skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label semacam curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semacam curhat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Januari 2015

2015 : Move On

Kapan postingan blog terakhir, Grace?
Kemana saja selama 2014 ini? Sibuk apa malas?
Ketika 31 Desember menghampiri, aku menyadari bahwa 2014 sedang berlari. Aku kira tidak hanya diriku yang kaget kala penghujung tahun sudah ada di hadapan mata.
Tentu saja banyak yang masih ingat bagaimana kita memulai awal tahun 2014, entah dengan berpesta, atau dengan waktu bersama keluarga, atau justru mengerjakan tugas bersama kolega. Lalu sekarang kita tertegun karena kita telah melewati lagi satu penghujung tahun: persis seperti 364 hari yang lalu. Adakah yang seperti diriku yang bertanya-tanya, kemana perginya 365 hari itu ?
Kalau kata orang bijak kehidupan memang ibarat uap air, yang hari ini ada esok sudah tiada. Pernah menghitung berapa detik uap air akan habis di tengah udara? Tak sampai hitungan menit! Oleh karena itu, metafora uap air dipakai untuk menekankan betapa singkatnya waktu-waktu yang ada.
Mazmur 90: 12 berkata "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami agar kami beroleh hati bijaksana" --> yang kata seorang abang, ini ayat Krisdayanti banget.
Diberi kesempatan menyadari hal itu, kuputuskan untuk membuang rasa enggan dan kembali merangkai resolusi untuk tahun yang akan datang. Kenapa harus buat resolusi?
“A New Year resolution is a commitment that an individual makes to one or more lasting personal goals, projects, or the reforming of a habit.” -Wikipedia.
Jawabnya sederhana saja, supaya waktu-waktu ini tak terbuang percuma. Tradisi membuat gol ini sangat membantu untuk memberi fokus pada hal-hal yang ingin di capai di tahun berikutnya. Lalu apa gunanya membagi resolusi kita di dunia maya kepada orang-orang yang mungkin tak kita kenal secara nyata? Entahlah. Tapi kurasa itu bisa membantu kita untuk senantiasa diingatkan bahwa kita memasuki tahun baru ini dengan sebuah resolusi.
Dan tema resolusi 2015-ku adalah: MOVE ON!
Move on atau bergerak maju memberi makna tersendiri bagiku. Selama 2014 aku menyadari bahwa aku telah cukup lama tinggal diam dalam satu posisi. Saking lamanya, kadang aku berpikir apakah aku sudah mati? Seperti kata orang bijak, “Hanya ikan mati yang ikut arus.” Dan seperti itulah kondisiku, ikut arus kemalasan, kemarahan, mood, kesedihan dan rupa-rupa kondisi tak baik lainnya.
Untuk itu, di tahun yang baru ini di depan Tuhan dan jemaat (halah), saya hendak berjanji untuk: Move On.
Move On dari Kubungan Duka
Ketika 2014 akan berakhir, ada sejumlah meteor masalah yang melanda, menyisakan sejumlah kubangan duka. Mengambil waktu untuk berduka memang manusiawi. Kita semua punya hati yang bisa merasa dan bisa terluka. Akan tetapi memilih untuk berendam dalam kubangan duka bukanlah pilihan yang bijak dalam hidup yang teramat singkat ini. Pasalnya kubangan duka membuat kita melihat dunia secara gelap. Bahkan indahnya purnama ataupun surya tak lagi menarik hati dan kita lihat seolah-olah gerhana sepanjang hari.
Kupikir sudah saatnya aku untuk bergerak dengan lebih positif, optimis dan kembali menjadi diriku yang ceria dan penuh semangat! Doakan saya.
Move On dari Rasa Malas
Meskipun berat untuk mengakuinya, rasa malas merupakan tantangan terberat pada 2014. Keinginan untuk hidup nyaman dan keengganan untuk memaksa kapasitas telah menjadi batu sandungan bagi diri dan orang lain. Rasa malas telah menghalangiku untuk mencapai berbagai kesempatan melihat lebih banyak, mengecap berbagai rasa dan terbang lebih tinggi. Saatnya bergerak dan memecut diri untuk belajar lebih banyak dan bergerak lebih cepat! Karena kenyamanan bukanlah untuk anak muda.
Move On dari Kebiasaan Mengeluh
2015 akan menjadi sarana belajar untuk melihat bahwa Allah telah menganugerahkan berbagai-bagai berkat dan karunia. Ada banyak pengalaman, kebahagiaan, teman, persahabatan, kenyamanan, pekerjaan, keluarga yang jutaan orang di luar sana mungkin tidak punya. Aku harus lebih banyak mengucap syukur untuk setiap kebaikan yang Tuhan izinkan dalam hidupku.
Move On dari Kebiasaan untuk Tidak Berpikir Jangka Panjang
Haaiiaaa, kadang aku berpikir, perencanaan jangka panjang bukanlah untukku. Aku terlalu terbiasa untuk menerima apapun yang hidup sediakan untukku. Di satu sisi itu baik, karena hidup memberikan jutaan kejutan manis dalam setiap perjalanan yang tak direncanakan. Tapi aku menyadari setiap perjalanan yang tak direncanakan justru membuatku tak bergerak ke mana-mana.
Move On dari Karakter-karakter Tidak Menyenangkan
Baiklah, aku manja, egois, sentimental, pragmatis, perhitungan, pelupa, cuek, dan cenderung moody. Karakter-karakter ini telah menjadi akar pahit bagi sejumlah orang di sekitarku. Maka di 2015 aku akan berusaha untuk menghilangkannya dengan menjadi seorang yang lebih tegar, rendah hati, berkomitmen, seorang murah hati, dan penuh kasih mesra.
Oh ya, murah hati. Aku sangat menghargai karakter yang satu ini. Murah hati identik pada sifat mementingkan orang lain dibanding diri sendiri, tidak perhitungan dan pelit. Orang-orang yang murah hati biasanya mereka yang merasa cukup dengan dirinya dan senang berbagi. Terutama mereka yang mampu berbagi sekalipun kondisi mereka sendiri dalam keadaan terjepit.
Ada sensasi nikmat yang kurasakan ketika kesenanganku dibagi bersama. Tapi aku harus jujur, kadang ketika kepentingan bersama atau orang lain berhadapan dengan kepentinganku aku masih sering berlaku egois dan meletakkan kepentinganku sebagai yang utama.
Penuh kasih mesra bagaimana lagi tuh bentuknya? Mengutip ucapan salah satu orang kesayangan, "Semoga makin disayang dan makin menyayangi orang-orang tersayang"
Move On dari Kebiasaan Memandang Rendah Diri
Nah, setelah puas mengkritisi diri, salah satu sifat yang juga harus move on adalah terlalu keras dan rendah menilai diri sendiri. Membuang segala bentuk ketidakpercayaan diri. Dan tetap mempertahankan sifat supel yang melekat pada diri.
Move On dari Menunda-nunda untuk Belajar.
Jadi mulai hari, detik ini, aku udah bertekad akan belajar 2 jam setiap hari, di luar mengerjakan tugas. Titik! Masih ada pertanyaan?
Move On dari Kekristenan yang suam-suam kuku
Ini mungkin akan menjadi salah satu tantangan terberat di 2015. Menjadi Kristen itu gampang, menjadi pengikut Kristus berarti mati. Ya, mati untuk dosa dan keinginan daging. Menjadi pengikut Kristus dituntut untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, kekuatan, pikiran dan akal budi. Menjadi pengikut Kristus berarti harus siap untuk mengasihi orang lain sama seperti mengasihi diri. Berat bukan?
Di sepanjang 2014, aku menyadari betapa munafiknya diriku yang berdiri di atas dua kaki: Kekristenan dan gaya hidup berlandaskan pemikiran sendiri. Move on untuk menjadi seorang Kristen sejati adalah tantangan seumur hidup, tapi atas seizin Allah, tangan kita yang lemah akan dikuatkanNya.
Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan rancangannya akan menjadi fokus utama di 2015. Karena Allah hidup kita tidak bisa dipakai jika kita masih memegang kemudi. Ego harus bisa dibuang untuk berjalan dalam ketaatan. Kekudusan harus dikejar untuk bisa berkenan di hadapan Allah. Impian, citai-cita, kekhawatiran harus diletakkan di bawah kaki Allah yang maha pemurah.
Dan biarlah lagu di bawah ini bisa menjadi tema untuk melangkah di tahun 2015 ini:
There is a place, high in my mind,
Where lofty thoughts, ideals fly high.
But in that place, Lord You must reign,
And I must cease to think I’m wise.

There is a place, locked in my will,
Where I would move as I would choose.
But in that place, Lord You must reign,
And I must loose my will for Thine.

There is a place hid in my heart,
Where secret dreams and hopes I guard.
But in that place, Lord You must reign,
And I must lay them down to die.
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Januari 01, 2015 0 komentar
Label: semacam curhat

Selasa, 24 Juni 2014

Mari Rayakan Perakmu!


HORE! Akhirnya saya sampai di usia 25 tahun. Akhirnya saya mendapat gelar jomblo perak juga. Oh sepanjang hari kemarin bahkan sampai hari ini, ucapan selamat ulang tahun dan doa dari teman-teman masih mengalir di timeline saya. Terima kasih untuk kebaikan teman-teman semua.

Kenyataannya tanggal 10 kemarin, usia saya pas 25. Kenyataannya doa saya di tahun lalu kalau pengin terus berumur 24 tidak dikabulkan Tuhan. Waktu yang terlalu cepat berjalan ataukah saya yang terlalu tidak sadar pada setiap detik, menit dan jam yang saya lalui? 
 
Beberapa pertanyaan yang muncul pada akhirnya seperti:
Jadi bagaimana rasanya ada di usia 25? 

Jadi, apa yang saya harapkan di umur yang ke-dua puluh lima? 

Apa yang pernah saya impikan ketika saya melangkahkan kaki di angka dua puluh lima?

Tentunya saya memiliki banyak mimpi, saya mulai menulisnya di balik Alkitab, mulai mendoakan mimpi itu, salah satunya adalah mulai mendoakan bertemu dengan seseorang yang tepat. :)

Apa yang saya harapkan ketika memasuki umur yang ke dua puluh lima? Menikah? Mungkin belum. Karena masih ada banyak hal yang ingin dikejar. Ada mimpi yang begitu tinggi, yang selalu saya  visualisasikan sebelum tidur.

Angka dua puluh lima, mungkin adalah sebuah perjalanan panjang. Tapi yang pasti umur dua puluh lima adalah angka yang sangat istimewa. Dua dan lima. Tujuh. Karena saya selalu menyukai angka tujuh, angka sempurna. Karena memasuki umur ini, saya belajar banyak; belajar banyak soal iman, pengharapan, dan kasih.

Saya selalu merasa angka tujuh punya daya tarik tersendiri. Seperti penutup sekaligus pembuka dari sesuatu. Angka tujuh adalah angka dimana Tuhan berisitirahat. Angka tujuh bagi saya, bicara soal bertumbuh, karena itu adalah masa dimana manusia ADA. Mereka kemudian saling mengenal, jatuh cinta, menguasai, dan mengelola banyak hal. Termasuk mengelola hati.
Mungkinkah Adam adalah pencinta yang baik? Hanya Hawa yang tahu. Tapi Adam dan Hawa sudah pasti bertumbuh di dalam cinta mereka.

Bertumbuh selalu membuat kau ADA.

Sepuluh tahun merantau di luar, bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan lebih dari sepuluh tahun tidak tinggal bersama orang tua adalah sesuatu yang selalu saya sebut dengan “pertumbuhan” yang sebenarnya. 

Kalau mau bertumbuh, pergilah dari rumah, bangun rumahmu sendiri. Itulah bertumbuh. Anggaplah kau sama sekali tidak punya pengalaman. Mulailah dari nol. Jangan takut salah. Peluk masalah. Ambil resiko. Bangun dari tempat tidurmu, pergilah mandi, bersahabat baiklah dengan air dingin. Anggap saja, itu pertama kalinya kau mandi.

Saya bosan dengan kue ulang tahun. Maka setahun belakangan menuju umur ini, saya diberikan  masalah, untuk ditiup sekaligus merayakannya. Karena bertumbuh adalah merayakan setiap masalah yang datang dalam hidupmu dan bilang terima kasih. Karena ketika masalah datang, kau banyak belajar, bersyukur, berpengharapan, dan bahkan masih tetap bisa menikmati kopimu di cangkir terbaikmu hari ini.

Bertumbuh, terkadang butuh istirahat, supaya esok, kau bisa memulai sesuatu yang baru kembali. Akhirnya, mungkin itu yang Tuhan lakukan di hari ketujuh setelah menciptakan manusia.

Jadi, bagaimana rasanya berada di usia dua puluh lima dengan status jomblo perak?
Ah, sudahlah.. :p

Selamat ulang tahun, wahai teman sahabat saudara serta orang-orang besar yang lahir di bulan Juni. Semoga sama seperti sajak Sapardi Djoko Darmono, selalu ada Hujan Bulan Juni yang menyirami hidupmu dan hatimu. Hingga akhirnya kita dapat bertumbuh dan berbuah.

Berapapun umur kita. Ah, sesungguhnya tidak ada bedanya. Sebab pertumbuhan bukanlah masalah umur, tetapi bagaimana saya dan kamu memaknai setiap hari dalam hidup.

Sekali lagi, rayakanlah hidupmu, sebab mungkin tahun-tahun mendatang yang entah kapan, kita mungkin akan begitu merindukan masa ini.

Mari rayakan!

>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Juni 24, 2014 1 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, semacam curhat

Selasa, 14 Januari 2014

Single Traveller - Lajang Kelana

Dulu, sebelum "Jomblo Perak" julukan secara main-main yang saya berikan sendiri terhadap diri saya, saya juga menyebut diri sendiri "Lajang Kelana".


Alasannya, ya, karena saya masih lajang, dan dalam hidup ini kita bagaikana pengelana-pengelana yang berjalan tanpa tahu pasti akan tiba di mana--setidaknya begitu menurut saya. Sebutan itu rasanya sekarang tak banyak berubah. Keadaan juga tak banyak berubah. Saya masih tetap lajang, dan saya masih berkelana. Bedanya, jika dulu pengelanaan saya anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan seru, kini satu-dua kecemasan mulai hadir, tanpa bisa diusir.


Mungkin benar bahwa pengelanaan selepas kuliah adalah "pengelanaan yang sebenarnya". Harus saya akui, rimba raya sejati ini memang melelahkan. Seakan-akan seluruh hidupmu ditentukan oleh seberapa banyak uang yang kamu miliki, seberapa tinggi gelar dari sekolah yang kau dapat, bagaimana jabatanmu di kantor, seberapa hebat rumah dan kendaraanmu, seberapa keren gandenganmu, kapan menikah bla bla bla dan seterusnya. Dan saya juga tidak bisa lagi berlindung di balik cemoohan superior khas mahasiswa, "Cih, itu semua hanya buai kapitalisme!" Yah, mau buai kapitalisme, mau buai komunisme, pada kenyataannya apapun rencana kita, ada kebutuhan akan uang di dalamnya.

Sebagai pengelana muda, saya penuh cita-cita. Saat kecil saya seperti sudah tahu apa profesi saya ketika besar nanti. Saya ingin jadi dokter! Dengan pasti saya berkata begitu tanpa sekejap pun saya ragu. Beranjak SMA, cita-cita itu banyak berubah, tidak lagi obsesi semata, mata saya semakin terbuka lebar, saya ingin kuliah setinggi-tingginya, keluar negeri, dan bekerja sesuai "passion". Tapi Tuhan berkata lain, saya bukannya berada di Hubungan Internasional kampus kuning UI, tapi justru malah sekolah di STAN. Pikir saya waktu, ah sudahlah, yang penting kuliah, toh kampus ini juga beken, lulus langsung kerja. Jaman sekarang tahu sendiri, susah cari kerja. Dan begitu melepas toga, saya melangkah tanpa setitik pun bertanya-tanya.

Tapi ada di mana saya sekarang? Sungguhkah ini yang saya inginkan?

Saya tidak pernah menyangka sesuatu yang dulunya begitu nyata, bisa menjadi kabur tiba-tiba. Buram. Mungkin itulah poin pertama yang hidup ajarkan pada saya: jangan pernah terlalu yakin dan merasa paham. Dulu saya merasa selalu bisa bersandar pada idealisme saya. Sekarang kurang lebih tetap sama, hanya si Pengelana Dewasa mulai menyentil dengan pertanyaan,

"Sejauh apa idealismemu bisa membawamu, dalam keadaan tetap dan terus bersyukur?"

Sejak SMA, saya selalu ingin jadi diplomat. Maka dari itu saya memilih jurusan yang berdekatan dengan profesi itu. Tapi sejak kuliah, pandangan saya banyak berubah. Saya telah di-setting dan dipersiapkan menjadi PNS di Kementerian Keuangan. Tapi, rasanya hingga kini, passion saya belum banyak berubah. Memang, saat ini tepat seperti itu saya telah bekerja. Pekerjaan yang banyak diidamkan orang. "Ah, sudahlah Grace, kerjamu udah enak, mapan, banyak uang, kurang apa lagi?"begitu yang teman lama katakan tiap bertemu. Iya, bekerja, tetapi ketika semua itu membuat saya harus terlalu banyak berkompromi, apakah yang harus saya lakukan? Saya bisa saja kan memilih pekerjaan sesuka hati kalau saja perut ini tidak butuh makan, badan ini tidak butuh pakaian, jiwa ini tidak butuh jalan-jalan, dan seterusnya. Tapi kalau saya bekerja sekadar untuk bisa makan, beli pakaian, dan jalan-jalan, mungkin saya akan malu pada diri saya sendiri. Setidaknya untuk saat ini, saya tidak tahu apakah itu hal yang tepat untuk dilakukan.

Saya sedang punya banyak rencana. Saya ingin sekolah lagi. Saya ingin mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Saya ingin mengajar. Saya ingin mengunjungi beberapa tempat di dunia. Dan menuliskannya. Saya ingin berkontribusi pada isu-isu global tentang lingkungan, HAM, anak, dan budaya --hal-hal yang saya suka. Saya ingin menemukan lelaki yang tepat untuk diajak berbagi kehidupan, dan ingin meresmikan hubungan dengannya. Begitu banyak saya ingin, saya ingin, dan saya ingin. Dan semua rencana tersebut sekarang statusnya dalam masa tunggu. Saya benci menunggu. Kamu juga, kan?

Tapi barangkali itulah yang kadang-kadang harus kita lakukan. Seorang pengelana yang paling berani pun pernah merasa ragu, cemas, takut, dan sedih. Ia tidak boleh terlalu keras pada dirinya sendiri. Ada kalanya ia hanya harus berhenti berjalan sejenak, lalu berteduh di bawah pohon untuk berpikir tentang perjalanannya... :)

Kerasnya kehidupan, tetaplah tertawa dan semangat wahai pengelana! Hap hap hap hap!!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Januari 14, 2014 0 komentar
Label: random thinking, semacam curhat, tentang mimpi

Senin, 09 Desember 2013

Pelajaran dari pembuangan Babel :)

4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan ujian di Kelas Padang Gurun. Bahkan beberapa waktu belakangan saya berpikir kalau-kalau saya seperti bangsa Israel yang sedang dalam masa pembuangan dalam kitab Yeremia. Keadaan yang menghimpit sebagian besar kebahagiaan saya, tanpa orang-orang terdekat. Ketika apa yang kau ingini tak semulus jalan orang-orang. Dan ketika saya merasa terdampar, sampailah saya kepada suatu perenungan...

Ketika kau merasa Allah membuangmu...

Pernah baca kisah bangsa Israel pada masa pembuangan di Babel?

Yeremia telah menubuatkan pembuangan di Babel selama 70 tahun. Pesan Allah kepada Yeremia juga cukup jelas. Orang Israel akan berada dalam masa pembuangan dan penguasaan Babel. Namun terdapat hal yang penting untuk dicermati di mana Allah memerintahkan mereka yang tidak ikut dalam pembuangan agar tetap menundukkan diri kepada pemerintahan raja Babel, Nebukadnezar. Sementara kepada mereka yang terangkut dalam pembuangan di Babel, Allah berpesan agar mereka hidup sebagaimana mestinya: kawin, berumah tangga, bekerja, beranak cucu.

Dan lebih dari itu, Allah menyuruh mereka bekerja mengupayakan kesejahteraan Babel! Wow!! Dalam Yeremia 29:7 tertulis, “Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan: sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu”
Kelihatan seperti paradoks bukan? Dimana umat Israel tetap disuruh berdoa, berharap, dan bekerja di tengah masa perbudakan dan kehancuran.

Mengapa??? It’s one of million dollar question!!

Allah tidak pernah membiarkan bangsa Israel dalam kondisi tanpa petunjuk. Ketika kembali saya membaca Yeremia 29:10-11, saya sadar Allah sedang memberikan penjelasan yang amat meneguhkan kepada bangsa Israel. “Sebab beginilah firman Tuhan: Apabila telah genap tujuh puluh tahun bagi Babel, barulah Aku memperhatikan kamu. Aku akan menepati janji-Ku itu kepadamu dengan mengembalikan kamu ke tempat ini. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku, mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Dalam kehidupan, Allah mungkin menempatkan kita pada situasi dan kondisi yang tidak mengenakkan. Kita seperti ingin lari. Bukan seperti, malah memang benar-benar ingin lari. Kita mengupayakan segala cara untuk berusaha keluar dari situasi ataupun tempat tersebut. Namun ingatlah bahwa tidak kebetulan Allah “membuang” kita ke tempat itu, ke dalam situasi seperti itu. Mungkin terlihat pahit, terlihat tidak menyenangkan, tapi  masih ingat kan pesan Allah dalam Yeremia tadi? Usahakanlah kesejahteraan di sana, berdoalah untuk tempat dan situasi yang tidak menyenangkan itu. Buatlah perubahan!

Untuk kasus Israel, pelajaran menyakitkan itu mungkin dimaksudkan agar mereka bertobat dari segala kejahatan mereka yang mengerikan: agar mereka menyadari kedaulatan Allah atas sejarah kehidupan bangsa mereka: serta segudang alasan lain yang banyak dikaji oleh para ahli Perjanjian Lama. Hanya saja apapun alasan Allah, ada satu hal yang pasti,  rancangan Allah jauh melebihi rancangan kita. Allah tidak sedang coba coba ketika membuang Israel ke Babel. Allah punya maksud mulia yang mungkin sulit dipahami oleh nalar umat pada masa itu.
Demikian pula dalam kehidupan kita, Allah tidak sedang bermain dadu ketika Dia mengizinkan kondisi tak enak itu terjadi. Allah bukannya tak punya rencana ketika membuangmu ke suatu tempat, ke dalam sebuah situasi, ke dalam sebuah kondisi. Mungkin Allah sedang mengajar kita sesuatu, atau Allah sedang membentuk karakter kita, atau Allah ingin kita melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, berdoalah: agar kita menjadi peka dan mengerti apakah yang menjadi kehendak Allah. Sampai Allah sendiri yang akan membawa dan memanggil kita dari tempat itu. Hingga pengalaman penyertaan Allah dalam masa-masa penantian itu menjadi pelajaran dan pengertian bagi kita untuk terus menundukkan diri dalam kedaulatan Allah.

Ketika menulis catatan ini, aku sendiri pun sedang bergumul dengan satu perasaaan “terdampar” dalam sebuah tempat yang sangat jauh dari yang aku idam-idamkan, dalam pekerjaan yang tak lagi memikat hatiku, dan seperti Allah tidak lagi sedang mengantarku ke Tanah Kanaan. Didera oleh rasa bosan ini, aku merasa Allah sedang membuangku. Aku merasa ‘terpenjara’ sehingga tak mampu memberi yang terbaik dalam memaksimalkan seluruh talentaku. Aku ingin segera terbebas dari tempat ini.
Pertemuan dengan pasal ini mengubah pandanganku. Aku menyadari bahwa keberadaanku dalam tempat pembuangan ini berada dalam kerangka kedaulatan Allah. Bagianku adalah mengerjakan dengan setia dan mengupayakan ‘kesejahteraan’ di sana. Sampai Allah sendiri yang membawaku keluar.
Ah, pemahaman ini sungguh melegakanku. Bahwa di tengah tengah masa yang tidak mengenakkan ini, Allah berdaulat penuh. Dan penutup Yeremia 29 sungguh meneguhkanku secara pribadi. Ia berujar: ”Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;  apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kucerai-beraikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” (Yeremia 29:12-14)

Selamat malam. Tuhan Yesus memberkati.. :’)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Desember 09, 2013 0 komentar
Label: me and my GOD, semacam curhat

Selasa, 16 Juli 2013

Pertanyaan Random Siang Hari

Tidak ada yang bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Sepanjang hari ini saya hanya duduk sambil main game bersama pacar baru saya di meja FO, hanya satu dua satker yang datang. Sesekali bernyanyi. Sampai saat ini saya rasa itu menyenangkan.

Bahkan saat mengetik ini, saa duduk manis dengan sang pacar baru di hadapan saya. Sibuk merefresh page situs di komputer. Baca email dan meng-googling. Di meja biasa. Di kursi (bukan) kesayangan saya. Dengan orang-orang yang sama setiap harinya di sebelah meja, seberang meja, dan belakang meja saya. Apa yang mereka kerjakan, saya tidak terlalu peduli. Silakan saja.

Yang saya pikirkan dan pedulikan saat ini adalah satu pertanyaan lewat begitu saja di kepala siang ini. Bunyinya: Lalu untuk apa kamu hidup? Oke, saya ulangi lagi. Untuk apa kamu, Grace, hidup? Untuk apa kamu (diisi nama kamu) hidup?

Pernahkah kamu berpikir serius tentang pertanyaan ini? Saya sering. Hingga kini belum bertemu jawabannya. Sudah pukul 15.15 waktu di komputer saya. Saya juga tidak akan berusaha menjawabnya sekarang. Karena saya sendiri masih belum mau menjawabnya dengan gamblang. Saya hanya kepingin berpikir di dalam diri saya. Kali ini cukup serius. Atau malah lebih tepatnya pura-pura serius dengan hidup saya? Dan lalu, ketika menulis ini, kembali pertanyaan itu berulang, "Untuk apa kamu hidup?"

Ada dua alternatif jawaban. Untuk diri sendiri. Atau untuk orang lain.

Tapi keduanya memiliki konsekuensi. Keduanya bukan sebuah keputusan yang gampang. Keduanya itu semestinya pertanyaan yang ditujukan kepada orang yang cukup dewasa.

Pertama, ketika kamu hanya hidup untuk diri sendiri, perutmu akan gemuk. Kamu akan mati karena jantung atau diabetes. Karena kamu tidak berani membagi cemilan gulamu kepada orang lain.
Kedua, ketika kamu hidup untuk orang lain, kamu akan langsing, kurus dan kere. Kamu tidak akan punya barang dengan milik sendiri. Kamu harus selalu membaginya untuk (kebahagiaan) orang lain.

Tapi bukankah di muka bumi ini tidak ada yang menjadi benar-benar hak milik kita? Semua itu milik Sang Pencipta, Sang Maha Besar. Bahkan hidupmu sekalipun bukan milikmu.

Lalu, untuk apakah kamu hidup?
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Juli 16, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat

Senin, 10 Juni 2013

dua.puluh.empat.karat

Manna, 10 Juni 2013

Ya,  ini ulang tahun saya. Sekaligus juga merayakan dua tahunan kencan bersama SK Penempatan. KPPN Manna. Merayakannya bersama 200-an orang lainnya di DJPB 2010. Dua tahun lalu, 10 Juni 2011 itu, hadiah yang indah bukan? Tahun ini saya juga sedang menantikan hadiah. Saya kira pengumuman hasil jurnalistik kemarin akan keluar hari ini. Ternyata belum. Dan memang salahnya, saya terlalu optimis lulus. Jadi, tahun ini belum ada hadiah apapun? Ah, tidak juga.

Saya terlalu percaya bahwa di dalam hidup, terkadang kita terlalu banyak menuntut orang lain memberikan hadiah kepada kita.

Bagaimana kalau sebaliknya, kau yang menjadi hadiah untuk dirimu sendiri, atau kau yang menjadi hadiah untuk orang lain.

Ketika saya menulis ini, tidak ada lilin yang ditiup di atas kue ulang tahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada teman-teman yang merecoki, membangunkan saya tengah malam. Di rumah juga tidak ada cemilan lagi yang tersisa, tidak ada stock kopi lagi di dapur. Hape pun mati. Tidak ada yang sempurna. Jauh-jauh hari sebelum saya berulang tahun, selain minta lulus “workshop jurnalistik”, saya tidak muluk-muluk meminta kado SK berikutnya (SK ikut suami kah?). Hanya meminta untuk dikirimkan hujan saja. Jangan lupa dibungkus dengan pita warna-warni. Mereka pikir saya bercanda. Tidak, saya terlalu menginginkan hujan untuk turun di hari ulang tahun saya. Dan, tadi tengah malam, si Hujan Bulan Juni itu datang.

Itu adalah hadiah.

Berulang tahun dengan uang di dompet pas-pasan.  Atau belum punya “seseorang” yang spesial. Bahkan jauh dari keluarga dan teman-teman terkasih bukanlah masalah besar. Belajarlah untuk mengalami kesendirian, karena biasanya disitu akan muncul karaktermu yang sebenarnya. Tidak ada permohonan yang spesial ketika saya berulang tahun.

Karena saya bersama DIA saja sudah cukup. Saya menjadi terlalu berharga.

Paling tidak untuk diri saya sendiri. Mungkin saat ini tidak ada pencapaian yang bisa kau ceritakan kepada orang lain. Kau masih bergumul untuk mencapai cita-citamu dalam diam. Kau masih belum masuk di hitungan siapa-siapa.

Tidak perlu juga. Kau tidak perlu menjadi sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Itu adalah penyimpangan. Lakukan apapun yang kau mau. Lakukan apapun yang kau suka. Lakukan itu dengan tertawa lebar.

Hari ini saya memasuki angka dua puluh empat. Angka istimewa saya pikir. Bukan hanya hari ini, tetapi tiap hari selalu istimewa bagi saya. Semuanya bergantung kau mau merayakannya atau tidak, bukan?

Tadi malam sebelum tidur, saya hanya bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Apa itu bertumbuh? Apa yang kau ingin tambahkan ketika kau bertumbuh? Dan kau ingin bertumbuh menjadi apa dan bagaimana?

Tidak mau.

Saya tidak mau bertumbuh menjadi apa-apa atau siapa-siapa. Saya mau tetap menjadi saya. Saya mau tetap muda. Saya mau tetap istimewa. Hanya saja saya mau bertumbuh semakin menyerupai karakter-Nya. Sulit ya? Tapi bisa.

Saya juga mau bertambah. Bertambah dalam segala hal.

Bertambah dalam kesendirian beberapa waktu ini mengajarkan saya satu hal: apa saya percaya dengan diri saya sendiri? Karena ini adalah modal dasar. Modal dasar untuk terbang lebih tinggi.

Hari-hari lelah dan menguras air mata, tetap akan saya hadapi ke depan. Itulah kenyataan hidup. Begitupun sebaliknya. Tidak perlu mengeluh, toh dengan mengeluh membuatmu semakin kurang sexy.

Lagipula, untuk apa takut? Adakah yang kurang lagi jika DIA panduku?

Mari angkat gelas, rayakan ketidaksempurnaan. Dan rayakan hujan yang mengguyur di luar.



Semoga tahun depan sudah ada yang mendampingi, cukuplah yang seperti John Mayer saja. Saya tidak punya uang mentraktir teman-teman saya karena Jomblo Perak tahun depan. Ahhhh... *melipir*


Selamat Ulang Tahun, wahai Yang Kata Orang-orang si Jomblo 24 Karat.. ! :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Juni 10, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat

Rabu, 29 Mei 2013

Sepenggal Catatan Perjalanan dari Kota Kenangan


Pengantar: Salah satu karya jurnalistik yang akan saya kirimkan ke Media Center Perbendaharaan. Sampai sekarang belum berjudul. Sedikit merasa kesulitan bikin judul yang menarik. Dengan bahasa yang formal dan pembahasan yang agak serius, ini sulit, jendral!! Kan ini bukan blog. Sejenis Feature. Mbuh, feature apa namanya. Selamat membaca. Ditunggu kritik dan sarannya.

“Aku dapat Manna, KPPN Manna. Tanggal 20 Juni ini sudah harus di sana.”
“Nak, kamu bohong. Di mana itu?” terdengar suara kalut dari ujung telepon.
“Ya di Manna, bu. Aku juga tak tahu. Aku juga berharap ini bohong. Tega sekali mereka memberikanku surat sakti itu sebagai hadiah ulang tahun hari ini.”

Ingatan kembali melayang pada kejadian tanggal 10 Juni 2011 silam. Tanggal yang tidak akan pernah dilupakan oleh 230-an orang yang hadir saat itu. Ada yang menjerit. Ada yang hanya termangu. Ada yang menutupkan tangannya ke bibir sembari menahan air matanya. Ada yang bertepuk tangan riuh. Ada yang langsung menghubungi kawan dekat dan keluarganya. Ada yang saling berjabat tangan dan berpelukan. Ada yang lebih memilih merekam momen dengan tangan yang masih gugup gemetaran. Bahkan ada yang bernyanyi lagu Piala Dunia yang telah diubah liriknya menjadi “Wamena-mena e e waka waka tobi. O Manna Manna Saumlaki Tahuna Watampone…”

Membaca SK yang menjadi titik balik hidup, melihat nama-nama kota asing yang tertera di sana, para calon PNS Direktorat Jenderal Perbendaharaan itu hanya mampu tersenyum getir. Apa yang ada di depan sana, tidak ada yang tahu. Siapa yang akan ditemui, tidak juga ada yang tahu. Bagaimana bisa bertahan hidup dan sampai kapan akan ada di sana, pun hanya Tuhan yang tahu. Yang mereka tahu adalah sebagai punggawa keuangan negara harus bersedia ditempatkan di mana saja. Mereka, yang sering dijuluki pegawai Direktorat Jenderal Paling Berbakti dan Kantor Penjaga Perbatasan Negara tak membayangkan kalau itu hari terakhir bersama sebelum tersebar ke seluruh penjuru di pelosok tanah air.

Kota baru, status baru, tanggung jawab baru, teman baru, dan atasan baru. Sudah agak basi memang mengatakannya baru ketika kini sudah hampir dua tahun menjalaninya. Tapi, memang seperti itulah adanya, bagi saya, semua masih terasa baru. Saya masih gamang, bahkan seringkali saya tergagap. Apa yang saya songsong, dan apa yang saya tinggalkan tarik menarik menimbulkan kebimbangan. Saya terkadang lupa hidup itu maju, dan masa lalu tertinggal jauh di belakang. Jelas saja, dari Jakarta ke Manna, ada banyak sekali yang berbeda. Jakarta dengan segala kejamnya telah memberi begitu banyak teman dan cerita. Mengutip kata-kata Neale Donald Walsch, “Life begins at the end of your comfort zone”, setapak demi setapak kehidupan saya yang baru pun dimulai dari perjalanan menuju Bumi Rafflesia.

Pesawat yang membawa saya dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta menuju Bengkulu terbang selama satu jam perjalanan. Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Bengkulu, tapi terdapat banyak perbedaan rasa di antaranya. Sesaat setelah mendarat di Bandara Fatmawati Soekarno, saya seperti turut merasakan romantisme pasangan Presiden Soekarno dan Ibu Negara, Fatmawati. Entah mengapa saya merasa Jakarta dan Bengkulu seperti berjodoh, nama bandaranya saja sudah sepasang begitu. Ah, tidak, saya tidak sedang menggombal di sini.

Kota Manna yang terletak di bagian selatan Provinsi Bengkulu ini harus ditempuh perjalanan darat selama 3 jam dari bandara. Jika melakukan perjalanan pada malam hari, tidak banyak yang bisa dilihat dalam keadaan gelap sepanjang sisi jalan. Tapi jika perjalanan dilakukan siang hari, mungkin akan terasa seperti sedang shooting film Anaconda. Hutan sawit, gunung, sawah, hutan karet, pantai, dan sungai disuguhkan sepanjang perjalanan. Tidak seperti jalanan di Pulau Jawa, jalanan berliku dan berlubang-lubang memang menjadi ciri khas Pulau Sumatera. Mungkin ini yang menjadikan orang Sumatera memiliki karakter keras dan berjiwa petualang.

Jangan berharap dapat melihat bus atau angkot di Ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan ini! Dan jangan ge-er dulu jika melihat ada lelaki bermotor berhenti di depan anda sambil tersenyum mengatakan “Ayu”! Tidak, dia tidak sedang menggoda, hanya seorang tukang ojek, yang menawarkan jasa pengantaran ke mana saja dengan biaya Rp. 3.000. “Ayu” sendiri bukan berarti paras yang ayu, hanya sebuah panggilan sopan untuk wanita. Yang paling mengagumkan, sepanjang berkeliling kota, akan didapati dari mulai rumah mewah, rumah sederhana, rumah batu, rumah papan, sampai gubuk pun terpasang parabola ataupun televisi kabel. Dengan jalanan tanpa macet membuatnya sangat jauh berbeda dari Jakarta.  Nyaris tak ada debu polusi. Pernah sekali saya terlambat ke kantor memang karena macet, tapi dengan jenis kemacetan yang berbeda. Segerombolan sapi seringkali bebas lalu lalang menghadang jalan, entah milik siapa.

Gedung-gedung pencakar langit seperti yang ada di sepanjang Jalan Sudirman, Jakarta tidak akan ditemui di Jalan Sudirman, Manna. Jalan dua jalur yang menjadi pusat perkotaan ini sungguh tidak se-glamour Jakarta. Kalaupun ada bangunan tinggi, paling hanya tiga lantai. Lantai paling atas dipakai memelihara burung walet, yang menjadi mata pencaharian beberapa penduduknya. Tidak ada bioskop. Tidak ada mall. Hanya toko-toko dan pasar. Membeli satu baju di sini sama harganya dengan tiga baju di Tanah Abang. Di ujung jalan ada taman yang biasa dikunjungi orang sore hari. Tampak anak-anak kecil berlarian. Ada ibu-ibu yang sedang menyusui bayinya. Ada pengasuh yang sedang memberi makan anak. Beberapa gadis ABG tertawa-tawa sambil merapikan poninya. Beberapa pemuda sedang memeriksa motornya yang akan dipakai balapan pada malam harinya. Tak luput juga dari perhatian, pasangan-pasangan yang duduk di sudut-sudut taman. Di tengah Taman Merdeka Manna terdapat sebuah tugu yang disebut Monumen Manna. Sungguh mirip Monas, tapi yang ini versi mini. Ah, rasa kangen pada Jakarta sedikit terobati.

Sama kerennya seperti mengatakan “gue-lo” di Jakarta, “ambo-kaba” juga menjadi sapaan akrab di sini. Hanya saja jangan katakan “kaba” pada orang yang lebih tua jika tidak ingin dia tersinggung. Hingga kini, kesulitan berbahasa masih saya alami. Untungnya, saya banyak belajar dari penduduk sekitar. Orang Serawai, begitu mereka menyebut dirinya sebagai penduduk asli Manna. Tak jarang juga saya menemukan orang Jawa, orang Padang, bahkan orang Batak di sini. Mendengar mereka berbicara bahasa Serawai bercampur logat asli suku sendiri seperti sedang merasakan indahnya Bhineka Tunggal Ika. Saya yang dulunya tidak mengenal siapa-siapa di sini, berangsur-angsur mulai memiliki kenalan. Mulai dari teman-teman kantor, satker-satker yang datang ke KPPN, pegawai-pegawai bank, teman latihan tenis, hingga teman dari gereja tempat saya ibadah setiap Minggu. Jelas saja, untuk beradaptasi dan dapat masuk dalam komunitas terasa sulit di awal. Namun memang pada dasarnya, masyarakat Indonesia itu gemah ripah loh jinawi, sama halnya dengan masyarakat di sini yang terbuka menerima orang baru. Saking eratnya ikatan kekeluargaannya, kota ini dijuluki Bumi Sekundang Setungguan. Sekundang setungguan dapat diartikan sebagai kebersamaan, persahabatan, dan kekeluargaan ketika tinggal bersama. Ah, manis sekali. Saya yang dulunya hanya bisa menjawab “au” yang artinya “ya” tiap ditanya apapun, kini paling tidak sudah bisa bilang “enggup” untuk menolak sesuatu. Pelafalan “e” jadi “i”, “r” menjadi “gh”, dan beberapa kata ditambahkan “u” di ujungnya. Kini ketika ada yang berkata pada saya seperti ini, “Gris, jak manau? Makan di ghumah kudai au,” saya bisa mengerti. Walaupun untuk beberapa kasus, seperti ketika ada satker datang ke kantor dan berbicara bahasa Serawai, sekalipun sudah berkonsentrasi penuh mendengarkan, saya tetap tidak bisa mengerti.

Di kota ini pula lah saya pertama kali makan tempoyak, sambal yang terbuat dari durian. Sejak di sini juga saya jatuh cinta pada pempek dan pindang patin, makanan khas Palembang, yang juga banyak terdapat di sini. Wajar saja, mengingat daerah yang dulu sempat dijajah Inggris ini, merupakan pemekaran dari Provinsi Sumatera Selatan. Dari segi bahasa dan karakteristik wajah, keduanya masih satu rumpun. Yang sangat disayangkan adalah Bengkulu belum mampu mengejar ketertinggalannya dari provinsi tetangganya. Di saat Palembang telah dihiasi gemerlapnya lampu kota, di Bengkulu sendiri masih sering terjadi pemadaman bergilir. Ketika Jembatan Ampera ramai dikunjungi wisatawan, banyak orang malah tidak tahu apa itu bunga Rafflesia Arnoldi. Ironis memang. Saya jadi ingat sepintas obrolan dengan teman soal daerah penempatan, “Ah, kamu mah enak masih dapat Sumatera. Gak kayak si anu di Papua.” Saya hanya tertawa dan menjawab dengan guyonan, “Bengkulu memang Sumatera. Sayangnya Sumatera rasa Papua.” Bagaimana tidak? Hampir sebagian besar propinsi ini merupakan daerah endemik malaria. Demam sedikit langsung divonis malaria. Mengkonsumsi pil kina sudah menjadi hal lumrah. Tak hanya beradaptasi terhadap masyarakatnya, tapi mungkin juga harus beradaptasi terhadap nyamuk dan pola hidup di sini.

“Aku rela deh penempatan Manna. Aku cinta pantai. Ah, enak banget lo!” Pernah teman saya yang berkunjung ke Manna berujar demikian. Saya bersyukur sebagai pecinta suara ombak dan penikmat birunya laut, saya ditempatkan di daerah pantai, bukan di daerah gunung. Ketika merasa penat dengan segala apa yang ada di kantor, kita bisa lari ke pantai dan melampiaskannya di sana. Begitu pikir saya. Di belakang rumah dinas KPPN tempat saya tinggal, terdapat tempat favorit saya melarikan diri dari segala rutinitas. Sepertinya belum bernama, hanya penduduk sekitar yang menamakannya Taman Remaja. Di sekitar taman terdapat bunker-bunker peninggalan penjajahan Jepang. Duduk di kursi bambu, memandang dari ketinggian taman, langit dan laut yang seperti menyatu, menunggu senja di ufuk barat, dan ditemani secangkir kopi. Maka, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Bagi perantauan seperti saya dan teman-teman kantor lainnya, hidup di kota kecil seperti Manna dengan segala keterbatasan yang ada menjadi alasan kami menghabiskan banyak waktu di kantor. Entah itu untuk bermain tenis atau sekedar internetan. Terkadang di akhir pekan, kami berburu pantai. Bentuknya yang seperti putri tertidur, memanjang di sepanjang sisi barat Pulau Sumatera, menjadikan Propinsi Bengkulu memiliki banyak pantai. Pantai Panjang mungkin yang paling banyak dikenal. Pasalnya, selain terletak di ibukota propinsi dan lebih mudah dijangkau, pantai ini memiliki garis pantai terpanjang se-Asia Tenggara. Namun demikian, ada tempat lain yang layak saya sebut The Hidden Paradise. Pantai Laguna dan Muara Kedurang sangatlah eksotis. Jika nanti anda berlibur atau dinas ke sini, pastikan anda mengunjungi kedua tempat ini! Hanya sangat disayangkan, objek dan infrastruktur wisatanya tidak terurus.

Tak berlebihan rasanya jika Manna memiliki sebutan sebagai Kota Kenangan. Ketika kaki melangkah masuk dan keluar, ada banyak hal manis dan pahit yang dikenang. Saya bisa mengenang bagaimana rasanya menjadi “anak kemarin sore” di kantor. Saya bisa mengenang pertama kali di kantor dihadiahi satker sebuah permen Kiss. Di bungkusnya ada tulisan “Perjalanan masih panjang.” Ya, saya, anda, dan kita memang sedang melakukan perjalanan. Sepanjang perjalanan ini saya banyak menemukan. Temuan-temuan tersebut kemudian membentuk pribadi saya, mempengaruhi cara berpikir, bersikap, berperilaku. Saya menemukan banyak pengalaman yang membuat saya lebih luwes dalam hidup. Kenapa lebih luwes? Karena di mana pun kita, akan ada sisi liar kehidupan, yang kadang bisa ditaklukkan, bisa juga diajak berteman.

Saya ingat, saya memang pernah berniat, di mana pun saya ditempatkan, saya ingin menulis dan bercerita sebanyak-banyaknya tentang daerah itu. Semata-mata agar tidak banyak anak muda yang merasa takut ketika harus bertugas di belahan lain tanah airnya. Ketakutan tidak sama dengan rasa gugup karena penasaran.

Telah, sedang, dan akan di mana kita nanti, Tuhan tidak pernah salah menempatkan. Sekalipun apa dan siapa yang kita inginkan tidak bisa kita temui segera. Sekalipun berada di tempat yang serba sepi, serba jauh ketinggalan, dan serba ala kadarnya. Ada banyak sisi baik yang bisa ditemukan. Ada banyak hal berguna yang tetap bisa dikerjakan. Bagian kita adalah bagaimana menjadi orang yang mumpuni, punya jiwa melayani publik, bertanggung jawab kepada atasan, masyarakat, dan Tuhan. Hingga kini pun, saya masih terus belajar dengan segala keterbatasan yang ada dalam diri maupun peradaban yang ada, dan tak jarang harus mengakrabi alam yang rawan gempa. Semoga tidak terlalu muluk.

Sekian cerita dan masih tidak berhenti. Hingga nanti.

Manna, 25 Mei 2013
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Mei 29, 2013 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, feature, pekerjaanku, semacam curhat
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates