skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label pekerjaanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaanku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Mei 2013

Penyerapan Anggaran Meningkat, Kinerja Juga Harus Meningkat - Liputan Sosialisasi Revisi DIPA 2013 di KPPN Manna

Pengantar: Berita Liputan ini juga akan saya kirimkan ke Media Center Perbendaharaan. Ah, pasti akan ada banyak sekali typo. Yasudahlah, yang penting mencoba. :p

Menyadari peran pentingnya sebagai representasi Kementerian Keuangan di daerah, Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu bekerja sama dengan KPPN Manna menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Revisi DIPA Tahun Anggaran 2013 pada Selasa (7/5) di Manna. Kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh para pejabat perbendaharaan pada satuan kerja di wilayah pembayaran KPPN Manna ini membahas PMK Nomor 32/PMK.02/2013 tentang Tata Cara Revisi Anggaran Tahun Anggaran 2013 yang diundangkan 6 Februari 2013 lalu dan Perdirjen Perbendaharaan Nomor 12/PB/2013 tentang Petunjuk Tenis Revisi Anggaran yang Menjadi Bidang Tugas Direktorat Jenderal Perbendaharaan Tahun Anggaran 2013 yang terbit pada 8 April 2013. Sejumlah 90 orang yang menjabat sebagai Kuasa Pengguna Anggaran, bendahara, dan staf operator aplikasi dari masing-masing satuan kerja di Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Kabupaten Kaur tampak memadati Gedung Aula KPPN Manna.

“Dengan Revisi DIPA Tahun Anggaran 2013, kita tingkatkan akuntabilitas, transparansi, dan percepatan penyerapan anggaran dalam wilayah Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu”. Demikian tema yang diusung dalam kegiatan sosialisasi ini. Pernyataan tersebut juga kembali ditegaskan oleh Kepala KPPN Manna, Gustani, saat membuka secara resmi acara sosialisasi. “Sangatlah memungkinkan adanya revisi, mengingat tenggat waktu perencanaan dan pelaksanaan anggaran cukup lama, perencanaan yang disusun pun belum mencakup seluruh kebutuhan tahun tersebut. Setiap revisi pun harus jelas tata kelola, kewenangan, prosedur, persyaratan, dan tidak menimbulkan multi tafsir. Dengan lancarnya revisi anggaran, diharapkan kualitas belanja APBN akan meningkat seiring dengan meningkatnya pencapaian kinerja kementerian/lembaga,” ujar Gustani dalam sambutannya, sekaligus menerangkan latar belakang diadakannya sosialisasi.

Abu Lerman Hutagalung, narasumber sosialisasi, dalam paparan materinya juga mempertegas kembali tentang pemisahan peran antara Kementerian Keuangan sebagai Chief Financial Officer dan kementerian/lembaga sebagai Chief Operational Officer dalam pengelolaan anggaran. Sesuai prinsip Let’s the manager manages, kewenangan penyelesaian revisi akan diarahkan lebih besar kepada KPA dan Eselon I Kementerian/Lembaga sebagai penanggung jawab program dan pengguna anggaran. Oleh sebab itu, sangat diharapkan para satuan kerja agar selalu tanggap akan prioritas kebutuhan dan perubahan kondisi dalam pelaksanaan anggarannya. Abu juga menjelaskan bahwa terdapat perubahan sistem yang cukup drastis dibandingkan dengan tahun 2012, yang menyebabkan baru pada triwulan II 2013 lah dapat dilaksanakan revisi anggaran secara penuh. Pengalihan proses bisnis penyelesaian pengesahan anggaran yang semula di Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan kini menjadi satu atap di Ditjen Anggaran ternyata tidak semudah yang dibayangkan, termasuk dalam penyiapan perangkat aturan dan aplikasi revisinya.

Lebih lanjut dipaparkan hal baru lain yang diatur adalah pengesahan revisi DIPA yang selama ini ditindaklanjuti dengan pencetakan hard copy DIPA Revisi diganti menjadi penerbitan surat pengesahan revisi yang dilampiri notifikasi dari sistem. Revisi anggaran juga dapat dilakukan antar provinsi/kabupaten/kota untuk kegiatan yang dilaksanakan  oleh unit organisasi di tingkat pusat dan instansi vertikal di daerah selain biaya operasional, kecuali untuk satker BLU dan dalam rangka Dekonsentrasi TP dan UB. Untuk Kanwil Ditjen Perbendaharaan sendiri, kewenangannya sebagian besar meliputi revisi dalam hal pagu tetap dan yang bersifat ralat administratif.

Sosialisasi ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Abu Lerman Hutagalung dan Bambang Trihantoro, yang keduanya merupakan Kepala Seksi Pelaksanaan Anggaran Bidang Pelaksanaan Anggaran Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu. Dengan dipandu dan dimoderatori oleh Gustani, Kepala KPPN Manna, acara berlangsung cukup hangat dan segar. Antusiasme peserta yang cukup tinggi pun terlihat pada sesi diskusi dan tanya jawab di mana para undangan menanyakan permasalahan terkait anggaran yang mereka temui, seperti penambahan akun baru untuk perjalanan dinas dalam kota dan paket meeting, kewenangan revisi POK, optimalisasi anggaran swakelola, dan pagu minus untuk belanja gaji. Sangat disayangkan, acara ini tidak memiliki sesi khusus untuk membahas teknis aplikasi RKAK/L DIPA 2013, sehingga belum dapat menjawab permasalahan satuan kerja terkait pengoperasiannya. Namun demikian, menurut Bambang, satker dapat berkonsultasi kepada Customer Service Officer di KPPN Manna jika menemui kendala.

Dengan diadakannya post-test pada akhir acara, Bambang berharap dapat mengetahui sejauh mana pemahaman para peserta sosialisasi akan materi yang disampaikan. “Penting bagi kami mengetahui sejauh mana pemahaman satuan kerja tentang revisi dan pengesahan anggaran. Kesinambungan dan kesamaan persepsi, serta kerja sama yang baik perlu terjalin antara satuan kerja dan Ditjen Perbendaharaan. Jangan segan-segan menghubungi jika ada kendala.”, ucapnya pada akhir materi. Bambang juga kembali menegaskan betapa pentingnya perencanaan anggaran, agar apa yang tidak sesuai dapat segera direvisi. Acara yang selesai pada pukul 12.30 WIB ini ditutup oleh Gustani dan dilanjut dengan makan siang bersama.

“Yang paling penting adalah bagaimana anggaran yang telah disahkan ini tidak hanya terserap, tapi juga efektif, efisien, tepat sasaran, dan memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Kita sebagai pengguna anggaran lah yang bertanggung jawab atas hal ini,” tutur Gustani dalam menutup acara sosialisasi, yang disambut dengan tepuk tangan riuh para peserta sosialisasi.
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Mei 29, 2013 0 komentar
Label: liputan, pekerjaanku

Sepenggal Catatan Perjalanan dari Kota Kenangan


Pengantar: Salah satu karya jurnalistik yang akan saya kirimkan ke Media Center Perbendaharaan. Sampai sekarang belum berjudul. Sedikit merasa kesulitan bikin judul yang menarik. Dengan bahasa yang formal dan pembahasan yang agak serius, ini sulit, jendral!! Kan ini bukan blog. Sejenis Feature. Mbuh, feature apa namanya. Selamat membaca. Ditunggu kritik dan sarannya.

“Aku dapat Manna, KPPN Manna. Tanggal 20 Juni ini sudah harus di sana.”
“Nak, kamu bohong. Di mana itu?” terdengar suara kalut dari ujung telepon.
“Ya di Manna, bu. Aku juga tak tahu. Aku juga berharap ini bohong. Tega sekali mereka memberikanku surat sakti itu sebagai hadiah ulang tahun hari ini.”

Ingatan kembali melayang pada kejadian tanggal 10 Juni 2011 silam. Tanggal yang tidak akan pernah dilupakan oleh 230-an orang yang hadir saat itu. Ada yang menjerit. Ada yang hanya termangu. Ada yang menutupkan tangannya ke bibir sembari menahan air matanya. Ada yang bertepuk tangan riuh. Ada yang langsung menghubungi kawan dekat dan keluarganya. Ada yang saling berjabat tangan dan berpelukan. Ada yang lebih memilih merekam momen dengan tangan yang masih gugup gemetaran. Bahkan ada yang bernyanyi lagu Piala Dunia yang telah diubah liriknya menjadi “Wamena-mena e e waka waka tobi. O Manna Manna Saumlaki Tahuna Watampone…”

Membaca SK yang menjadi titik balik hidup, melihat nama-nama kota asing yang tertera di sana, para calon PNS Direktorat Jenderal Perbendaharaan itu hanya mampu tersenyum getir. Apa yang ada di depan sana, tidak ada yang tahu. Siapa yang akan ditemui, tidak juga ada yang tahu. Bagaimana bisa bertahan hidup dan sampai kapan akan ada di sana, pun hanya Tuhan yang tahu. Yang mereka tahu adalah sebagai punggawa keuangan negara harus bersedia ditempatkan di mana saja. Mereka, yang sering dijuluki pegawai Direktorat Jenderal Paling Berbakti dan Kantor Penjaga Perbatasan Negara tak membayangkan kalau itu hari terakhir bersama sebelum tersebar ke seluruh penjuru di pelosok tanah air.

Kota baru, status baru, tanggung jawab baru, teman baru, dan atasan baru. Sudah agak basi memang mengatakannya baru ketika kini sudah hampir dua tahun menjalaninya. Tapi, memang seperti itulah adanya, bagi saya, semua masih terasa baru. Saya masih gamang, bahkan seringkali saya tergagap. Apa yang saya songsong, dan apa yang saya tinggalkan tarik menarik menimbulkan kebimbangan. Saya terkadang lupa hidup itu maju, dan masa lalu tertinggal jauh di belakang. Jelas saja, dari Jakarta ke Manna, ada banyak sekali yang berbeda. Jakarta dengan segala kejamnya telah memberi begitu banyak teman dan cerita. Mengutip kata-kata Neale Donald Walsch, “Life begins at the end of your comfort zone”, setapak demi setapak kehidupan saya yang baru pun dimulai dari perjalanan menuju Bumi Rafflesia.

Pesawat yang membawa saya dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menuju Bengkulu terbang selama satu jam perjalanan. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bengkulu, tapi terdapat banyak perbedaan rasa di antaranya. Sesaat setelah mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno, saya seperti turut merasakan romantisme pasangan Presiden Soekarno dan Ibu Negara, Fatmawati. Entah mengapa saya merasa Jakarta dan Bengkulu seperti berjodoh, nama bandaranya saja sudah sepasang begitu. Ah, tidak, saya tidak sedang menggombal di sini.

Kota Manna yang terletak di bagian selatan Provinsi Bengkulu ini harus ditempuh perjalanan darat selama 3 jam dari bandara. Jika melakukan perjalanan pada malam hari, tidak banyak yang bisa dilihat dalam keadaan gelap sepanjang sisi jalan. Tapi jika perjalanan dilakukan siang hari, mungkin akan terasa seperti sedang shooting film Anaconda. Hutan sawit, gunung, sawah, hutan karet, pantai, dan sungai disuguhkan sepanjang perjalanan. Tidak seperti jalanan di Pulau Jawa, jalanan berliku dan berlubang-lubang memang menjadi ciri khas Pulau Sumatera. Mungkin ini yang menjadikan orang Sumatera memiliki karakter keras dan berjiwa petualang.

Jangan berharap dapat melihat bus atau angkot di Ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan ini! Dan jangan ge-er dulu jika melihat ada lelaki bermotor berhenti di depan anda sambil tersenyum mengatakan “Ayu”! Tidak, dia tidak sedang menggoda, hanya seorang tukang ojek, yang menawarkan jasa pengantaran ke mana saja dengan biaya Rp. 3.000. “Ayu” sendiri bukan berarti paras yang ayu, hanya sebuah panggilan sopan untuk wanita. Yang paling mengagumkan, sepanjang berkeliling kota, akan didapati dari mulai rumah mewah, rumah sederhana, rumah batu, rumah papan, sampai gubuk pun terpasang parabola ataupun televisi kabel. Dengan jalanan tanpa macet membuatnya sangat jauh berbeda dari Jakarta.  Nyaris tak ada debu polusi. Pernah sekali saya terlambat ke kantor memang karena macet, tapi dengan jenis kemacetan yang berbeda. Segerombolan sapi seringkali bebas lalu lalang menghadang jalan, entah milik siapa.

Gedung-gedung pencakar langit seperti yang ada di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta tidak akan ditemui di Jalan Sudirman, Manna. Jalan dua jalur yang menjadi pusat perkotaan ini sungguh tidak se-glamour Jakarta. Kalaupun ada bangunan tinggi, paling hanya tiga lantai. Lantai paling atas dipakai memelihara burung walet, yang menjadi mata pencaharian beberapa penduduknya. Tidak ada bioskop. Tidak ada mall. Hanya toko-toko dan pasar. Membeli satu baju di sini sama harganya dengan tiga baju di Tanah Abang. Di ujung jalan ada taman yang biasa dikunjungi orang sore hari. Tampak anak-anak kecil berlarian. Ada ibu-ibu yang sedang menyusui bayinya. Ada pengasuh yang sedang memberi makan anak. Beberapa gadis ABG tertawa-tawa sambil merapikan poninya. Beberapa pemuda sedang memeriksa motornya yang akan dipakai balapan pada malam harinya. Tak luput juga dari perhatian, pasangan-pasangan yang duduk di sudut-sudut taman. Di tengah Taman Merdeka Manna terdapat sebuah tugu yang disebut Monumen Manna. Sungguh mirip Monas, tapi yang ini versi mini. Ah, rasa kangen pada Jakarta sedikit terobati.

Sama kerennya seperti mengatakan “gue-lo” di Jakarta, “ambo-kaba” juga menjadi sapaan akrab di sini. Hanya saja jangan katakan “kaba” pada orang yang lebih tua jika tidak ingin dia tersinggung. Hingga kini, kesulitan berbahasa masih saya alami. Untungnya, saya banyak belajar dari penduduk sekitar. Orang Serawai, begitu mereka menyebut dirinya sebagai penduduk asli Manna. Tak jarang juga saya menemukan orang Jawa, orang Padang, bahkan orang Batak di sini. Mendengar mereka berbicara bahasa Serawai bercampur logat asli suku sendiri seperti sedang merasakan indahnya Bhineka Tunggal Ika. Saya yang dulunya tidak mengenal siapa-siapa di sini, berangsur-angsur mulai memiliki kenalan. Mulai dari teman-teman kantor, satker-satker yang datang ke KPPN, pegawai-pegawai bank, teman latihan tenis, hingga teman dari gereja tempat saya ibadah setiap Minggu. Jelas saja, untuk beradaptasi dan dapat masuk dalam komunitas terasa sulit di awal. Namun memang pada dasarnya, masyarakat Indonesia itu gemah ripah loh jinawi, sama halnya dengan masyarakat di sini yang terbuka menerima orang baru. Saking eratnya ikatan kekeluargaannya, kota ini dijuluki Bumi Sekundang Setungguan. Sekundang setungguan dapat diartikan sebagai kebersamaan, persahabatan, dan kekeluargaan ketika tinggal bersama. Ah, manis sekali. Saya yang dulunya hanya bisa menjawab “au” yang artinya “ya” tiap ditanya apapun, kini paling tidak sudah bisa bilang “enggup” untuk menolak sesuatu. Pelafalan “e” jadi “i”, “r” menjadi “gh”, dan beberapa kata ditambahkan “u” di ujungnya. Kini ketika ada yang berkata pada saya seperti ini, “Gris, jak manau? Makan di ghumah kudai au,” saya bisa mengerti. Walaupun untuk beberapa kasus, seperti ketika ada satker datang ke kantor dan berbicara bahasa Serawai, sekalipun sudah berkonsentrasi penuh mendengarkan, saya tetap tidak bisa mengerti.

Di kota ini pula lah saya pertama kali makan tempoyak, sambal yang terbuat dari durian. Sejak di sini juga saya jatuh cinta pada pempek dan pindang patin, makanan khas Palembang, yang juga banyak terdapat di sini. Wajar saja, mengingat daerah yang dulu sempat dijajah Inggris ini, merupakan pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. Dari segi bahasa dan karakteristik wajah, keduanya masih satu rumpun. Yang sangat disayangkan adalah Bengkulu belum mampu mengejar ketertinggalannya dari provinsi tetangganya. Di saat Palembang telah dihiasi gemerlapnya lampu kota, di Bengkulu sendiri masih sering terjadi pemadaman bergilir. Ketika Jembatan Ampera ramai dikunjungi wisatawan, banyak orang malah tidak tahu apa itu bunga Rafflesia Arnoldi. Ironis memang. Saya jadi ingat sepintas obrolan dengan teman soal daerah penempatan, “Ah, kamu mah enak masih dapat Sumatera. Gak kayak si anu di Papua.” Saya hanya tertawa dan menjawab dengan guyonan, “Bengkulu memang Sumatera. Sayangnya Sumatera rasa Papua.” Bagaimana tidak? Hampir sebagian besar propinsi ini merupakan daerah endemik malaria. Demam sedikit langsung divonis malaria. Mengkonsumsi pil kina sudah menjadi hal lumrah. Tak hanya beradaptasi terhadap masyarakatnya, tapi mungkin juga harus beradaptasi terhadap nyamuk dan pola hidup di sini.

“Aku rela deh penempatan Manna. Aku cinta pantai. Ah, enak banget lo!” Pernah teman saya yang berkunjung ke Manna berujar demikian. Saya bersyukur sebagai pecinta suara ombak dan penikmat birunya laut, saya ditempatkan di daerah pantai, bukan di daerah gunung. Ketika merasa penat dengan segala apa yang ada di kantor, kita bisa lari ke pantai dan melampiaskannya di sana. Begitu pikir saya. Di belakang rumah dinas KPPN tempat saya tinggal, terdapat tempat favorit saya melarikan diri dari segala rutinitas. Sepertinya belum bernama, hanya penduduk sekitar yang menamakannya Taman Remaja. Di sekitar taman terdapat bunker-bunker peninggalan penjajahan Jepang. Duduk di kursi bambu, memandang dari ketinggian taman, langit dan laut yang seperti menyatu, menunggu senja di ufuk barat, dan ditemani secangkir kopi. Maka, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Bagi perantauan seperti saya dan teman-teman kantor lainnya, hidup di kota kecil seperti Manna dengan segala keterbatasan yang ada menjadi alasan kami menghabiskan banyak waktu di kantor. Entah itu untuk bermain tenis atau sekedar internetan. Terkadang di akhir pekan, kami berburu pantai. Bentuknya yang seperti putri tertidur, memanjang di sepanjang sisi barat Pulau Sumatera, menjadikan Propinsi Bengkulu memiliki banyak pantai. Pantai Panjang mungkin yang paling banyak dikenal. Pasalnya, selain terletak di ibukota propinsi dan lebih mudah dijangkau, pantai ini memiliki garis pantai terpanjang se-Asia Tenggara. Namun demikian, ada tempat lain yang layak saya sebut The Hidden Paradise. Pantai Laguna dan Muara Kedurang sangatlah eksotis. Jika nanti anda berlibur atau dinas ke sini, pastikan anda mengunjungi kedua tempat ini! Hanya sangat disayangkan, objek dan infrastruktur wisatanya tidak terurus.

Tak berlebihan rasanya jika Manna memiliki sebutan sebagai Kota Kenangan. Ketika kaki melangkah masuk dan keluar, ada banyak hal manis dan pahit yang dikenang. Saya bisa mengenang bagaimana rasanya menjadi “anak kemarin sore” di kantor. Saya bisa mengenang pertama kali di kantor dihadiahi satker sebuah permen Kiss. Di bungkusnya ada tulisan “Perjalanan masih panjang.” Ya, saya, anda, dan kita memang sedang melakukan perjalanan. Sepanjang perjalanan ini saya banyak menemukan. Temuan-temuan tersebut kemudian membentuk pribadi saya, mempengaruhi cara berpikir, bersikap, berperilaku. Saya menemukan banyak pengalaman yang membuat saya lebih luwes dalam hidup. Kenapa lebih luwes? Karena di mana pun kita, akan ada sisi liar kehidupan, yang kadang bisa ditaklukkan, bisa juga diajak berteman.

Saya ingat, saya memang pernah berniat, di mana pun saya ditempatkan, saya ingin menulis dan bercerita sebanyak-banyaknya tentang daerah itu. Semata-mata agar tidak banyak anak muda yang merasa takut ketika harus bertugas di belahan lain tanah airnya. Ketakutan tidak sama dengan rasa gugup karena penasaran.

Telah, sedang, dan akan di mana kita nanti, Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Sekalipun apa dan siapa yang kita inginkan tidak bisa kita temui segera. Sekalipun berada di tempat yang serba sepi, serba jauh ketinggalan, dan serba ala kadarnya. Ada banyak sisi baik yang bisa ditemukan. Ada banyak hal berguna yang tetap bisa dikerjakan. Bagian kita adalah bagaimana menjadi orang yang mumpuni, punya jiwa melayani publik, bertanggung jawab kepada atasan, masyarakat, dan Tuhan. Hingga kini pun, saya masih terus belajar dengan segala keterbatasan yang ada dalam diri maupun peradaban yang ada, dan tak jarang harus mengakrabi alam yang rawan gempa. Semoga tidak terlalu muluk.

Sekian cerita dan masih tidak berhenti. Hingga nanti.

Manna, 25 Mei 2013
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Mei 29, 2013 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, feature, pekerjaanku, semacam curhat

Senin, 02 Januari 2012

2011 Unforgetable Moment: From Jakarta to Manna with Love

Pengantar:
02:39 PM menurut laptop; di hari terakhir berlibur di rumah, di saat saya sadar betul bahwa saya harus segera berkemas, tapi justru nyaris tidak melakukan apa-apa sejak pagi, kecuali menulis ini. Tidak apa-apa, kan, kalau untuk kali ini saya berharap dimaklumi? Namanya juga liburan. Dan entah kenapa, ingatan saya melayang pada kejadian di pertengahan tahun 2011 yang telah berlalu kemarin..

“Aku dapet Bengkulu Selatan, Manna, tanggal 20 ini harus sudah di sana,” kata saya tergesa, Jumat sore itu.
“Nak, kamu bohong!” kata sang ibu di ujung telepon.
“Aku juga berharap ini bohong….”

Ada yang menjerit. Ada yang hanya termangu. Ada yang menutupkan tangannya ke bibir sembari menahan air matanya. Ada yang bertepuk tangan riuh. Ada yang langsung menelepon kawan dekatnya yang ada di jauh. Saya sendiri memilih mencari cara lain: merekam momen itu, walaupun hasilnya rasa gugup tetap tidak bisa terhindari, sampai-sampai tangan saya yang sedang memegang ponsel bergetar hebat sekali.

Saya masih ingat benar. Sejak sekitar bulan April 2011, saya rajin bertanya ke siapa saja, “Kapan kita penempatan?”.  Bukan karena saya takut atau tidak siap, melainkan karena saya mengharapkannya segera datang. Jadwal magang yang ternyata diperpanjang lagi hingga Juli membuat saya sedikit kecewa. Apalagi ketika menurut analisis teman-teman, kami baru akan disebar setelah diklat prajabatan dan lebaran.

Penempatan menjadi sesuatu yang saya nanti-nanti. Dan keinginan ini bukanlah keinginan maju-mundur, yang hari ini saya ingin segera penempatan lalu besoknya sebaliknya.

10 Juni 2011. Tepat di hari ULANG TAHUN saya yang ke-22 tahun. Saya rasa 230-an orang yang berkumpul di aula kemarin tidak akan pernah lupa tanggal ini. Ada sambutan Pak Ludiro yang menurut saya prolognya bagus sekali, tidak memberi celah untuk menebak ujungnya beliau mau bicara apa. Baru di tengah sampai menjelang ganti pembicara, ada kalimat-kalimat “Tujuh bulan magang saya rasa sudah cukup…,” “Anda semua adalah tulang punggung…,” “… lebih baik segera ditempatkan…,” “Kantor kita tersebar di seluruh wilayah Indonesia… tidak bisa seratus persen memenuhi keinginan semua pegawai…,” “… hampir tidak ada yang sendirian, ada teman, minimal dua orang…”.

Saya sengaja mencatat selengkap mungkin sambutan-sambutan bapak-bapak yang jadi pembicara. Bahkan penjelasan dari pegawai lain pun ikut saya catat. Namun, ternyata itu tidak berlangsung lama. Begitu sudah pasti dan para pegawai sudah membawa SK ke ruangan, saya tidak bisa mencatat apa-apa lagi. Catatan saya di halaman berikutnya bersih.

Akhirnya saat ini tiba. Saat-saat yang selalu saya tanyakan kapan datangnya sejak beberapa bulan lalu. Saat-saat yang menurut analisis versi obrolan magang diprediksi masih lama datangnya, tapi ternyata datang lebih cepat dari yang diduga. Saat-saat yang seumur hidup baru ini saya alami, dan ternyata rasanya luar biasa.

Tak Disangka: Manna
Surat sakti bernama SK Penempatan yang saya terima sore itu menunjukkan bahwa saya ditempatkan di Manna, sebuah kabupaten di sisi selatannya Bengkulu,propinsi yang bentuknya memanjang seperti seorang putri tertidur itu.

Daerah ini sama sekali tidak termasuk empat kota yang saya pilih di poling penempatan. Namanya bahkan baru saya tahu ketika saya membuka SK. Lalu, saya menyesalkannya? Sama sekali tidak. Saya bersyukur bahwa kesadaran saya terkumpul baik saat itu sampai saat ini, sehingga tidak ada rasa semacam ketakutan atau bahkan penolakan. Saya pun sadar betul bahwa di sana nanti akan sama sekali berbeda dari Jakarta.

Jakarta, dengan segala kejamnya sudah memberi saya banyak sekali teman dan cerita. Di sini segala ada. Dari anak kecil dekil yang tiap malamnya tidur di jembatan penyeberangan tanpa alas dan telanjang kaki, sampai mereka yang tidak bisa tidur jika pendingin ruangan di kamarnya mati. Dari peminta-minta di metromini, penjambret yang dengan saktinya bisa lari kencang membelah lautan kendaraan yang rebutan jalan, sampai mereka lulusan universitas terkemuka yang mau memberi kuliah cuma-cuma. Dari pedagang yang dengan nekatnya jualan di rel kereta, sampai mereka yang punya merek produk yang hanya dijual di mal pusat kota. Ah, Jakarta akan menyita puluhan paragraf kalau saya harus menuliskannya, dan memang ia lebih baik dituliskan di judul tersendiri.

Dari Jakarta ke Manna , pasti akan ada banyak sekali yang berbeda. Namun, saya ingat pernah berniat, bahwa di mana pun saya nanti, saya ingin sekali menulis sebanyak-banyaknya tentang tempat itu. Semata hanya:  agar tidak ada lagi anak-anak muda yang merasa ketakutan (ketakutan tidak bisa dipersamakan dengan perasaan gugup karena penasaran) ketika harus bertugas di belahan lain di tanah airnya. Semoga itu tak terlalu muluk…

>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Januari 02, 2012 0 komentar
Label: pekerjaanku, semacam curhat

Rabu, 23 November 2011

Aku ingin atau Aku harus???

19.11 WIB
KPPN Manna

Kantor telah sepi. Namun, saat ini, saya dan beberapa orang teman masih berada di sini. Suara yang terdengar hanya butiran hujan yang mengalir dari atas atap. Mungkin ini yang menjadi alasan saya dan beberapa orang ini masih belum pulang, tapi sepertinya tidak juga.
Hidup di kota kecil seperti Manna dengan segala keterbatasan yang ada menjadi alasan kami menghabiskan banyak waktu di kantor.
Dan saat ini, di saat internet kantor masih menyala, pikiran saya melayang pada pembicaraan dengan ibu beberapa waktu lalu.

"Nak, ibu lagi coba2 cari koneksi, ada teman ibu yang udah punya jabatan di sini, sudah eselon III. Ibu coba minta tolong, siapa tau kamu bisa dipindah ke Medan, atau paling tidak ke tempat yang lebih ramai dan lebih gampang buat pulang lah.", ujar beliau.
Saya hanya tertawa dan menjawab, "Gak usah, bu. Nanti juga kalau sudah menikah, saya ikut suami."

Jujurly speaking, hingga saat itu saya masih berpikir bagaimana cara tercepat dan termudah saya bisa pindah dari kota ini, hingga menikah pun saya jadikan sebagai alternatif.
Kantor saya terletak di propinsi Bengkulu, tepatnya di Manna, Kab. Bengkulu Selatan, bukan di ibukota propinsi. Ibukota propinsinya sendiri adalah Bengkulu, namun Bengkulu sendiri masih tergolong sepi untuk ukuran sebuah ibukota propinsi. Mungkin anda sendiri bisa membayangkan bagaimana dengan Manna kalau begitu?
Jika dibandingkan dengan tiga kota yang saya pernah tinggal, Manna sungguh sangat jauh ketinggalan, serba sepi, dan serba apa adanya.
Ketika kembali saya memikirkan tawaran itu, tiba2 terlintas begitu saja, "Ternyata gampang sekali ya kalau aku mau mencicipi kenyamanan yang aku idam-idamkan. Tinggal bilang "urus saja bu", pasti ibu saya akan mencari bala bantuan, kalaupun tidak, tinggal pilih menantu dari Medan,saya akan pindah ke Medan. Tapi, apa iya sesederhana itu keadaannya?"

"Life begins at the end of your comfort zone." *Neale Donald Walsch*

Di kantor saya, sekarang hanya ada 12 orang, di antaranya 4 orang Kepala Seksi, dan 8 pelaksana. Sejak saya datang ke kantor ini, sudah hampir 5 bulan kantor ini berjalan tanpa Kepala Kantor. Beberapa bulan sebelumnya, kantor ini memang lebih rame, sebelum para senior saya rame-rame dimutasi ke KPPN Percontohan oleh SK beberapa waktu lalu. Saya sendiri antara bangga dan sedih karena mereka pindah. Bangga, karena kinerja mereka memang bagus, sehingga memang layak dapat tempat yang lebih bagus, dan demi karir dan kehidupan mereka yang lebih baik juga. Sedih, sebab bisa dibilang mereka adalah tulang punggung kantor ini, jauh lebih berpengalaman, dan begitu banyak membantu kami--yang masih "anak kemarin sore".
"Bagaimana nanti kantor ini tanpa mas-mas itu? Alangkah sepinya.. Siapa yang ngerjain ini..itu..bla bla bla bla, dst.." begitu pikir saya ketika SK itu keluar.

Di satu sisi, saya bersyukur, 8 pelaksana di kantor saya seluruhnya adalah anak prodip -- sebutan bagi STAN jaman dulu. Dua diantaranya jauh lebih senior daripada saya, dua lainnya memang masih terbilang muda, hanya sekitar 5-6 tahun beda usia dengan saya, namun jauh lebih berpengalaman daripada saya dan 2 teman saya seangkatan di sini, dan seorang lagi masih terbilang baru, untuk urusan kantor belum banyak pengalaman dikarenakan menempuh pendidikan S1 beasiswa internal. Saya sering bertanya pada para senior ini tiap menemui masalah dalam pekerjaan. Melihat kinerja mereka, saya sempat berpikir, tanpa kepala seksi pun kantor ini bisa berjalan.
Di sisi lain, saya harus "terjebak" dalam kondisi menyedihkan. Ada mitra kerja yang datang atau menghubungi kantor dengan membawa masalah. Saya, yang saat itu bertemu mereka, ada, tanpa bisa memberikan solusi apa2 karena memang tidak menguasai hal itu. Dan terpaksa saya harus bertanya pada senior di sini.
Bagaimana jika mereka, orang-orang yang saya andalkan sedang tidak ada di tempat? Bagaimana jika nanti mereka yang lebih berpengalaman juga dimutasi? Bertahan dengan 12 orang pegawai saja rasanya sudah begini, bagaimana kalau orang di kantor ini harus berkurang lagi? Belum lagi, mungkin hanya para pelaksana yang menguasai teknis pekerjaan di sini,(maaf, tapi saya harus sebut ini)

Beberapa waktu lalu, saya dipercayakan sebagai Customer Service Officer di kantor, berhubung CSO sebelumnya sudah terlalu banyak pekerjaan yang ditangani. Menerima tanggung jawab itu merupakan "passion" baru bagi saya. Saya dituntut untuk mengerti seluruh seluk beluk pekerjaan dan teknis aplikasi yang dipakai di kantor. Saya harus siap menangani masalah dari tiap mitra kerja, menerima keluhan-keluhan mereka, dan yang paling penting harus lebih banyak belajar lagi.

Kalau dulu saya berdoa, " Tuhan,aku mau kuliah lagi, ambil jurusan HI UI, pindah dari sini, punya yayasan sosial, gabung di keanggotaan UNESCO, keluar negeri, bla bla bla.. sebab 'passion' ku ada disitu"
Tidak ada yang salah memang berdoa seperti itu. Toh, itu keinginan kita, sampaikan saja pada-Nya.
Tapi, kalau boleh ini disebut, doa saya banyak yang baru sekarang. Tuhan tidak pernah salah menempatkan saya di KPPN Manna, dan saya berdoa,"Tuhan, berikanlah orang-orang yang mumpuni, punya jiwa melayani publik, bertanggung jawab, tidak hanya kepada atasan dan masyarakat, tapi juga kepada Tuhan."

Apakah keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih punya peradaban masih ada? Apakah keinginan menjadi seorang duta PBB masih ada?

Makin banyak merasa, makin akrab dengan kesulitan, perlahan saya mengerti bahwa hidup bukan melulu tentang "Aku ingin.." melainkan "Aku harus..", bahkan "Harus aku..." 

Dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya maupun pada peradaban di sini, semoga memberi manfaat sekecil apapun.
Tulisan ini saya tulis untuk memberikan semangat kepada saya sendiri dan kepada teman2 saya di seluruh penjuru nusantara sekaligus untuk berterimakasih kepada para senior dan teman2 kantor yang tidak saya sebutkan namanya, tapi sadar telah disebut di dalamnya. Mari terus belajar dan sama2 mengabdi di tempat yang bisa dikatakan ala kadarnya ini dan tak jarang harus mengakrabi alam yang rawan gempa.
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, November 23, 2011 0 komentar
Label: pekerjaanku, random thinking, tentang mimpi, untuk sahabat

Kamis, 06 Oktober 2011

J.E.N.U.H

Kenapa?
Beban ini terlalu berat,
Tak ada perubahan,
Tak  ada dukungan,
Apalagi pengertian,
Hanya ada aku, aku & aku saja!

Rasanya?
Menyakitkan,
Menyesakkan,
Melelahkan,
Membingungkan,
Akhirnya?
Menyerah saja & berhenti,
Pasrah...tak lagi melakukan apapun (kalau mati, matilah; kalau hidup, hiduplah)
Merusak keberhargaan diri & menepis semua impian di hati,
Perlahan tapi pasti, diri tenggelam dalam kegelapan yang diciptakan sendiri.

Jenuh,
Siapa sih yang tidak pernah mengalaminya?
Jenuh di tanggungjawab sebagai istri atau suami,
Jenuh diposisi sebagai seorang anak,
Jenuh di pekerjaan, situasi  & kondisi,
Jenuh di menu makanan,
Jenuh di setiap masalah demi masalah,
Jenuh di doa-doa yang tak kunjung terjawab,
Jenuh...ah...pokoknya jenuhlah...
Pengen “sesuatu yang baru”....”perubahan”
Hal...yang rasanya tak kunjung hadir,

Jenuh,
Di mana tempat yang tidak ada rasa jenuhnya di dunia ini?
TIDAK ADA!!
Kemanapun kaki melangkah...
pasti selalu ada kemungkinan untuk mengalami kejenuhan,
Karena dunia ini dengan segala semaraknya,
Sangat cepat berubah,
(lho? Ada perubahan kok masih bisa jenuh?)
Perubahan yang di bagian luar saja, bungkusnya saja,
Isinya tetap saja sama,”yang tidak abadi”

Jenuh,
Sesungguhnya...adalah soal sebuah kata sederhana,”FOKUS”
Ketika....diri kita fokus kepada dunia,
Fokus kepada “segala hal yang tidak enak” (apapun bentuknya)
Maka kejenuhan pasti akan mengikat hati,
Kenapa????
Karena dunia & segala hal yang tidak enak itu,
Perlahan tapi pasti akan menguras kekuatan, sukacita, damai, pengharapan,
Semua...semua yang baik dalam diri kita,
Dan...menggantinya dengan ketakutan, bimbang, keputus asaan, ketidakpeduliaan,
Semua...semua yang tidak baik & benar.

Jenuh,
Membuat diri ingin berteriak,
“Tuhannnnnnnnnnnnnnnnnnn, KAU di mana?????”
“Mengapaaaaaaaaaaaaaaaaaa?”
....
Dan...sejuta tanya lainnya.

Tetapi...
Teriakan & tanya demi tanya takkan mengubah apapun,
Selama diri tak mengambil satu keputusan,
Keputusan untuk MENGUBAH FOKUS!
Bak kata lagu,
“ku pandang wajahMu & berseru, pertolonganku datang dariMu,
Peganglah tanganku, jangan lepaskan...”

Memandang DIA saja, sudah membawa perubahan,
Apalagi kalau diri FOKUS pada-NYA,
Apa sih yang tak mungkin????
Ketika “bagian dalam telah diubahkan” (hati.com)
Tak lagi soal...seperti apa situasi & kondisi di sekitar,
Bahkan...di tengah badai topan sekalipun,
Diri akan bersenandung,
“tenanglah kini hatiku, Tuhan memimpin langkahku...”

*penguatan pribadi di kala rasa JENUH itu melanda*

by HIS Grace Alone..
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Oktober 06, 2011 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, me and my GOD, pekerjaanku, semacam curhat
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates