skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label untuk sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk sahabat. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Surat untuk Kartini Masa Depan

Dear kamu...


Nyadar ga kalau kemarin itu tanggal 21 April? Nyadar ga kalau kemarin itu Hari Kartini? Pasti nggak! Mana pernah kamu inget hal-hal seperti ini. Kamu kan yang selalu bilang, buat apa ikut berpartisipasi dalam acara yang belum tentu benar kita pahami maksudnya. Ah, kamu!

Dan suer, kamu pasti akan ngakak kalau aku bilang, kemarin aku ikut perayaan Hari Kartini di gereja bersama para ibu-ibu lainnya. Tuh, kan, ngakak kan? Tenang, bukan perayaan besar-besaran kok, cuma makan bareng di pantai. Katanya sih ini cara kita menghargai jasa ibu kartini. Peringatan atas tercetusnya emansipasi oleh kaum kita. Blah!

Apa gak nyadar ya kalau kita belum benar-benar mendapatkan pengakuan itu? Di negara tercinta kita ini, masih banyak perempuan sebagai objek. Masih ingat tentang UU Anti Pornografi? Menurut kamu, itu mendiskriminasikan perempuan gak sih? Aku sih gak keberatan kalau pemerintah mengatur pendistribusian majalah dan kaset-kaset porno, tapi kalau sampai mengatur tata busana (yang sayangnya, perempuan), itu bikin aku gerah. Ah iya, contohnya lagi, banyak pelecehan seksual di sekeliling kamu dan aku, dengan korbannya tentu saja dong kaum kita.

Eh, ga usah jauh-jauh deh.. Kamu dan aku saja, yang sedang berada di puncak kesuksesan *tsaaaahh*, justru susah mendapatkan pasangan kan? Hihihihiii.. Dengan banyak alasan, yang intinya karena kita dianggap terlalu kelas tinggi. Dari situ saja kita udah tahu, kita belum benar-benar menerima pengakuan kan? Padahal biarpun kita ini keren, berkarir cemerlang, tapi kan tetap saja kita bisa masak, bersih-bersih rumah, dan melakukan tugas lainnya kan? Hehehehe..

Kamu sering lihat di tivi gak? Artis sebut saja namanya bunga, di sisi lain, emansipasi yang dia lakukan justru membuatnya kehilangan banyak hal. Keluarga, suami, bahkan anaknya sendiripun tak mampu dia pertahankan. Dan semua terjadi karena dia memperjuangkan apa yang dia sebut sebagai emansipasi.

Eh, bentar bentar bentar.. Menurut kamu, apa benar yang Kartini inginkan itu adalah emansipasi dan kesetaraan gender? Mungkin ga, kalau katau-kata emansipasi, kesetaraan gender dan hal-hal seperti itu, kita sendiri yang ciptakan? Bisa jadi yang diinginkan Kartini bukan seperti itu. Bukan pula semakin banyak wanita berpendidikan tinggi, berkarir cemerlang, tapi banyak juga di antaranya yang justru mengabaikan kodratnya sebagai perempuan.

Oh, tapi yang jelas aku tahu, yang kita inginkan adalah sama. Kita hanya ingin menjadi perempuan yang lebih baik, untuk melahirkan anak-anak bangsa yang lebih baik di tengah bangsa yang semakin hari semakin mengenaskan ini. Kalau aku bilang ini inti dari emansipasi, kira-kira kamu setuju gak?

Aduh, udah ah! Semakin aku nulis panjang lebar, semakin aku merasa pusing. Rasanya semua terlalu rumit. Benar katamu, tak mudah memahami makna dari sesuatu, makanya lagi-lagi, aku juga heran. Kenapa hari ini aku nulis panjang lebar tapi gak jelas begini yah?

Selamat melanjutkan aktivitas Senin soremu, teman!
Jangan lupa, April ini sudah hampir habis. Emansipasi tak akan membuat kamu berhenti belajar memasak dan berdiskusi tentang hal-hal penting dan gak penting di dunia ini kan? *wink-wink*

Dari,
Aku

"Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jenderal mitos-mitos tentangnya."
**Pramoedya Ananta Toer dalam kata pengantar Panggil Aku Kartini Saja
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, April 22, 2013 0 komentar
Label: opini, surat, untuk sahabat

Jumat, 12 April 2013

The One who Being Left


…is me. Yeah. I’m in mourning period. This is because one of my besties and my office mates is gonna leave this small town for taking his scholarship. And two of my ‘sisters’ in Bengkulu are also gonna leave soon. One is because she’s getting married and wanna live and work with her husband in Klaten. And another one is because she has to study in Bintaro, Jakarta, as well as my office mate.


Oh gosh, this is so sad. I’m still wondering, why am I the one who being left? Why the people I love and I like so much has to leave me? Is this some kind of curse or what? Because honestly I dont really make good friends in here. Most of my best friends live outside this little town. Hell, I don't have any boyfriend. And now those who are still live beside me have to go? Me hates it. I don't even wanna live alone, but now I'd have to.
And then the good Lord tell me this (via Henri Nouwen):
Every time we make the decision to love someone, we open ourselves to great suffering, because those we most love cause us not only great joy but also great pain.   The greatest pain comes from leaving.  When the child leaves home, when the husband or wife leaves for a long period of time or for good, when the beloved friend departs to another country or dies … the pain of the leaving can tear us apart.  
Still, if we want to avoid the suffering of leaving, we will never experience the joy of loving.  And love is stronger than fear, life stronger than death, hope stronger than despair.  We have to trust that the risk of loving is always worth taking.


Guess I have to remind myself many times, that I have to catch you up.. SOON.. Wait me there! *Oh, no, why am I crying?
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, April 12, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat, untuk sahabat

Senin, 01 April 2013

Sudah Tiga Bulan...

Saya tidak tahu dengan orang lain, tapi 2013 ini rasanya terlalu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin saya merayakan malam tahun baru dengan keluarga besar di Medan. Sekarang Maret sudah habis, dan memasuki bulan baru. 1 April 2013. Selamat April Mop! *yang artinya hari ini gajian..horeeee..* Ya, kalimat itu terdengar klise dan terlalu cepat ketika diucapkan di bulan-bulan seperti ini, yang pertengahan tahun saja belum masuk. Tapi bagi saya, ada beberapa alasan yang membuat saya mengucapkan kalimat di atas.


Teman sekaligus saudara saya di DJPB, KPPN Pangkalan Bun, Herbert, menyatakan 2013 ini tahun yang penuh masalah buat dia, padahal baru berjalan beberapa bulan saja. Saya, yang mendengar juga merasakan hal yang sama sepertinya. Tapi kalau memang harus, maka kata yang saya pilih untuk menggambarkan 2013 adalah mengagumkan. Atau agar lebih elegan, tahun ini saya gambarkan dengan satu kata dalam bahasa Inggris: outstanding. Saya tidak mau ikut-ikutan, tapi saya juga tidak mau memendam rasa syukur buat 2013 yang sedang berjalan ini. Banyak hal yang mengagumkan saya sepanjang tiga bulan ini. Meskipun kekaguman itu timbul setelah hati yang sakit, air mata yang berember-ember, mata yang bengkak di pagi hari (karena tangis di tengah malam), dan kesesakan lainnya.


Saya ingat, dulu saya pernah bilang hidup saya kok rasanya enak-enak saja. Meskipun sempat merasa minder, karena tidak punya pacar, karena saya ditempatkan di daerah yang jauh dari keramaian, jauh dari peradaban, dan jauh dari komunitas yang membangun, tapi saya punya orang-orang terbaik di sekitar saya. Bagaimana tidak? Keluarga yang sepenuhnya mendukung, suasana dan rekan sekerja di kantor yang kondusif dan hangat, teman-teman yang selalu ada buat saya, baik yang biasa saya hubungi lewat dunia maya, atau travelling bareng, bahkan yang hanya sekedar hahahihi bareng, dan semua keenakan lainnya. Jadi saya minta Tuhan memberi kejutan. Dan hebatnya Tuhan jawab di tahun ini juga. Atau mata saya saja yang baru terbuka. Entahlah, tapi saya kemudian sadar, bahwa hidup saya jauh dari “enak-enak saja”. Bayangkan, 2013 saya mulai dengan bedrest total selama dua bulan di rumah akibat patah tulang panggul karena jatuh dari motor. Di rumah selama dua bulan membawa saya kepada perenungan ini itu, *merenungkan uang saya yang sudah habis kemana saja ya… Ditambah lagi tepat di hari Valentine, 14 Februari 2013 kemarin, tragedi besar-besaran terjadi. Perasaan yang sama yang saya rasakan ketika mendengar pengumuman SPMB lebih dari lima tahun lalu. Perasaan yang sama ketika orang-orang terdekat saya mengalami kebahagiaan, tapi saya justru sebaliknya. Ketakutan ditinggal teman terdekat di daerah terpencil benar-benar mencekam saya. Perasaan malu yang teramat sangat seakan menerkam kenyamanan saya. Kekhawatiran akan masa depan kembali muncul mengganggu ketenangan jiwa dan pikiran saya. 
Untuk beberapa saat, saya sempat menjadi seseorang yang anti-sosial, sering merenung dan tersedu sendiri. Ah, sudahlah tidak usah dibahas ya. Saya memang harus siap mental untuk apapun yang terjadi. Dan terus berdoa. Ya, sesuatu yang seringnya saya tinggalkan: bersiap dan berdoa. Berita itu tidak mengharuskan saya berdoa tapi membawa saya kembali pada ketenangan jiwa yang dulu selalu saya alami ketika berdoa dan membuat saya siap untuk menghadapi apapun. Toh, Tuhan mendengar doa saya dan sudah merancang yang terbaik bagi hidup saya.


Ketika kembali ke perantauan, ketika saya ingin memulai kembali semuanya dari awal, yang saya dapati malah konflik dengan teman serumah saya (sekarang tidak lagi serumah). Teman seangkatan saya, yang seharusnya bisa menjadi sahabat sekaligus saudara dikarenakan kami hanya berdua perempuan yang penempatan di sini. Entahlah, menurut saya dia masih belum bisa saya kategorikan sebagai seorang sahabat (apalagi saudara). Maaf terkesan kasar. Meski tak penting, tapi itu benar-benar membuka mata saya untuk belajar merespon tiap orang. Dan saya seperti ditampar juga, karena ternyata pengendalian diri saya masih jauh dari kategori baik. Tidak semua orang dapat menerima saya yang apa adanya. Tidak semua orang juga dapat saya paksakan untuk cocok dengan saya. Yang saya syukuri, saya jadi tahu siapa teman saya sebenarnya.

Mengapa saya merasa ditampar dengan adanya masalah ini? Begini, saya selalu merasa saya tahu benar bagaimana memilih teman dan tahu bagaimana menjadi teman yang baik. Dan selama sekolah dan kuliah, bahkan sejak kecil, saya tidak punya masalah yang cukup besar dalam hal relasi ini. Tapi Tuhan goyangkan zona nyaman saya, dan inilah saya sekarang, mungkin jadi satu-satunya orang yang pernah diteriaki, “Kau bukan temanku lagi!” dari seseorang yang selama ini saya anggap teman yang cukup baik untuk jadi teman.

Awalnya saya menyangkal dan (setelah terisak-isak) malah mengeluarkan pernyataan, “Oke, itu kerugian dia kalau tak mau lagi berteman denganku.” Ketika saya pikir masalah itu sangat sepele, tapi mungkin karena respon saya yang salah dari awal, hingga kini pun antara saya dan dia masih terjadi perang dingin. Saya belum punya mental yang cukup kuat untuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Rasa sakit dan pahit itu masih ada di dalam sini *nunjuk ke hati dan merembes ke mulut*. Ah, padahal mulai bulan ini, kami resmi akan menjadi rekan kerja di seksi yang sama. Saya tidak tahu sudah sejauh apa orang di kantor tahu masalah ini dari dia, saya juga tidak tahu dia dan “pendukungnya” bilang apa tentang saya. Yang pasti, saya tidak peduli, sebab bukan mereka yang mendefenisikan saya itu seperti apa. Semoga Tuhan berkenan di 2013 yang belum berakhir ini untuk menjawab pergumulan saya tentang relasi yang satu ini dan terus menajamkan saya.

Pelajaran moral: saya semakin bersyukur untuk sahabat-sahabat sejati, yang saya sesungguhnya tidak tahu apakah mereka akan mengecewakan saya suatu waktu atau tidak. Tapi yang pasti mereka telah turut menorehkan sejarah dalam hidup saya, berperan besar membuat saya menjadi seseorang seperti saya sekarang. Dan bagaimana saya tidak beryukur untuk itu? Saya juga jadi realistis bahwa teman juga bukan sesuatu yang abadi. Dan, meski tidak ada istilah mantan teman, tapi bukan hal yang mustahil untuk bilang, “Oh iya, dia temanku dulu.” *Englishnya, “somebody that I used to know”..okesipp! Pinter…


Satu hal yang bisa jadi “pengalihan isu” dari kekecewaan demi kekecewaan ini mungkin adanya issue beasiswa internal S1 dan Program Pertukaran Pemuda Antar Negara. Tapi lagi-lagi sangat disayangkan, Surat Edaran dari Kantor Pusat yang keluar beberapa waktu lalu seolah “melarang” angkatan saya untuk ikut seleksi beasiswa internal, dengan adanya syarat khusus minimal 2D (yang baru dipersyaratkan tahun ini saja). Lalu apa respon saya? Mungkin sama seperti respon sebagian besar teman-teman seperjuangan seangkatan saya. Marah? Sedih? Kecewa? Jelas! Tapi nasi sudah menjadi bubur, pilihannya sekarang hanya tinggal membuat bubur ayam yang lezat. Di saat saya benar-benar merasa “down”, ingin segera melarikan diri dari kantor ini, dari daerah ini, dari rutinitas yang membosankan, dan dari orang-orang yang memuakkan di kantor, Tuhan malah seolah menyuruh saya untuk tetap bertahan di sana. Ya, saya menyebutnya Kelas Padang Gurun. Saya anggap ini jadi ajang pembentukan karakter dan pengungkapan karakter sebenarnya dari diri saya. Saya bersyukur kepada Tuhan karena melalui ini, saya bisa melatih pikiran saya untuk tetap positif dan satu kalimat yang saya imani dan amini sesaat sebelum menulis tulisan ini adalah: “If God lead you to it, He will lead you through it.” Maka, terpujilah Tuhan. Itu semua karena Engkau.

Ah, iya, Pendaftaran dan seleksi Program Pertukaran Pemuda Antar Negara perwakilan Provinsi Bengkulu sebentar lagi. Saya sangat tertarik dengan program yang diadakan Kemenpora ini. Apapun yang terjadi saya akan berjuang semaksimal mungkin untuk bisa ikut serta. Sekali lagi, “If God lead you to it, He will lead you through it.”


Oh, dan lagi, dari semua itu yang paling saya syukuri adalah saya tidak sendirian merayakan sukacita Paskah kemarin. Betapa saya bersyukur karena di masa-masa kelas padang gurun inilah saya menemukan komunitas baru di kota ini. Dalam hal mencari-menemukan komunitas dan pelayanan juga jadi masa pembelajaran yang berharga. Setelah sempat vacuum dalam pelayanan dan belum menemukan komunitas, sekarang saya sudah kembali, Tuhan kembali tuntun saya ke dunia pelayanan anak Sekolah Minggu di Gekisia Efata Manna. Tuhan juga pertemukan saya dengan pemuda-pemudi yang luar biasa, yang menyambut saya yang masih baru bergabung ini, dengan begitu hangatnya dalam persekutuan mereka. Tiga hari kemarin (29-31 Maret 2013) saya merasakan sukacita yang luar biasa dalam Tuhan bisa berkumpul bersama mereka. Saya sadar betul bahwa kami, saya dan mereka masih butuh banyak belajar, tentang firman Tuhan, tentang kasih-Nya, tentang bagaimana menjadi pemuda yang bertumbuh dalam iman dan karakter, saling menajamkan, saling membangun, saling mendukung, dan saling mendoakan. Komunitas kecil di kota yang kecil tapi berdampak besar. Doa saya, semoga saya bisa menjadi berkat bagi gereja dan daerah ini, Tuhan.



Saya tidak tahu apakah hingga akhir tahun 2013 Tuhan masih mengijinkan saya berada di sini, di kota ini, di kantor ini, dan di gereja ini. Apakah saya masih bersama dengan orang-orang yang sama, atau ada banyak orang lain yang datang silih berganti, dan menorehkan bekas di hati saya. Apakah saya masih mendampingi dan mengajari anak-anak Sekolah Minggu atau tidak. Apakah saya akhirnya punya pacar, sehingga tahun depan tidak mendapat gelar jomblo perak.. Apakah saya tiba-tiba mendapat SK Mutasi.. Ah, terlalu banyak rasanya yang tidak saya ketahui. Yang saya tahu, rancangan Tuhan itu pasti. Iya dan amin. Tahun 2013 masih panjang. dan di hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun-tahun mendatang, saya selalu punya Bapa yang sempurna, yang tak pernah meninggalkan saya, yang memelihara saya, dan yang abadi, ketika orang-orang dan hal-hal yang terjadi dalam hidup saya hanya bersifat sementara. Dan jujur hingga kini, saya masih berharap saya bisa sekolah lagi dan bekerja sesuai passion saya, dan tidak tinggal jauh dari keluarga seperti ini. Eh, tapi hey, bukankah setiap Minggu saya berdoa, “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”? Biarlah saya tunduk pada kehendak Bapa yang sempurna itu. Karena saya, kamu, dan kita memang diciptakan oleh Dia dan untuk kemuliaan-Nya. Terpujilah Allah Bapa, kini dan selamanya.


Selamat Paskah 2013, sahabat.. :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, April 01, 2013 0 komentar
Label: me and my GOD, semacam curhat, untuk sahabat

Selasa, 26 Maret 2013

Aloha Dunia

Aloha dunia.
Apa kabar kamu disana?

Apa kabar matahari pagi?
Apa kabar pelangi sore?
Apa kabar tawa lepas?
Apa kabar senyum samar?
Apa kabar haru biru?

Apa kabar ketakutan dan kekecewaan?
Mengapa kamu tak kunjung padam?
Apa kabar keraguan dan kekhawatiran?
Mengapa kamu tak bisa hilang?

Apa kabar kehidupan di luar segala rutinitas?
Apa kabar kamu yang sudah lama menghilang?


----
Ditulis di menit-menit terakhir sebelum jam makan siang kantor, di tengah keheningan ruangan front office..
Atas nama saya yang lagi bosen, kangen kuliah dan (sebut saja) pengen punya pacar #ehhh
Grace Hasibuan
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Maret 26, 2013 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, semacam curhat, untuk sahabat

Selasa, 19 Maret 2013

Wajah Jakarta

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah yang hilir mudik memainkan kecrekan sambil menempelkan wajah di jendela mobil pada suatu siang yang panas terik, sementara tak jauh dari situ seorang bayi kurus menggeliat dalam gendongan seorang perempuan di perempatan lampu merah.

Wajah Jakarta adalah tongkat bergagang besi yang mengoreki tempat sampah semen. Pemiliknya adalah pemulung yang harap-harap cemas berebut rezeki dengan kucing gendut, tikus got dan lalat.

Wajah Jakarta adalah aroma menyengat di bantaran sungai yang berbatasan dengan tempat pembuangan sampah dan rumah-rumah berdinding papan. Bila kau pasang telingamu baik-baik, dapat kau dengar dari dalam isakan bocah perempuan yang sudah dua hari panas demam.

Wajah Jakarta adalah pisau dingin berkarat yang dipakai menakut-nakuti pelajar berseragam dan wanita berkalung emas di angkutan kota. Sebuah pelajaran berharga bisa kau petik dari sana: jangan menaruh HP di saku celana, jangan memakai perhiasan di dalam bis, dan simpan dompetmu jauh-jauh di tempat yang tak terogoh.

Wajah Jakarta adalah pengamen yang bernyanyi sumbang di bis oranye sambil menadahkan kantung bekas keripik dan preman yang menadahkan tangan minta uang dengan paksa. Pelajaran berharga kedua: selalu siapkan recehan lebih dari cukup. Kita tak pernah tahu.

Wajah Jakarta adalah kelelahan yang menggurat wajah seorang laki-laki berkemeja lengan panjang dengan map berisi surat lamaran kerja yang mulai lecek setelah ditenteng seharian. Di rumah, anak-istrinya menunggu dengan penuh harap. Hari ini Ayah pasti pulang bawa rejeki.

Wajah Jakarta adalah letusan kembang api yang gegap-gempita membelah angkasa dan bisa kau saksikan dari jarak belasan kilometer pada malam pergantian tahun, yang kata tetangga sebelah, “Nggak mahal kok, delapan juta aja.”

Wajah Jakarta adalah jendela-jendela mobil yang kacanya dihitamkan sehingga mustahil untuk sekadar diintip. Hawa di dalam situ tak pernah segarang terik matahari. Udaranya sejuk dan selalu wangi parfum, dan selalu tersedia air mineral penangkal dahaga jika kau haus.

Wajah Jakarta adalah bocah-bocah berseragam yang menenteng telepon genggam dan permainan elektronik, sementara pengasuhnya berjalan di belakang membawakan tas sekolah, botol minum, dan kotak bekal makanan.

Wajah Jakarta adalah remaja belasan tahun bergaya Harajuku yang sakunya terisi kartu kredit warisan orang tua dan Blackberry seri terkini yang baru saja di-upgrade. Dan jangan lupakan Louis Vuitton KW-1 yang sesekali mereka tenteng dalam gaya yang berbeda.

Wajah Jakarta adalah butik berskala internasional yang dengan mudah kau temui di pusat perbelanjaan raksasa, yang menempelkan label puluhan hingga ratusan juta pada sebuah tas cantik dari kulit.

Wajah Jakarta adalah langkah tergesa kaki-kaki yang dibungkus sepatu berhak tinggi dan pantofel berkilap yang bersanding dengan tangan-tangan menengadah di jembatan penyeberangan.

Wajah Jakarta adalah gemerlap lampu warna-warni yang berpendar diiringi musik menghentak dan cairan merah di gelas-gelas kristal dalam geliat malam yang masih muda.

Wajah Jakarta adalah anak laki-laki berbaju kusam yang menatap iri saat kita bergandengan tangan menyusuri trotoar di sebuah malam minggu sambil makan es krim. Wajah Jakarta adalah senyumnya yang terkembang saat kau gandeng tangan mungilnya ke abang penjual es dan mempersilakannya memilih rasa yang ia suka.

Wajah Jakarta adalah pengemis berkaki buntung yang tak henti-henti mengucapkan terima kasih saat kau cemplungkan selembar ribuan ke gelas plastiknya. Dalam syukurnya ada doa agar panjang umurmu selalu.

Wajah Jakarta adalah anggukan tulus pedagang kaki lima saat kau bayarkan sejumlah rupiah sebagai penglaris jualannya pagi ini tanpa minta kembalian.

Tahukah kau apa yang terlintas di benakku kemarin, saat mengunjungi Jakarta, menelusuri jalanannya di tengah teriknya siang dan gemerlapnya malam, melihat pencakar-pencakar langitnya dari kaca gedung bertingkat tempat saya menghabiskan 3 hari Sosialisasi?

Jakarta sesungguhnya tak pernah miskin. Ia hanya lupa menoleh pada yang terpinggir
.

(suatu sore, dengan langit berwarna kuning keemasan, jauh dari keramaian ibukota dan sekarang begitu merindukannya)



COOL STAN 2007

Terimakasih atas tiap sharing dan doanya yang menguatkan saya di perantauan
  
PS: Terimakasih untuk waktu 5 hari kemarin saya bisa mencicipi Wajah Jakarta dari segala sisi. Dan bisa melihat wajah-wajah orang terbaik saya yang ada di poto ini di Jakarta kembali. Doaku dimana pun kita berada, semoga menjadi berkat tidak hanya bagi Jakarta, tapi bagi Indonesia. Mari sama-sama berjuang. You'll never walk alone :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Maret 19, 2013 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, untuk sahabat

Senin, 18 Maret 2013

Sakit, Kopi, dan Pahit

“Mungkin sakit hati itu adalah ketidakmampuan untuk mengasihi, mengampuni dan melupakan.”

Suatu ketika saya pernah menulis begini di status twitter. 


Mengaku sedang sakit hati itu butuh keberanian. Bukan hanya sekedar mengaku kepada diri sendiri, tapi bagaimana suatu hari nanti bisa mengobrol dengan seseorang yang telah atau pernah membuatmu sakit hati—itu persoalan yang mungkin juga tidak gampang.

Biasanya ketika sakit hati, respon saya bisa sangat pahit—entah itu karena memang saya terlalu lama menyimpan marah, menyimpan tersinggung, atau menyimpan benci. Mereka kemudian mengendap di dalam hati saya—beku di sana. Ketika ada yang menyinggung kembali, kebekuan yang belum selesai tadi akan menjadi sesuatu.

Saya pernah bilang kalau saya menyukai kopi hitam kental. Saya suka kopi hitam kental yang manis karena akan menghilangkan rasa pahitnya. Tapi memang pada dasarnya, merasakan sesuatu yang pahit itu akan membuatmu merasa bersyukur akan hadirnya rasa manis—kenapa dari sakit hati langsung loncat ke kopi? Karena begini: ketika kita memutuskan untuk sakit hati, sebenarnya kita memutuskan untuk menyimpan pahit.

Efek lain yang saya rasa ketika menyimpan pahit adalah saya berubah menjadi sangat galak—aslinya saya memang galak, ya begitulah, beberapa orang yang dekat dengan saya sangat tahu hal itu. Tapi yang terjadi adalah kali ini saya begitu galak terhadap hal-hal yang saya sendiri tidak paham. Saya sendiri tidak bisa berbohong kalau sedang galak. Paling tidak hal ini akan kelihatan dari tulisan-tulisan saya.

Bisa jadi tulisan galak berasal dari hati yang sedang pahit. Atau perkataan galak berasal dari hati yang sedang pahit. Mungkin begitu, lagi-lagi ini hanya kesimpulan dungu saya.

Hingga suatu hari, saya pernah menulis satu posting yang tadinya saya pikir hendak saya publish—ah, bagi saya menulis dengan jujur itu begitu hakiki. Dan tentu saja, ketika saya baca tulisan itu saya terkaget-kaget sendiri. Karena saya begitu galak.

Di hari itu juga, selesai mandi dan hendak berkemas-kemas. Tiba-tiba saya diingatkan tentang seseorang, bahkan inisialnya saja tidak mau—tidak perlu saya sebutkan di sini. Lalu suara di dalam hati saya begitu keras dan bilang begini “Ampuni dia. Tak usah publish tulisan yang tadi kamu buat.” “Tapi kenapa?” saya bertanya—sedikit keras kepala. “Ampuni saja dia, Grace.” Kata suara itu lagi. Sejujurnya, saya tidak mau—belum mau. Atau belum bisa(?)

Tapi yang saya lakukan adalah saya menundukkan kepala dan berbisik pelan..

“Saya ampuni, kamu.”

Apapun yang saat ini ada di hati, memang tidak segera reda juga. Saya pun sadar tidak bisa berdiam begini terus, suatu saat harus diomongkan. Diklarifikasi. Agar kepahitan dan sakit hati tidak mengakar dan membusuk di hati. Tapi yang pasti, tulisan yang saya sengaja buat untuknya, tidak jadi saya publish. Semoga tidak sekarang ataupun nanti.






LOVE,
Grace

Manna, 18 Maret 2013. 11:11
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Maret 18, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat, untuk sahabat

Senin, 11 Maret 2013

Berhenti Hidup Berbasa-basi, Bisakah?


Kenapa setiap orang tidak tumbuh saja menjadi seperti apa dia. Tanpa perlu didefinisikan. Ia hanya perlu tumbuh menjadi seperti apa dia. Ia tidak perlu memaksakan dirinya untuk menjadi “sama” dengan orang lain. Untuk menjadi seperti apa yang orang lain “mau” pikirkan tentangnya.

Kenapa ketika bertemu dengan orang, kita tidak menerima orang itu apa adanya saja. Tanpa perlu melihat dia siapa. Tanpa perlu tahu kepentingannya apa. Tanpa peduli amat keuntungan dia buat saya apa. Hanya sekedar berkenalan. Hanya sekedar saling menghormati. Hanya sekedar mengobrol asik.


Hidup yang tanpa basa-basi. Hidup yang tanpa bertanya: keuntungan dia buat saya apa.
Sudah jarang sekali saya mendapati orang yang seperti itu. Sudah jarang sekali, saya sendiri memperlakukan orang seperti itu. Yang terjadi pada saat ini adalah saya berkenalan dengan orang baru sebagai sebuah iming-iming “membangun jaringan.” Ataupun akhir-akhir ini saya terlalu banyak berpura-pura hanya demi rasa ke-"tidak-enakan".

Ataupun sebaliknya ketika orang berkenalan dengan saya, karena saya adalah seseorang yang bisa membawa keuntungan bagi mereka. Atau mungkin saya bisa membawa kepentingan buat mereka. (Benar begitukah?)

Untuk itu kita diajarkan banyak hal tentang “basa basi” ketika mengobrol dengan seseorang. Kita perlu untuk hanya sekedar berbasa-basi sebentar dan kemudian baru masuk ke inti persoalan.Itu pun jika memang akhirnya tidak menjadi basi beneran.


Hal ini kemudian coba saya obrolkan dengan ibu saya, dan kemudian dia berpendapat bahwa “keramahan” adalah sebuah nilai yang sangat diagungkan. Karena kita Indonesia. Karena sejak dulu memang kita telah diajarkan untuk senantiasa “ramah” kepada siapapun termasuk orang yang tidak kita kenal.

Tapi hal ini kemudian hanya menjadi sesuatu yang indah di “permukaan.” Keramahan itu sendiri hanya sebagai pemoles dalam bersikap. Seperti lipstik merah yang biasa saya pakai. Hanya sekedar pemanis.

Kenapa kita melakukannya: karena kita tidak ingin dinilai jutek, pemurung, menyebalkan atau apalah.

Haha. Bahasan ini kemudian semakin menarik. Karena apapun yang kita lakukan terhadap orang lain. Selalu erat hubungannya dengan penilaian orang lain terhadap kita. Penilaian yang baik menjadi tujuan. Dan selalu ingin dilihat “baik-baik” menjadi sebuah pencapaian.


Saya berpikir bahwa, terlalu dangkal jika yang kita kejar dalam hidup adalah supaya kita terus-terusan menyenangkan orang lain dengan apa yang kita lakukan. Kita “baik-baik”, selalu bisa ber”basa-basi”, selalu “ramah” dengan orang lain hanya karena kita takut. Takut dinilai buruk oleh orang lain.

Padahal tidak perlu. 


Terkadang saya juga iri melihat seorang teman saya yang sanggup mengutarakan isi pikirannya secara lugas, tanpa "basa-basi". Sekalipun itu menyakitkan. Sekalipun beresiko. 
 

Ah, saya ingin memandang segala sesuatu lebih sederhana. Bagaimana jika ketika bertemu orang, kita ramah karena keramahan itu memang ada di dalam kita. Tetapi sebaliknya ketika bertemu dengan orang yang nyebelin, kita juga bisa menunjukkan bahwa kita tidak suka. Dan bahwa kita juga bisa nyebelin. Haha.

Lalu berhentilah berbasa-basi. Katakanlah apa yang memang ingin kamu katakan kepada seseorang: baik ataupun buruk. Dengan jujur. Dan tahanlah dirimu dari mengatakan hal-hal manis tapi omong kosong. 


Musuh mencium kita berkali-kali. Tetapi sahabat menampar kita dengan cinta kasih
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Maret 11, 2013 0 komentar
Label: kicauan pagi, semacam curhat, untuk sahabat

Jumat, 08 Maret 2013

Selamat Kembali Merantau!


Kamis pagi, 7 Maret kemarin, saya menerima pesan-pesan singkat dari teman lama. Sementara saya sudah menempuh perjalanan jauh lagi ke perantauan setelah libur atau dikatakan cuti sakit yang (cuma) dua setengah bulan, dia masih berleha-leha di rumah dan tak harus merantau jauh-jauh seperti saya entah karena dia tidak bekerja, ataupun  karena kota tempatnya bekerja relatif dekat rumah.

Dalam kondisi mengantuk, karena harus bangun dan berangkat pagi dari rumah, dengan  masih menahan sakit, serta perasaan yang belum cukup rela kembali mungkin karena sudah terlalu betah di rumah selama dua setengah bulan, rasanya penat sekali saya mendapat pesan-pesan bombastis itu. "Beda ya sekarang, kalau pulang kampung nggak kabar-kabar sama sekali. Nggak ngajak ketemuan, nggak kangen temen ya? Sombongnya...," begitu kurang lebih bunyinya. Iya, penat sekali saya membacanya, sampai-sampai tak berhasrat membalas lagi.


Sombong? Terus terang, saya keberatan dibilang demikian. Apalagi hanya gara-gara tidak mengajak ketemuan. Beda? Kalau memang sekarang ada yang beda, rasa-rasanya bukan karakter yang berbeda, melainkan keadaan yang melingkungi.


Dulu, ketika sama-sama masih sekolah/kuliah, masih punya relatif banyak waktu untuk menghabiskan hari bersama, hanya saja tidak punya banyak duit karena masih bergantung pada orangtua. Sekarang, ketika sudah sama-sama bekerja, sudah terpisah jauh antarkota bahkan antarpulau atau zona waktu, sudah punya modal sendiri, tetapi tidak punya lagi waktu bersama semudah masa sebelumnya. Bukankah ini alur yang wajar? Tidakkah perjalanan memang niscaya demikian?

Ketika sudah punya pekerjaan tetap, harus merantau jauh ke daerah yang menempuh perjalanan dua kali naik pesawat, jarang-jarang bisa pulang kampung untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga inti maupun keluarga besar, sekalinya bisa pulang kampung pun butuh biaya mahal, maka kita akan mengerti: bisa ada di rumah beberapa hari saja itu sudah sangat mewah!

Kalau pun dikatakan saya sudah dua setengah bulan  ini berada di rumah, itu beda cerita rasanya. Saya selama ini memang di Medan, tapi dikarenakan cuti sakit, dan harus istirahat total selama 2 bulan. Bagaimana mungkin saya yang sakit mengajak jalan keluar? Kalau boleh sedikit egois seharusnya saya berhak dikunjungi. Tapi saya tidak pernah menuntut perhatian semacam itu.

Lalu, apakah berarti mengalokasikan waktu untuk teman lama itu akan sangat mengganggu kesempatan kita ada di rumah? Tidak juga demikian. Akan tetapi, cepat atau lambat memang kita harus mengakui, ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan hadirnya dan ada hal-hal yang tidak bisa kita tolak perginya.

Selama bumi berputar, selama itu juga hari berganti, dan kehidupan berdinamika. Kemarin, masih bisa hampir setiap hari mengisi waktu bersama. Lalu, sama-sama memiliki tanggung jawab dalam pekerjaan. Berlanjut lagi, ada yang menikah, hidup bersama dengan pasangannya, bahkan kemudian berputra/i. Dan penyikapan yang paling layak adalah memang kita harus melalui dan menerima dinamika itu. Bukan menolaknya, apalagi mengkamuflasekan ketidakrelaan atas perubahan keadaan dengan menyerang karakter orang.

Menjalani semestinya. Ini pilihan yang paling baik, juga yang paling gampang.


Selamat sore, selamat memulai petualangan lagi di perantauan! Dan, saya, semoga bisa berkuliah kembali! Semoga itu tidak terlalu muluk!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, Maret 08, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat, untuk sahabat

Kamis, 07 Februari 2013

The Choice is Yours, dear


"Berarti pada akhirnya hati kita dong ya yang akan memilih? Nah gimana dong biar pilihan kita ga jatuh kepada orang yang salah?"
"Intinya, tiap orang punya prinsip, kalo mereka mantebnya lewat hal itu, ya IT'S THEIR CHOICE..."
Sepenggal obrolan saya dengan seorang teman pria yang berada di pojok kanan atasnya Indonesia (Bagian Timur). Mengobrol dengannya terkadang membuat saya berpikir keras akan banyak hal. Dan kali ini entah kenapa tengah malam menjelang pagi begini saya begitu tergelitik dengan beberapa kata yang dilontarkannya. IT'S THEIR CHOICE! Ah, rasanya hidup ini terlalu singkat jika harus dilewatkan dengan pilihan-pilihan yang salah.
Life is the art of making choices, hidup adalah seni membuat pilihan, kalau kata orang bijak. Setiap manusia secara intuisi  ingin membuat keputusan paling tepat dalam setiap pilihan yang ada. Secara naluriah kita menyadari bahwa keputusan yang kita ambil sekarang akan mempengaruhi masa depan kita. Masa depan. Dua frasa yang sakral ini membuat kita akan berusaha keras untuk mengambil pilihan yang paling bijak untuk masa depan yang lebih baik. Baik informasi, pengetahuan, dan pengalaman dikumpul sebanyak-banyaknya, data diolah sebijak-bijaknya untuk menghasilkan keputusan paling baik.
Tak hanya bagi diri sendiri, keputusan yang kita ambil pun seringkali akan menyinggung, menyentuh, menggoncang kehidupan orang lain. Taruhlah keputusan seorang ibu yang memutuskan untuk berhenti bekerja, tentu akan menyinggung dan memengaruhi kehidupan anak-anak dan keluarganya. Di tataran yang lebih besar, keputusan seorang pemimpin akan mempengaruhi anak buah, dan keputusan seorang presiden akan memengaruhi jalan hidup warga negaranya. Kehidupan miliaran manusia ditentukan setiap harinya oleh beragam keputusan yang diambil oleh para petinggi di berbagai negeri. Tak heran seni mengambil keputusan menjadi sebuah ilmu sakti mandra guna yang harus dikuasai oleh mereka yang ingin meraih posisi tertinggi di berbagai sektor, entah pemerintah, entah perusahaan.
Di tataran individu, seni mengambil keputusan ini kerap membuat banyak anak manusia merasa frustasi. Membuat keputusan yang salah adalah momok mengerikan. Setiap orang, tentu termasuk saya, merasa ngeri atas setiap konsekuensi yang akan datang dari pilihan yang salah. Banyak orang, termasuk saya, cenderung takut untuk melangkah ketika di hadapan tersedia sejumlah pilihan yang cukup membingungkan. Mau kuliah dimana? Mau bekerja dimana? Mau menikah dengan siapa? Satu pilihan, dan hidup akan berubah.
Bagaimana jika kita membuat keputusan yang salah?  Tapi benarkah ada keputusan yang salah?
“Bagaimana jika saya dahulu tidak bertemu dengan dia? Bagaimana seandainya jika saya tidak bekerja di sini? Bagaimana seandainya saja saya terus dan tidak menyerah? Bagaimana seandainya dulu saya tidak menjawab ya? Ah seandainya saja saya dahulu memperjuangkan untuk belajar di jurusan itu bukan malah berkuliah di sini. Ah, bagaimana jika ternyata ini adalah keputusan yang salah?”
Sayangnya, ketika kita tiba pada satu titik dimana kita menyadari bahwa kita mengambil langkah yang salah, sesal atas keputusan yang telah diambil menjadi tiada guna.
Dibanyak kesempatan, kita tidak akan pernah benar-benar mengetahui apakah pilihan yang telah kita buat merupakan pilihan yang paling tepat, atau justru kesalahan terbesar. Semuanya akan tergantung pada makna apa yang kita beri pada setiap peristiwa, hikmah apa yang kita petik dari setiap kejadian.
Pernah dalam sebuah rapat muncul sesal di antara panitia atas sebuah keputusan yang telah diambil bersama. Namun seseorang dengan bijak berujar, “Pada waktu keputusan itu dibuat, informasi yang kita dapatkan adalah demikian. Kita membuat keputusan terbaik berdasarkan informasi yang terbaik yang bisa kita peroleh waktu itu. Kita toh tak bisa memprediksi masa depan. Jadi kurasa tak ada yang perlu disesalkan.” Wow!
Dan untuk kasus saya, tentu ada banyak waktu dimana saya berharap bisa memutar jarum kehidupan dan membuat pilihan yang berbeda, mengambil keputusan yang tak sama.  Kita semua begitu bukan? Namun dalam perjalanannya, saya menyadari bahwa setiap kesalahan yang dibuat telah membuat saya belajar banyak hal. Saya mengetahui banyak hal. Bertumbuh semakin kuat. Dan mengalami hal yang membuat saya mampu menarik sudut pandang yang berbeda, yang mungkin tak akan bisa saya lakukan jika saya tak jatuh dalam kesalahan itu. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama, tentu saja saya tidak lebih bodoh dari keledai dan tidak ingin terus menerus jatuh pada kesalahan yang sama.
Intinya hal-hal yang dianggap sebagai pilihan yang salah itu justru memberi peta agar tak terjerumus pada lubang yang sama.
Menyesali suatu keputusan yang diambil tanpa menarik makna darinya hanya akan mendatangkan duka yang lebih besar. Karena penyesalan tak akan pernah membawa kita ke titik dimana kita mulai melangkah. Kita tak punya banyak pilihan selain meneruskan perjalanan dimana kita mendapat ilham bahwa kita telah melakukan kesalahan.
Pada akhirnya, berjalan bersama Tuhan setiap harinya akan melepaskan beban berat dalam proses pasca pengambilan keputusan itu. Kenapa? Karena kita tahu selama kita berjalan dalam tuntunan Tuhan, bahkan kesalahan dan bencana terburuk pun bisa dipakai untuk mendatangkan kebaikan. And then we can relax, God is in His perfect control, dear!
Teruntuk kamu, sahabatku, sebut saja "Bunga", saya berdoa agar kamu tetap melibatkan Tuhan dalam mengambil dan menjalani keputusan yang kamu ambil dari setiap pilihan yang ada, selanjutnya, mari belajar menjadi wanita cantik dan ibu yang baik seperti yang kita cita-citakan dulu. Selamat menempuh hidup baru ya. Suatu saat saya akan menulis tentang kisahmu seperti yang saya janjikan kemarin. Percaya dan tunggu sajalah, hiihhii..
Dan kamu, sumber ide saya malam ini, mungkin efek lengan yang semakin kekar karena push-up dan belajar tenis dua minggu ini menjadikanmu semakin bijak dan dewasa sekarang. Semoga kamu konsisten ya menjalani pilihanmu untuk tidak merokok dua minggu ini. Saya tunggu cerita-cerita inspiratifmu selanjutnya...
Dan saya, ahh kenapa tiba-tiba malam ini bahasa saya menjadi berat begini yah. *melipir*

THEN, OF COURSE,  THE CHOICE IS YOURS!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 07, 2013 0 komentar
Label: Kisah Kita, me and my GOD, opini, random thinking, untuk sahabat
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates