.

"Plato, seorang filsuf besar dunia pernah bilang bahwa nantinya dalam kehidupannya setiap manusia akan terjebak dalam sebuah gua gelap yang berisi keteraturan kemapanan, dan mereka senang berada di dalamnya. Karena mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana dengan apa yang telah mereka capai, hingga akhirnya mereka takut keluar dari gua tersebut. Mereka memang bahagia, tetapi diri mereka kosong dan mereka nggak pernah menemukan siapa diri mereka sebenarnya... mereka nggak punya mimpi." -5 Cm, Donny Dhirgantoro

Ketika kembali mengobrol dengan Rumanty, terbersit ketakutannya untuk berlari dari zona nyamannya. Semacam perasaan ketika menolak meninggalkan rumah ketika hari pertama pergi ke Sekolah Dasar, atau perasaan ketika menolak untuk melepas dekapan ibu ketika meninggalkannya untuk “merantau”

“Merantau”.  Menemukan sesuatu yang tidak dicari. Atau mencari sesuatu yang tidak dimengerti. Pergi untuk entah. *Ahh, saya mendefenisikannya terlalu lebay mungkin. Hehehehee..

Bagi saya merantau itu adalah sebuah “perjalanan” untuk “menemukan”.

Ketika kau melakukan perjalanan, kemanapun kau pergi, dengan siapa kau berada, sendiri atau bersama orang lain, kau telah merantau. Kemudian ketika perjalanan itu kau lakukan, kau akan menemukan sesuatu, entah itu sesuatu yang kelihatan atau sesuatu yang tidak kelihatan. Ketika itulah kau telah merantau.

Sepertinya hidup saya dipenuhi dengan merantau, saya banyak melakukan “perjalanan” dari mulai tinggal di rumah orangtua, rumah kakek nenek saya, rumah tante saya, asrama, kos-kosan, dan rumah dinas kantor saya. Melakukan “perjalanan” sudah menjadi bagian dari hidup saya. Mereka membuat saya hidup. 

Sudah sebulan lebih belakangan ini, saya berada di rumah, beristirahat, tidak melakukan aktivitas apapun yang cukup berarti. Seorang kakak kelas saya mengatakan mungkin saya sudah lama tidak melakukan “perjalanan”. Ya, memang seringkali perasaan rindu akan sebuah perjalanan menghinggapi pikiran saya akhir-akhir ini. Saya merindukan pikiran impulsif untuk pergi ke suatu tempat, kenekadan untuk bisa sampai kesana, entah itu bau asap kendaraan lalu lalang, debur ombak, atau bau embun pagi di atas gunung. Perjalanan yang lebih banyak saya lakukan untuk melarikan diri. Yang sudah lama memang tidak saya lakukan.

gambar diambil secara acak dari google
Bodohnya saya, saya tak sadar, bahwa sekarangpun saya sedang melakukan sebuah perjalanan. Menuju sebuah fase baru dalam hidup saya. Perjalanan yang sesungguhnya bukanlah berapa kota yang telah disinggahi, melainkan sampai sejauh mana hati bisa dibawa pergi. Tidak melulu untuk menghindari, melainkan menyongsong apa yang akan ditemui

Keputusan untuk kemudian sekolah keluar, sejak lulus SMP, ini merupakan salah satu bentuk “perjalanan” yang saya lakukan. Akhirnya saat ini, sudah lebih dari delapan tahun saya di luar. Saya banyak “menemukan”.  Temuan-temuan tersebut kemudian membentuk pribadi saya, mempengaruhi cara berpikir, bersikap, berperilaku. Saya menemukan banyak pengalaman-pengalaman yang akhirnya membuat saya mengerti bagaimana caranya supaya lebih luwes menghadapi kehidupan.

Kenapa lebih luwes? Saya pikir ketika “merantau”, kau akan banyak bertemu dengan sisi liar kehidupan, dan sisi liar itu kadang bisa ditaklukan, bisa juga diajak berteman. Disinilah keluwesanmu akan teruji. Bukan hanya soal cerdas menghadapi hidup, namun juga kreatif. “Perjalanan” yang dilakukan akhirnya membuat saya “menemukan” makna dari hidup itu sendiri. Untuk itu, saya sangat berterima kasih kepada merantau. Kalau tidak percaya, silakan uji dirimu sendiri, pergilah dan mulai lakukan “perjalanan”.

Sepertinya berlama-lama di rumah sempat membawa saya melayangkan pikiran untuk tetap “tinggal” saja di sini. Hati saya serasa berpasir saat memikirkan nanti harus kembali lagi ke tempat saya bekerja.

Ah, “merantau” lagi, saya lelah, Tuhan. Masih banyak yang ingin saya lakukan di kampung halaman saya, disini saja boleh?  Pikir saya begitu.

Kota baru, status baru, pekerjaan baru, dan atasan baru. Sudah agak basi untuk mengatakan baru, ketika saya sudah menjalaninya lebih dari setahun. Tapi memang begitulah buat saya, semua masih terasa baru. Saya masih gamang, bahkan seringkali saya tergagap. Sepertinya saya terlalu lama berkutat di zona nyaman. Apa yang saya songsong, dan apa yang saya tinggalkan tarik menarik menimbulkan kebimbangan. Saya lupa, hidup itu maju, dan masa lalu tertinggal jauh di belakang. Seolah saya juga lupa akan quotes yang selalu saya jadikan pedoman “Life begins at the end of your comfort zone” seperti yang pernah saya tulis sebelumnya.

Kita memang tak bisa selamanya diam, stagnan. Semua bergerak, berjalan. Kita memang harus bergerak dan banyak belajar bahkan di luar zona nyaman kita.

Merantau di luar, juga membuat saya “menemukan” apa yang menjadi passion saya. Passion saya yang adalah: mencipta. Saya akan mencipta sesuatu dengan kedua tangan saya. Karena saya percaya, setiap kita adalah pencipta-pencipta kecil, yang mampu membuat Surga di bumi, dengan tangan kecil kita, yang kosong dan miskin ini. 

Tidak ada yang perlu ditakutkan sebenarnya. Ada ALLAH yang telah, sedang, dan akan terus berjalan bersama-sama dengan kita.

Dua puluh tiga tahun. Sekian cerita dan masih tidak berhenti. Hingga nanti.

 
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Sabtu, Februari 09, 2013 0 komentar
Label: opini, random thinking, semacam curhat

Kamis, 07 Februari 2013

The Choice is Yours, dear


"Berarti pada akhirnya hati kita dong ya yang akan memilih? Nah gimana dong biar pilihan kita ga jatuh kepada orang yang salah?"
"Intinya, tiap orang punya prinsip, kalo mereka mantebnya lewat hal itu, ya IT'S THEIR CHOICE..."
Sepenggal obrolan saya dengan seorang teman pria yang berada di pojok kanan atasnya Indonesia (Bagian Timur). Mengobrol dengannya terkadang membuat saya berpikir keras akan banyak hal. Dan kali ini entah kenapa tengah malam menjelang pagi begini saya begitu tergelitik dengan beberapa kata yang dilontarkannya. IT'S THEIR CHOICE! Ah, rasanya hidup ini terlalu singkat jika harus dilewatkan dengan pilihan-pilihan yang salah.
Life is the art of making choices, hidup adalah seni membuat pilihan, kalau kata orang bijak. Setiap manusia secara intuisi  ingin membuat keputusan paling tepat dalam setiap pilihan yang ada. Secara naluriah kita menyadari bahwa keputusan yang kita ambil sekarang akan mempengaruhi masa depan kita. Masa depan. Dua frasa yang sakral ini membuat kita akan berusaha keras untuk mengambil pilihan yang paling bijak untuk masa depan yang lebih baik. Baik informasi, pengetahuan, dan pengalaman dikumpul sebanyak-banyaknya, data diolah sebijak-bijaknya untuk menghasilkan keputusan paling baik.
Tak hanya bagi diri sendiri, keputusan yang kita ambil pun seringkali akan menyinggung, menyentuh, menggoncang kehidupan orang lain. Taruhlah keputusan seorang ibu yang memutuskan untuk berhenti bekerja, tentu akan menyinggung dan memengaruhi kehidupan anak-anak dan keluarganya. Di tataran yang lebih besar, keputusan seorang pemimpin akan mempengaruhi anak buah, dan keputusan seorang presiden akan memengaruhi jalan hidup warga negaranya. Kehidupan miliaran manusia ditentukan setiap harinya oleh beragam keputusan yang diambil oleh para petinggi di berbagai negeri. Tak heran seni mengambil keputusan menjadi sebuah ilmu sakti mandra guna yang harus dikuasai oleh mereka yang ingin meraih posisi tertinggi di berbagai sektor, entah pemerintah, entah perusahaan.
Di tataran individu, seni mengambil keputusan ini kerap membuat banyak anak manusia merasa frustasi. Membuat keputusan yang salah adalah momok mengerikan. Setiap orang, tentu termasuk saya, merasa ngeri atas setiap konsekuensi yang akan datang dari pilihan yang salah. Banyak orang, termasuk saya, cenderung takut untuk melangkah ketika di hadapan tersedia sejumlah pilihan yang cukup membingungkan. Mau kuliah dimana? Mau bekerja dimana? Mau menikah dengan siapa? Satu pilihan, dan hidup akan berubah.
Bagaimana jika kita membuat keputusan yang salah?  Tapi benarkah ada keputusan yang salah?
“Bagaimana jika saya dahulu tidak bertemu dengan dia? Bagaimana seandainya jika saya tidak bekerja di sini? Bagaimana seandainya saja saya terus dan tidak menyerah? Bagaimana seandainya dulu saya tidak menjawab ya? Ah seandainya saja saya dahulu memperjuangkan untuk belajar di jurusan itu bukan malah berkuliah di sini. Ah, bagaimana jika ternyata ini adalah keputusan yang salah?”
Sayangnya, ketika kita tiba pada satu titik dimana kita menyadari bahwa kita mengambil langkah yang salah, sesal atas keputusan yang telah diambil menjadi tiada guna.
Dibanyak kesempatan, kita tidak akan pernah benar-benar mengetahui apakah pilihan yang telah kita buat merupakan pilihan yang paling tepat, atau justru kesalahan terbesar. Semuanya akan tergantung pada makna apa yang kita beri pada setiap peristiwa, hikmah apa yang kita petik dari setiap kejadian.
Pernah dalam sebuah rapat muncul sesal di antara panitia atas sebuah keputusan yang telah diambil bersama. Namun seseorang dengan bijak berujar, “Pada waktu keputusan itu dibuat, informasi yang kita dapatkan adalah demikian. Kita membuat keputusan terbaik berdasarkan informasi yang terbaik yang bisa kita peroleh waktu itu. Kita toh tak bisa memprediksi masa depan. Jadi kurasa tak ada yang perlu disesalkan.” Wow!
Dan untuk kasus saya, tentu ada banyak waktu dimana saya berharap bisa memutar jarum kehidupan dan membuat pilihan yang berbeda, mengambil keputusan yang tak sama.  Kita semua begitu bukan? Namun dalam perjalanannya, saya menyadari bahwa setiap kesalahan yang dibuat telah membuat saya belajar banyak hal. Saya mengetahui banyak hal. Bertumbuh semakin kuat. Dan mengalami hal yang membuat saya mampu menarik sudut pandang yang berbeda, yang mungkin tak akan bisa saya lakukan jika saya tak jatuh dalam kesalahan itu. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama, tentu saja saya tidak lebih bodoh dari keledai dan tidak ingin terus menerus jatuh pada kesalahan yang sama.
Intinya hal-hal yang dianggap sebagai pilihan yang salah itu justru memberi peta agar tak terjerumus pada lubang yang sama.
Menyesali suatu keputusan yang diambil tanpa menarik makna darinya hanya akan mendatangkan duka yang lebih besar. Karena penyesalan tak akan pernah membawa kita ke titik dimana kita mulai melangkah. Kita tak punya banyak pilihan selain meneruskan perjalanan dimana kita mendapat ilham bahwa kita telah melakukan kesalahan.
Pada akhirnya, berjalan bersama Tuhan setiap harinya akan melepaskan beban berat dalam proses pasca pengambilan keputusan itu. Kenapa? Karena kita tahu selama kita berjalan dalam tuntunan Tuhan, bahkan kesalahan dan bencana terburuk pun bisa dipakai untuk mendatangkan kebaikan. And then we can relax, God is in His perfect control, dear!
Teruntuk kamu, sahabatku, sebut saja "Bunga", saya berdoa agar kamu tetap melibatkan Tuhan dalam mengambil dan menjalani keputusan yang kamu ambil dari setiap pilihan yang ada, selanjutnya, mari belajar menjadi wanita cantik dan ibu yang baik seperti yang kita cita-citakan dulu. Selamat menempuh hidup baru ya. Suatu saat saya akan menulis tentang kisahmu seperti yang saya janjikan kemarin. Percaya dan tunggu sajalah, hiihhii..
Dan kamu, sumber ide saya malam ini, mungkin efek lengan yang semakin kekar karena push-up dan belajar tenis dua minggu ini menjadikanmu semakin bijak dan dewasa sekarang. Semoga kamu konsisten ya menjalani pilihanmu untuk tidak merokok dua minggu ini. Saya tunggu cerita-cerita inspiratifmu selanjutnya...
Dan saya, ahh kenapa tiba-tiba malam ini bahasa saya menjadi berat begini yah. *melipir*

THEN, OF COURSE,  THE CHOICE IS YOURS!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 07, 2013 0 komentar
Label: Kisah Kita, me and my GOD, opini, random thinking, untuk sahabat

Jumat, 25 Januari 2013

Ngangkot yuk!


Angkutan kota adalah sebuah moda transportasi perkotaan yang merujuk kepada kendaraan umum dengan rute yang sudah ditentukan. Tidak seperti bus yang mempunyai halte sebagai tempat perhentian yang sudah ditentukan, angkutan kota dapat berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang di mana saja. (Wikipedia Indonesia)

Kami lebih suka memanggilnya dengan bentuk akronim, angkot. 

Lucu. Secara bertubi-tubi seakan-akan pada saat yang sama sekeliling saya bicara soal ini. Dari mulai isi bbm chat dengan teman saya yang menyinggung kalau orang dengan kaki terpincang seperti saya akan sulit naik angkot,

sampai kelompok-kelompok orang yang memang mengulas habis tentang si angkot ini sendiri. Saya sendiri sudah lama menjadi pengguna setia angkot bahkan ketika saya masih duduk di bangku SMP di Medan. Sayangnya ketika SMA, dikarenakan daerah tempat saya sekolah tergolong kecil, dan saya tinggal di asrama, saya jadi jarang naik angkot. Sama halnya ketika sudah bekerja di Manna. Ahh, bahkan tak sekalipun saya pernah melihat sosok angkot disana. Sangat disayangkan ya!

Tetapi kemarin, ketika pulang check-up dari RSUP H.Adam Malik, bersama sang ibu dan adik perempuan saya, kembali saya mencicipi rasanya naik angkot, dan tersenyum simpul mengenang nostalgia.. (halaah, lebay..)

FYI: Ini pertama kalinya loh saya ngangkot di Medan sejak sakit beberapa waktu lalu


Bukan perihal sejarah atau bahasan serius yang mau saya bagi. Hanya hal-hal kecil yang sering jadi rutinitas orang di dalam angkot.

Pertama, saya bisa jadi orang paling sok tahu. Kenapa? Saya senang menerka-nerka latar belakang, urusan, tujuan akan ke mana, sampai apa yang dipikirkan seseorang lewat gaya berpenampilan, apa yang dibawa, dan raut wajahnya. Dalam hal ini adalah para penumpang angkot.

Mbak-mbak PNS  berseragam dengan bedak tebal, bersepatu hak tinggi, dan wangi parfum yang semerbak.

Anak SD akan berangkat sekolah yang memilih sarapan dengan biskuit-biskut manis di tangannya sambil digandeng ibunya yang asyik merumpi dengan ibu-ibu lain dalam bahasa dan logatnya yang khas Medan, bung!

Mahasiswa yang hanya sempat sarapan gorengan dengan rambutnya yang masih basah habis keramas.

Anak ABG dengan gerombolannya yang sibuk memilin rambut dan poninya.

Dan banyak lagi, tidak akan ada habisnya kalau saya deskripsikan satu persatu. Hehehehehe

Kedua, angkot bisa jadi tempat saya untuk bertemu dan terlibat dalam obrolan singkat, basa-basi dengan orang-orang yang tanpa sengaja bertemu dalam satu mobil yang sama. Yaa.. 99% persen pertanyaan yang dilontarkan ketika si A bertemu dengan si B di angkot,

"Mau ke mana?" atau "Dari mana?"

Klasik. 

Tapi setidaknya ada tambahan informasi yang saya dapatkan ketika terlibat dalam obrolan super singkat itu. 

Ketiga, saya  jadi orang yang "tidak sengaja" tahu urusan orang. Hahaha. Toh bukan salah saya kalau kuping ini tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan orang lain yang jaraknya tidak sampai 1 meter dari saya. Atau bahkan pembicaraan di telepon genggam, di mana si penerima telepon berbicara keras-keras sampai seantero angkot bisa dengan jelas mendengarkan. Mulai dari gosip tentang anu, obrolan ringan tentang kehidupan, sampai obrolan basa basi ketika si A tidak sengaja bertemu dalam satu angkot yang sama dengan kenalannya.

Interaksi langsung dan tidak langsung sekelompok manusia beda latar belakang dalam satu atap kendaraan yang sama. Saya anggap sebagai cerita yang tidak ada habisnya, dengan penumpang yang silih berganti, pun dengan kisahnya masing-masing. Selalu baru, seru!

Ngangkot, yuk! :)



>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, Januari 25, 2013 0 komentar
Label: opini, semacam curhat

Sabtu, 19 Januari 2013

u.n.t.i.t.l.e.d

Mungkin memang tidak semua rasa harus diberi nama, karena rasa itu bukan manusia atau jalan yang memang harus diberi nama agar tidak salah sebut, tidak salah tujuan.

Dan rasa itu memang terlalu rumit untuk diberi nama. Seperti cinta, misalnya. Setiap orang punya pengertiannya sendiri tentang cinta. Semuanya benar, semuanya salah - tergantung siapa yang mengatakan, apa latar belakang orang itu, dan dari sudut pandang yang mana.

Juga rasa ini. Atau rasa yang itu.

Lalu ada kalanya kita memberi nama suatu rasa, dan ternyata kita memberi nama yang salah. Karena ada rasa yang dapat dirasakan sendiri, dan ada rasa yang sebaiknya dirasakan oleh dua orang. Dan yang terakhir itu kadang diberi nama yang berbeda oleh keduanya. Yang satu bisa saja menamakannya “cinta”, tapi yang satu lagi mungkin hanya memberinya nama “suka”. Atau yang satu memberinya nama “nyaman”, yang satu lagi memberi nama “kesepian”.

Kurang lebih seperti itu.

Jadi, apalah arti sebuah nama jika hanya untuk memberi label ke sebuah rasa yang diartikan berbeda-beda oleh pihak yang merasakannya? Atau bahkan oleh pihak yang bahkan tidak pernah memikirkan tentang rasa itu sendiri?

Ini memang rumit. Tidak sesederhana menggoreskan tinta di atas permukaan kulit.


Bila memang, ku yang harus mengerti:
Mengapa cintamu tak dapat ku miliki?
Salahkah ku bila:
Kau lah yang ada di hatiku?
*sayup2 terdengar Untitled-nya Maliq mengalun lembut
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Sabtu, Januari 19, 2013 0 komentar
Label: lagu, opini, random thinking

Kamis, 17 Januari 2013

Bukan Sekedar Kisah Candi Prambanan


Tulisan ini dibuat berdasar pengalaman yang ingin saya bagikan, bukan dari pengetahuan tentang mana yang baik dan mana yang buruk, juga bukan dari buku, seminar psikologi populer, film drama romantis apalagi dari wikipedia. Tujuan saya mengumbar pendapat pribadi adalah untuk memuaskan kebutuhan saya yang gagal jadi provokator.


Teman saya selalu bilang, "Hari gene???" kalau saya mulai ceramah tentang pikiran-pikiran saya yang tergolong 'extra terrestrial'. Saya kemudian berkilah bahwa setiap orang itu punya waktu perkembangan sendiri-sendiri, dan beberapa diantaranya agak terbelakang.


Berawal dari pertanyaan klise: apakah jatuh cinta itu? Saya percaya anak ABeGe dengan semangat akan berpendapat macam-macam tentang 'perasaan kejatuhan duren' ini. Saya bukan orang yang skeptis. Sebaliknya (saya pikir) kadang-kadang saya bisa justru setengah mati melankolis romantis. Tapi ini bukan masalah naksir-naksiran atau drama percintaan yang mengharu biru. Ini pertanyaan mendasar: apakah perasaan menghanyutkan yang disebut jatuh cinta ini nyata dan bisa dipertanggung jawabkan seperti UUD 45? Belakangan ini saya punya pendapat yang berbeda tentang perasaan. Menurut saya perasaan itu nyata, benar berdasarkan apa yang kita percaya tapi tidak selalu bisa dipertanggung jawabkan. Ini karena sebagai manusia kita tidak bisa bersikap selalu obyektif, faktual dan tanpa prasangka seperti koran Kompas. Perasaan kita terhadap orang lain selalu dipengaruhi oleh apa yang kita anggap berharga, apa yang kita butuhkan, apa yang kita percaya, dan (sedihnya) apa yang diiklankan media massa.


Contohnya: waktu tahun kedua di kampus, saya dan teman-teman paling takut dengan mata kuliah akuntansi keuangan lanjutan. Selain dosennya menyeramkan, punya nilai mati agar tidak di-drop-out, banyaknya quiz yang diadakan juga tekanan dari sesama mahasiswa yang sama-sama ketakutan, tidak heran ada teman saya yang jadi naksir berat dengan kakak kelas yang jadi tentor kami di setiap belajar kelompok. Kenapa? Apa mungkin ya karena kami yang waktu itu bahkan sampe sekarang  ga ngerti akuntansi menganggap bahwa kesuksesan dalam ujian itu berharga, jadi sangat dibutuhkan orang yang bisa mengajari akuntansi, dan begonya kami percaya bahwa ganteng dan jago akuntansi adalah kombinasi sempurna, seperti gado-gado dan emping, dan berhubung dia populer di kalangan mahasiswi, kalau dia menaruh perhatian kan jadinya tersanjung. Semuanya masuk akal, semuanya benar, tapi tidak berarti secara obyektif teman saya itu benar-benar tertarik padanya. Kalau dia tidak pernah menjadi tentor dalam belajar kelompok kami, mungkin dia juga tidak akan menaruh perhatian pada sang kakak kelas ini. Keadaan dan situasi yang mendorong dia untuk naksir tanpa melihat secara lebih baik karakter dan sifat orang yang ditaksir. OK, mungkin saya terlalu serius melihat masalah ini. Sebetulnya ini cuma contoh, karena ternyata tanpa saya sadari setelah bertahun-tahun lewat sejak saya ABeGe saya masih belum bisa membedakan antara 'naksir' dan benar-benar menjalin hubungan dengan orang lain. Saya selalu melihat perasaan jatuh cinta seperti virus rabies yang tidak bisa dikendalikan, yang jika menginfeksi akan membuat penderitanya mirip anjing gila (mungkin dengan gejala mulai suka pipis sembarangan). Bahkan media massa mendukung ide ini. Jatuh cinta dianggap seperti keadaan yang tidak terelakkan, seperti penyakit mental, karena itulah digunakan kata "jatuh" dan "tergila-gila". Dan keadaan ini didukung dengan lagu-lagu romantis dan drama cium-ciuman (dengan ibu tiri di latar belakang -____-). Setelah saya pikir kembali, ini semua adalah alasan untuk membenarkan apa yang saya rasakan, tanpa menimbang apakah yang saya lakukan benar dan layak untuk jangka panjang. Banyak orang menjalin hubungan gelap dengan suami orang, berkencan dengan pacar orang, atau sekedar hubungan tidak sehat berdasarkan perasaan sesaat. Jadi, kalau dulu saya berpikir bahwa perasaan suka itu tidak bisa disalahkan, sekarang saya percaya bahwa jatuh cinta itu sangat relatif dan subyektif, sama seperti emosi yang lain: perasaan sedih, marah, senang, atau terkejut. Nyata, tapi tidak selalu benar. Kalau saya turuti saja perasaan ini, mula-mula saya merasa terpuaskan, tapi tidak selalu mengarah ke tempat yang benar.
Apakah salah untuk jatuh cinta dan berkencan dengan orang yang kita taksir? Tentu tidak, asal jangan keterusan. Maksud saya, nikmati perasaan suka karena ini anugerah, tapi tetap berusaha mengenal orang ini lebih baik sebelum memutuskan bahwa dia adalah 'bapaknya anak-anak' ^_^. Sekali lagi, ini bukan dari teori benar atau salah, dondong opo salak. Ini cuma pendapat saya sendiri. Kenapa tiba-tiba saya bicara ngalor ngidul tentang hal ini? Karena saya mengalami sendiri; tergila-gila pada seseorang hanya karena saya bosan, kesepian, mencari dorongan semangat atau sekedar bahan obrolan di kala ngopi dengan teman perempuan.


Dulu saya juga pernah naksir dengan seorang kakak kelas jaman SMA. Lalu patah hati. Tidak perlulah saya jelaskan lebih rinci detailnya. Meskipun belum move-on sepenuhnya, tapi kalau saja seandainya ada seorang teman cowok baru yang jago seni lukis, musik, pinter bikin kue dan selalu bau peppermint (ini bukannya dangkal dan menilai penampilan orang, hanya sebagai gambaran saja). Dan kalau saja dia menggambar sketsa wajah saya, memainkan musik dan menyanyi buat saya, menemani saya jogging dan duduk di samping saya tiap saya lagi bete, dan hal-hal sepele lain yang bikin melting. Sekali lagi, saya katakan ini hanya berandai-andai. Belum ada unsur kebenaran di dalamnya.  Tentu saja sebagai cewek jomblo yang lagi frustrasi, saya seperti 'melihat cahaya di ujung lorong yang gelap' alias menemukan kilauan dalam kemonotonan (gak lebih jelas deh kayaknya, hehe). Saya sungguh merasa tertarik dan percayalah, jatuh cinta itu lebih enak daripada patah hati (tidak perlu dijelaskan kayaknya). Tapi saya merasa kembali ke bangku SMA. Orang bilang: turuti saja, perasaan suka itu siapa yang bisa tahu. Saya cuma merasa, dari masa ABG sampai sekarang, saya tidak betul-betul punya pendirian tentang menjalin hubungan. Hanya berdasarkan ketertarikan dan perasaan yang menghanyutkan tidak akan mengarah pada hubungan yang sehat dan dewasa. Saya butuh itu sebagai pondasi hidup saya kelak. Saya bukannya berfokus pada pernikahan dan keluarga, tapi pada hubungan yang benar, yang bisa saya pertanggung jawabkan. Sudah waktunya saya menjadi dewasa dan berhenti main pacar-pacaran (hari gene gitu loh). Tapi ini bukan sekedar mencari kemapanan atau pasangan hidup, saya percaya ada yang lebih dari sekedar romantika hubungan lawan jenis. Pernikahan dan keluarga itu bagian penting dari hidup, tidak bisa untuk main-main.

Saya kira saya tidak bisa main kencan dengan orang yang saya anggap menarik, tidak juga memutuskan untuk serius dengan seseorang hanya karena saya bertujuan cari suami. Jadi? Saya ingin berfokus pada pembentukan karakter saya lebih dahulu. Untuk suami dan keluarga di masa depan? Bukan. Untuk kematangan saya sendiri. Karena keluarga bukannya tujuan akhir. Semua ini proses, baik ketika kita jomblo, pacaran, tunangan ataupun sudah menikah, itu semua perjalanan yang berkelanjutan. Siapa saya dan apa keputusan saya akan berpengaruh pada orang lain. Karena itulah saya harus mengambil keputusan yang bisa saya pertanggung jawabkan.


Sore tadi ada teman saya yang bilang saya terlalu banyak berpikir tentang hal-hal yang tidak penting. Tidak praktis. Saya berkilah bahwa pikiran saya mungkin sama dengan orang lain, cuma saya punya kemampuan untuk membicarakannya dengan cara yang ruwet. Jadi kelihatan rumit ^_^.
Pada dasarnya saya cuma ingin bilang: saya percaya bahwa ada hubungan yang benar.

Bukan sekedar tentang kisah cinta yang romantis dan pasangan sempurna. Bukan sekedar bibit bobot bebet atau persamaan agama, tingkat pendidikan, ras, atau kemampuan ekonomi. Hubungan ini tidak dibangun dalam semalam seperti candi prambanan (saya juga tidak percaya candi prambanan dibangun dalam semalam seperti legendanya, kecuali yang membangun itu alien), tapi saya kira hal ini layak dicari. Dan ini bukannya membuat saya jadi biarawati, saya cuma jadi bebas menikmati setiap waktu saya, tidak takut kehilangan apapun, tidak cemas berharap apapun dan tidak dikejar apapun, karena saya menikmati setiap prosesnya. 

Lagipula, bukannya kebahagiaan itu ketika kita menikmati apa yang ada dan bersyukur karenanya?
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Januari 17, 2013 0 komentar
Label: opini, random thinking
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates