skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label random thinking. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label random thinking. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Agustus 2014

Asam Garam Perjodohan

“For you and all those people who said there’s other fish in the sea, here’s a question… What if you’re stuck in a pond?”


Langsung saja: apakah anda setuju pada perjodohan atau tidak setuju?
Kata pepatah lama: asam di gunung, garam di laut, bertemunya di belanga. Saya yakin mereka bicara tentang perjodohan (bukan cara masak sayur asem deh kayaknya). 

Djaman doeloe? Jadi ketinggalan jaman? Eits, nanti dulu. Jaman kuda gigit besi perjodohan diperlukan karena jarak yang susah ditempuh (masa mau ngapel harus naik kuda dulu 3 hari 3 malam?), wanita yang selalu tinggal di rumah (ingat Ibu kita Kartini yang dipingit? Atau Rara Mendut? Atau Malin Kundang? *eh ini bukan ya*) dan tentu saja karna belom ada facebook/blackberry messenger/ twitter/ whatsapp/ path/ instagram/miRc (*masih ada yang pake ini?) dan socmed-alay-lainnya. 

Jaman sekarang, perjodohan masih dilakukan justru akibat tidak sempat bersosialisasi! Para lajang di New York melakukan pesta lajang yang disebut ‘eye-gazing party’ dimana para tamunya duduk berhadapan dengan lawan jenisnya selama 1 menit, saling melihat hanya untuk merasakan apakah diantara mereka ada ‘chemistry’.

Ini belom termasuk iklan baris dan website matchmaking. 

“P/26th mencari W. Lajang. Menarik. Pinter masak, bersih-bersih rumah dan nyuci. Pembantu soalnya lagi pulkam,”
“W/27 th, lajang gemar dangdut. Cari P yang jenggotnya mirip Rhoma,”
“W/55 th/janda. Mencari P/sebaya/duda. Dulu suami saya keren, sexy dan foto model. Sekarang yang penting tidak encokan, tidak kentut sembarangan dan tidak alergi pampers.”
 “P/30 th. Bankir. Mencari akuntan yang bisa diajak merger.”
“P/29 th. Maniak bola dan dugem cari W/sebaya yang rumahan dan bisa main catur/PS2″
“P/25th/sarjana komputer. Cari W/dibawah 20th yang bootingnya gak lama”
“W/25 th suka bepergian. Mendamba P/dibawah 35th yang punya pesawat jet pribadi”
“P/30th/pasrah sempurna nikmat penuh ga dapet-dapet W, jadi yang P juga gak apa-apa. No spesific criteria needed.”

Intinya, perjodohan hanyalah memperluas lahan pencarian. Kalau kerjaan kita itu-itu saja, berkutat dari jam setengah 8 sampai jam 5, pulang, nonton TV dan tidur, kapan ketemu teman kencannya?

Jadi, networking alias dikenalin ama temen, tante, tetangga, atau iparnya sepupu kedua dari paman menantu adek ya bisa dicoba lah. Apa salahnya menambah ‘jaringan’? Mungkin dengan begini, kita bisa ‘mengaudisi kontestan’ lebih banyak dan mendapat yang terbaik.

Tapi, apa efek sampingnya?
Ada teman saya (atau saya? Maap, bukan saya kok), sebut saja Cinta (25) yang selama setahun belakangan dikenal-kenalin Emaknya ke pria-pria lajang yang diketahuinya lewat koneksi sebagai ibu rumah tangga yang ekstensif. Bukannya cepet dapet pacar, Cinta justru jadi ketemu dengan cowok-cowok super garing dan nggak nyambung berat. Karena pria-pria ini, menurut Cinta, bersikap ‘pasti cewek ini mau karena Emaknya aja sudah desperate gitu’. 

Dengan kata lain, sistem ini bikin cewek jadi dilabeli ‘nggak laku dan hampir kedaluwarsa. Diskon 70%! Cuci gudang!’. Nggak separah itu sih emang, tapi entah secara sadar atau tidak, si cowok terkesan PeDeKaTenya terburu-buru, dan kalau salah satu tidak tertarik, si cowok berpikir “Dia aneh sih. Pantesan selama ini belom dapet pasangan,”.

Ada juga efek samping yang lebih ringan tapi pasti terjadi dalam setiap perjodohan: kecanggungan. Karena tidak bertemu dalam situasi normal (kerja, sekolah, klub kebugaran, di tempat ibadah, dan sebagainya), maka dua orang yang dijodohkan atau dikenalkan akan bersikap kaku, berlebihan atau setengah mati salah tingkah kalo ternyata yang dikenalin ‘berprospek’. Kita jadi ekstra hati-hati dalam bersikap dan cenderung tidak wajar, nggak apa adanya. Kita juga akan menilai orang tersebut dengan standar kita sendiri.

Ngomong-ngomong soal penilaian, perjodohan juga ajang penjurian yang tidak adil. Jujur saja deh, kalo kita sudah naksir berat sama seseorang, mau dia garuk-garuk ketek atau ngupil pake jempol kaki ya semuanya tetap mempesona. Betul kan, iya kaaan, ngaku deeeeh? 

Kita sama sekali tidak bisa objektif dalam hal cinta. 

Masalah dalam perjodohan adalah: kita menilai potensi untuk menjadi pasangan dari orang yang tidak kita kenal. 

Seperti pepatah (lagi) bilang, tak kenal maka tak sayang. Maka kecenderungan untuk menilai seorang yang dikenalkan adalah menilai dia dari label-labelnya. Melihat orangnya. 
Sialnya, kalau orang ini sebenernya baik dan keren tapi kebetulan lagi lupa beli pisau cukur atao deodoran, ato PAMnya lagi macet sehingga gak bisa mandi or PLN lagi mati listrik sehingga pake bajunya terbalik ato nggak matching blas, rusaklah susu sebelanga! Kalo kesan pertama sudah tidak begitu menggoda, dia salah belahan nyisir rambut aja bisa jadi masalah.


‘Dikenalkan’ memang nggak ada salahnya. Sama seperti pekerjaan dan semua kesempatan hoki-hokian yang lain, terkadang ‘koneksi dan kenalan’ akan sangat amat membantu. Lagipula, kita tidak pernah tahu dimana bakal ketemu jodoh, lewat orang lain itu pun namanya juga takdir. Dunia juga makin sempit sejak ditemukannya internet sebagai keajaiban dunia ke-8. 


Tapi jujurly speaking saja ya, saya ini type wanita yang ingin cari pasangan dari orang yang saya kenal kesehariannya, yang kita tahu watak baik-buruknya, kebiasaannya, kesukaannya, dirinya yang sebenarnya. Yang bukan cuma display saat kita ‘dijodohkan’. Aaaahhh...

Apa pendapat teman-teman? Apakah memacari orang dekat adalah skenario terbaik untuk mencari jodoh?
Konon katanya pepatah (lagi), kadang-kadang kita sibuk nyari yang jauh-jauh, padahal sesungguhnya dia ada di dekat kita.*eeeeaaaaakkk

Nah, bagaimana kalau pergaulan kita sendiri terbatas? 

Memang banyak ikan lain (bahkan paus dan cumi) di Samudera Atlantik...

tapi bagaimana kalau kita terjebak dalam aquarium hias?

>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, Agustus 08, 2014 0 komentar
Label: random thinking

Selasa, 14 Januari 2014

Single Traveller - Lajang Kelana

Dulu, sebelum "Jomblo Perak" julukan secara main-main yang saya berikan sendiri terhadap diri saya, saya juga menyebut diri sendiri "Lajang Kelana".


Alasannya, ya, karena saya masih lajang, dan dalam hidup ini kita bagaikana pengelana-pengelana yang berjalan tanpa tahu pasti akan tiba di mana--setidaknya begitu menurut saya. Sebutan itu rasanya sekarang tak banyak berubah. Keadaan juga tak banyak berubah. Saya masih tetap lajang, dan saya masih berkelana. Bedanya, jika dulu pengelanaan saya anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan seru, kini satu-dua kecemasan mulai hadir, tanpa bisa diusir.


Mungkin benar bahwa pengelanaan selepas kuliah adalah "pengelanaan yang sebenarnya". Harus saya akui, rimba raya sejati ini memang melelahkan. Seakan-akan seluruh hidupmu ditentukan oleh seberapa banyak uang yang kamu miliki, seberapa tinggi gelar dari sekolah yang kau dapat, bagaimana jabatanmu di kantor, seberapa hebat rumah dan kendaraanmu, seberapa keren gandenganmu, kapan menikah bla bla bla dan seterusnya. Dan saya juga tidak bisa lagi berlindung di balik cemoohan superior khas mahasiswa, "Cih, itu semua hanya buai kapitalisme!" Yah, mau buai kapitalisme, mau buai komunisme, pada kenyataannya apapun rencana kita, ada kebutuhan akan uang di dalamnya.

Sebagai pengelana muda, saya penuh cita-cita. Saat kecil saya seperti sudah tahu apa profesi saya ketika besar nanti. Saya ingin jadi dokter! Dengan pasti saya berkata begitu tanpa sekejap pun saya ragu. Beranjak SMA, cita-cita itu banyak berubah, tidak lagi obsesi semata, mata saya semakin terbuka lebar, saya ingin kuliah setinggi-tingginya, keluar negeri, dan bekerja sesuai "passion". Tapi Tuhan berkata lain, saya bukannya berada di Hubungan Internasional kampus kuning UI, tapi justru malah sekolah di STAN. Pikir saya waktu, ah sudahlah, yang penting kuliah, toh kampus ini juga beken, lulus langsung kerja. Jaman sekarang tahu sendiri, susah cari kerja. Dan begitu melepas toga, saya melangkah tanpa setitik pun bertanya-tanya.

Tapi ada di mana saya sekarang? Sungguhkah ini yang saya inginkan?

Saya tidak pernah menyangka sesuatu yang dulunya begitu nyata, bisa menjadi kabur tiba-tiba. Buram. Mungkin itulah poin pertama yang hidup ajarkan pada saya: jangan pernah terlalu yakin dan merasa paham. Dulu saya merasa selalu bisa bersandar pada idealisme saya. Sekarang kurang lebih tetap sama, hanya si Pengelana Dewasa mulai menyentil dengan pertanyaan,

"Sejauh apa idealismemu bisa membawamu, dalam keadaan tetap dan terus bersyukur?"

Sejak SMA, saya selalu ingin jadi diplomat. Maka dari itu saya memilih jurusan yang berdekatan dengan profesi itu. Tapi sejak kuliah, pandangan saya banyak berubah. Saya telah di-setting dan dipersiapkan menjadi PNS di Kementerian Keuangan. Tapi, rasanya hingga kini, passion saya belum banyak berubah. Memang, saat ini tepat seperti itu saya telah bekerja. Pekerjaan yang banyak diidamkan orang. "Ah, sudahlah Grace, kerjamu udah enak, mapan, banyak uang, kurang apa lagi?"begitu yang teman lama katakan tiap bertemu. Iya, bekerja, tetapi ketika semua itu membuat saya harus terlalu banyak berkompromi, apakah yang harus saya lakukan? Saya bisa saja kan memilih pekerjaan sesuka hati kalau saja perut ini tidak butuh makan, badan ini tidak butuh pakaian, jiwa ini tidak butuh jalan-jalan, dan seterusnya. Tapi kalau saya bekerja sekadar untuk bisa makan, beli pakaian, dan jalan-jalan, mungkin saya akan malu pada diri saya sendiri. Setidaknya untuk saat ini, saya tidak tahu apakah itu hal yang tepat untuk dilakukan.

Saya sedang punya banyak rencana. Saya ingin sekolah lagi. Saya ingin mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Saya ingin mengajar. Saya ingin mengunjungi beberapa tempat di dunia. Dan menuliskannya. Saya ingin berkontribusi pada isu-isu global tentang lingkungan, HAM, anak, dan budaya --hal-hal yang saya suka. Saya ingin menemukan lelaki yang tepat untuk diajak berbagi kehidupan, dan ingin meresmikan hubungan dengannya. Begitu banyak saya ingin, saya ingin, dan saya ingin. Dan semua rencana tersebut sekarang statusnya dalam masa tunggu. Saya benci menunggu. Kamu juga, kan?

Tapi barangkali itulah yang kadang-kadang harus kita lakukan. Seorang pengelana yang paling berani pun pernah merasa ragu, cemas, takut, dan sedih. Ia tidak boleh terlalu keras pada dirinya sendiri. Ada kalanya ia hanya harus berhenti berjalan sejenak, lalu berteduh di bawah pohon untuk berpikir tentang perjalanannya... :)

Kerasnya kehidupan, tetaplah tertawa dan semangat wahai pengelana! Hap hap hap hap!!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Januari 14, 2014 0 komentar
Label: random thinking, semacam curhat, tentang mimpi

Kamis, 28 Februari 2013

Am I Living It Right?




“Hari gini makin susah cari kerja! Umur makin tua! Fresh graduate makin banyak. Udah kemana-mana kok ya ditolak mulu.. Udah hopeless ah, males apply lagi.. Aduh ini sebenernya gue bakal mau jadi apa ya nanti...?”

“Kalo gitu mending sekarang nunggu ada laki-laki yang ngelamar aja deh”

“Masalahnya adalaaaaaah mau kawin juga susyaaaah.. Laki-laki di bumi langka.. Kalopun ada setengahnya maho, dan setengahnya lagi pasangannya...”

“Pokoknya gue mesti nikah tahun depan. Kalo ada cowok yang ngelamar, langsung gue terima dah. Siapa aja!!”

Itu obrolan para usia 20-an yang hopeless bin absurd banget ya. Tapi memang masalah seperti inilah yang sedang hangat-hangatnya menjadi topik, soal aktualisasi diri di pekerjaan, karir, finansial, sampai kehidupan berkeluarga. Tahun 2013 yang baru berjalan 2 bulan saja, notification Facebook sudah rame dengan undangan pernikahan. Tak jarang juga saya lihat foto bayi-bayi imut diposting saat saya membuka akun social media. Nah lho, kapan giliranmu, Grace? Begitu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang sekeliling saya, yang hanya bisa saya jawab dengan tersenyum sambil berkata dalam hati, “Bikin galau binti panik aja nih orang-orang”.


Sayangnya, bukan cuma itu saja yang menjadi masalah saya. Tahukah kalian, kalau saya ini pemalas tulen, dan sialnya beriringan dengan sifat saya yang anti diatur maka kombinasinya sangat maut. Mungkin jarang ada teman-teman atau bahkan sahabat saya yang tahu, bahwa saya bisa mengurung diri di rumah selama berhari-hari. Jika seharian berada di rumah, saya menghabiskan waktu 23 jam saya sehari di dalam kamar. Satu jam di luar kamar saya habiskan untuk mandi, mengambil makanan dan minuman, meletakkan piring ke dalam bak cucian, mengambil sapu untuk membersihkan kamar, dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Dan apa yang saya lakukan di kamar? Tidak lebih hanya membaca buku, mendengarkan musik, nonton TV atau DVD, browsing internet, main game, bengong sendiri mencari ilham menulis (yang lalu pada saat beruntung dapat berbuah sebuah blog entry), dan tentunya TIDUR. Biasanya hal-hal ini saya lakukan saat weekend tidak travelling kemana-mana. Masih gak percaya? Silakan datang dan lihat sendiri ke rumah saya di Medan, begitulah saya selama dua bulan ini.


Tapi belakangan, saya sering terdiam, menatap langit-langit kamar sambil memutar otak. Saya nggak bisa begini terus. Saya merasa sangat membuang-buang waktu saya selama ini, terlebih 2 bulan ini tentunya. Entah karena saya melihat teman-teman saya berkutat dengan dunia pekerjaannya, atau melihat adik saya paling kecil sedang getol-getolnya belajar biar lulus UN dan masuk SMA Favorit, atau karena beberapa teman saya lulus melanjutkan kuliah D4-nya dan sibuk mengurus ini itu yang terkait (FYI, Saya gagal D4 tahun ini, yang menjadi mimpi saya memang, dan saat ini saya juga sedang belajar bersyukur jika tidak ingin stress), atau karena belakangan saya sering mendengarkan “WHY GEORGIA”-nya John Mayer (The “Am I living it right?” part is kind of kicking me), atau mungkin karena saya baru saja selesai menyaksikan perjalanan hidup Chris Gardner di ”Pursuit of Happiness”. 
Either way, saya benar-benar merasa saya tengah menghabiskan waktu saya dengan percuma.


Ah, iya, ada lagi! There is also a feeling that I think I am becoming more anti-social than I have ever been before. Terkadang saya berpikir tentang kehidupan sosial saya yang semakin lama terasa semakin sepi. Mungkin karena sejak saya di Medan, selain bersama keluarga, saya jarang keluar rumah, entah karena memang saya masih pincang, atau karena sebagian besar teman saya berdomisili di luar Medan,(kalaupun ada yang di Medan sibuk dengan karir masing-masing), atau karena sinyal hape yang labil, atau mungkin.....saya memang tengah menghadapi titik yang disebut dengan quarter-life crisis. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah krisis seperempat baya (walapun bagi saya jadi terdengar makin aneh :s)


Dulu saya tidak pernah punya masalah mengenai hal-hal seperti ini. Tapi belakangan, terutama sejak saya berada di rumah, tinggal bersama orang tua, cuti sakit dari segala rutinitas kantor sudah 2 bulan (well, di satu sisi, saya sebenernya sangat bersyukur, jarang-jarang saya yang tinggal jauuuuh dari kota kelahiran, akhirnya bisa ngumpul bareng keluarga segitu lamanya, kalau bukan karena sakit), simtom demi simtom saya rasakan. Sejujurnya saya ingin berbagi masalah badai tidak dikenal yang tengah melanda isi kepala saya ini dengan orang lain. Orang tua tentunya tidak ada dalam daftar sharing-partner saya. They are not used to deal with this kind of problems. It’s too illogical for them. Pilihan jatuh pada sahabat-sahabat saya. But on second thought, saya memilih mundur teratur. Masalahnya, yang pertama, adalah semakin lama saya semakin merasa jauh dengan mereka, orang-orang terbaik saya, entah secara fisik, maupun secara hati. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya, atau mungkin ini perasaan saya saja, huh? Yang kedua, dengan track record saya yang “becanda melulu” seperti yang sering dibilang oleh teman-teman saya, yang akan saya dapatkan setelah saya curhat hal ini sialnya, pasti bukan solusi, atau bahkan sekedar rangkulan di pundak (baik secara langsung ataupun sekedar emot “peluk” di dunia maya), tapi malah sebuah toyoran di kepala dengan iringan godaan, “Gileeee, bahasa lo berat banget sekarang! Aaaahh, kebanyakan mikir lo, Greeeeees..”


So, i thought i’d rather look for the answer by myself :s

Yang pertama saya cari adalah defenisi dari istilah “Quarter-life Crisis” itu sendiri. Dan pencarian membawa saya pertama kali menuju Wikipedia (one of modern-life bible)

The quarter-life crisis is a term applied to the period of life immediately following the major changes of adolescence, usually ranging from the early twenties to the early thirties. The term is named by analogy with mid-life crisis
(kira-kira begini artinya : suatu periode hidup di mana terjadi perubahan besar pada proses pendewasaan, biasanya terjadi pada sekitar umur awal 20-30an)

OK. Early twenties, eh? Dan berapa umur saya sekarang? 23 tahun. Kriteria pertama sudah terpenuhi.


Berikutnya, aspek emosional.
1. Realizing that the pursuits of one's peers are useless
2. Confronting their own mortality
3. Watching time slowly take its toll on their parents, only to realize they are next
4. Insecurity regarding the fact that their actions are meaningless
5. Insecurity concerning ability to love themselves, let alone another person
6. Insecurity regarding present accomplishments
7. Re-evaluation of close interpersonal relationships
8. Lack of friendships or romantic relationships, sexual frustration, and involuntary celibacy
9. Disappointment with one's job
10. Nostalgia for university, college, high school or elementary school life
11. Tendency to hold stronger opinions
12. Boredom with social interactions
13. Loss of closeness to high school and college friends
14. Financially-rooted stress (overwhelming college loans, unanticipatedly high cost of living, etc.
15. Loneliness, depression and suicidal tendencies
16. Desire to have children
17. A sense that everyone is, somehow, doing better than you
18. Frustration with social skills

Artikel berbahasa Indonesia yang membahas QLC ini menyebutkan ciri-ciri yang sama, yaitu:
  •  merasa tidak cukup baik karena tidak menemukan pekerjaan yang senilai dengan level akademiknya
  • rasa frustasi pada hubungan antarmanusia, dunia kerja dan proses menemukan pekerjaan/karir
  • kebingungan pada identitas diri
  •  rasa ketakutan akan masa depan
  • rasa ketakutan pada rencana jangka panjang dan tujuan hidup
  • rasa ketakutan pada keputusan saat ini
  • peninjauan kembali akan hubungan dekat saat ini
  • kekecewaan pada pekerjaan
  • nostalgia pada kehidupan kuliah bahkan masa sekolah
  • kecenderungan untuk memilih opini-opini yang lebih kuat
  • kebosanan pada interaksi sosial
  •  kehilangan keakraban pada teman sekolah/kuliah
  • stress finansial (beban ‘membayar kembali’ biaya kuliah, mulai memikirkan besarnya biaya hidup, dll)
  • kesepian
  •  keinginan memiliki keluarga/anak
  • perasaan bahwa semua orang melakukan hal yang lebih baik darimu
  • status fresh graduate alias ‘tidak punya pengalaman kerja’ hingga terjebak pada pekerjaan-pekerjaan membosankan yang tidak sesuai dengan keahlian intelektual



Hampir seluruhnya! Kedua mata saya tidak berhenti menatap serentetan daftar aspek emosional itu. Bener saja. QLC!! Detik berikutnya, saya hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri.

Berikutnya, aspek finansial dan profesional.

A primary cause of the stress associated with the "quarter-life crisis" is financial in nature; most professions have become highly competitive in recent years.
I was like. Yeah, so right.

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang mengkonsumsi materi berbau psikologis. (“Chicken Soup” dan “Seven Habbits bla bla bla..” saja belum selesai juga saya baca-itupun jika buku itu masuk kategori buku psikologis) Tapi kali ini saya mencari beberapa artikel dan menemukan sebuah kalimat yang makjleb kalau istilah saya.

“Beranjak dewasa dan memikirkan bagaimana masa depan Anda akan terasa menyakitkan, terutama dalam masa quarter life crisis. Namun, ini merupakan hal alamiah.” –Deborah Smith, Professor Sosiologi di University of Missouri, Kansas City.-

Dalam artikel ini, sang profesor juga menuturkan, banyak orang mengalami kecemasan di usia 20-an karena usia tersebut adalah masa pertama kali mereka menjalani kehidupan sesungguhnya. Di benaknya, ini bukanlah suatu krisis, tapi merupakan keputusan, tekanan, dan perubahan pada fase kehidupan.

Saya setuju dengan kata-kata Smith, QLC adalah fase kehidupan yang harus dijalani.


Oleh karena itu, setelah membaca artikel ini, saya merasa sudah cukup. Mencari jawaban bagaimana mengatasinya merupakan hal percuma buat saya. Merengek-rengek minta oom Google yang menelusuri, sama saja tidak ditemukan tips atau panduan khusus menghadapi fase ini. Percuma saja toh? Lagipula, sedari kecil saya terbiasa mencari jalan keluar akan masalah saya dengan cara saya sendiri. Walaupun begitu, I am still thankful for some advices. Singkatnya, saya putuskan untuk menutup semua tab Mozzila Firefox terkait QLC ini.

Defenisi dan konfirmasi sudah cukup. Kemudian, saya merenung sejenak dan berdoa. Cara mengatasi biarlah saya putuskan setelah ini.


And here is the list of my quickest solutions that I can make :

1. Managing the daily to-do list (just like the old days back there)
2. Getting back with a nice life pattern (no more “bolong” Bible Reading, Sa-Te, and praying time, talking about a less-midnight staying-up and late-afternoon soberness, more laughter, more water consumption, less meat more vegetables, more writing, less day-dreaming, -etc)
3. Arranging some regular best friends gathering (traveller group, maybe? ;))
4. Loving my job and the town (still trying)
5. Coming back to join with Children Service at the church in my town
6. Preparing myself to be A Godly Woman for A Godly Man (in characters, faith, life style, and the way of thinking)

And the most important:


6. Trying hard to get scholarship. SOON.



Wish me luck!! :)
Grace,



*Have got the same feeling, huh? Whatever! God has taught me to say, IT IS WELL WITH MY SOUL :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 28, 2013 0 komentar
Label: random thinking, semacam curhat, tentang mimpi

Kamis, 21 Februari 2013

(bukan) FILOSOFI KETAPEL

Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah memegang ketapel?



Ketapel itu senjata tradisional yang terbuat dari batang kayu yang dibentuk menyerupai huruf Y dengan sebuah karet ataupun bahan elastis di antara kedua sisinya. Untuk menggunakan benda ini, kita membutuhkan batu kerikil untuk diletakkan di dalam karet.  Batu di dalam karet akan ditarik mundur, dibidikkan sesuai dengan sasaran, kemudian dilesatkan dengan kecepatan, yang bila dilakukan dengan akurasi tingkat tinggi, bisa melukai korbannya.



Saya tidak ingin berfilosofi di sini. Cukup Dee saja dengan Filosofi Kopinya. Tapi apa yang saya alami belakangan ini membuat saya berpikir bahwa kehidupan kita pun tak ubahnya seperti batu dalam pelukan ketapel. Kadang hidup membawa kita mundur beberapa langkah;  menghancurkan kita sedemikian rupa, membuat kita berantakan berkeping-keping, hingga kita tak punya kemampuan untuk berani melirik ke depan. Tetapi jika kita cukup kuat dan bertahan, lenturan dari rasa sakit itu akan menghantarkan kita dengan kecepatan yang tak pernah kita bayangkan. Cukup satu tarikan, dan kehidupan kita tak akan pernah sama.


 Tarikan itu berbentuk keputusan. Kita memutuskan bagaimana memberi makna pada tarikan mundur itu. Tarikan yang tepat, ibarat ketapel, akan membawa batu kecil itu melangkah lebih jauh. Semakin jauh dan ketat dia ditarik mundur, semakin cepat dan kuat dia melesat ke depan.

Bukankah demikian dengan hidup?



gambar diambil secara acak dari google



Tarikan-tarikan pelajaran dari pengalaman membuat kita menjadi pribadi yang berbeda, lebih kuat, lebih berhati-hati, lebih bijaksana, lebih menghargai hidup. Kita dihantar ke satu titik dimana cara pandang menjadi jauh berubah. Beberapa menyebutnya dewasa, yang lain menyebutnya bijaksana. Ketika melihat ke belakang, kita akan tertawa, menertawai kehidupan.  Kita akan tertawa kegirangan karena lesatan kehidupan telah menghantarkan kita pada titik ini. Kita menghatur syukur tak henti-henti karena pada suatu waktu, hidup pernah membawa kita mundur.



Jika kamu sekarang merasa hidupmu mengalami kemunduran, tetaplah bertahan. Tetaplah tenang. Siapkan dirimu untuk lesatan hidup yang tak akan pernah kamu bayangkan. *ngomong sama cermin*
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 21, 2013 0 komentar
Label: random thinking
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates