skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label tentang mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang mimpi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Single Traveller - Lajang Kelana

Dulu, sebelum "Jomblo Perak" julukan secara main-main yang saya berikan sendiri terhadap diri saya, saya juga menyebut diri sendiri "Lajang Kelana".


Alasannya, ya, karena saya masih lajang, dan dalam hidup ini kita bagaikana pengelana-pengelana yang berjalan tanpa tahu pasti akan tiba di mana--setidaknya begitu menurut saya. Sebutan itu rasanya sekarang tak banyak berubah. Keadaan juga tak banyak berubah. Saya masih tetap lajang, dan saya masih berkelana. Bedanya, jika dulu pengelanaan saya anggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan seru, kini satu-dua kecemasan mulai hadir, tanpa bisa diusir.


Mungkin benar bahwa pengelanaan selepas kuliah adalah "pengelanaan yang sebenarnya". Harus saya akui, rimba raya sejati ini memang melelahkan. Seakan-akan seluruh hidupmu ditentukan oleh seberapa banyak uang yang kamu miliki, seberapa tinggi gelar dari sekolah yang kau dapat, bagaimana jabatanmu di kantor, seberapa hebat rumah dan kendaraanmu, seberapa keren gandenganmu, kapan menikah bla bla bla dan seterusnya. Dan saya juga tidak bisa lagi berlindung di balik cemoohan superior khas mahasiswa, "Cih, itu semua hanya buai kapitalisme!" Yah, mau buai kapitalisme, mau buai komunisme, pada kenyataannya apapun rencana kita, ada kebutuhan akan uang di dalamnya.

Sebagai pengelana muda, saya penuh cita-cita. Saat kecil saya seperti sudah tahu apa profesi saya ketika besar nanti. Saya ingin jadi dokter! Dengan pasti saya berkata begitu tanpa sekejap pun saya ragu. Beranjak SMA, cita-cita itu banyak berubah, tidak lagi obsesi semata, mata saya semakin terbuka lebar, saya ingin kuliah setinggi-tingginya, keluar negeri, dan bekerja sesuai "passion". Tapi Tuhan berkata lain, saya bukannya berada di Hubungan Internasional kampus kuning UI, tapi justru malah sekolah di STAN. Pikir saya waktu, ah sudahlah, yang penting kuliah, toh kampus ini juga beken, lulus langsung kerja. Jaman sekarang tahu sendiri, susah cari kerja. Dan begitu melepas toga, saya melangkah tanpa setitik pun bertanya-tanya.

Tapi ada di mana saya sekarang? Sungguhkah ini yang saya inginkan?

Saya tidak pernah menyangka sesuatu yang dulunya begitu nyata, bisa menjadi kabur tiba-tiba. Buram. Mungkin itulah poin pertama yang hidup ajarkan pada saya: jangan pernah terlalu yakin dan merasa paham. Dulu saya merasa selalu bisa bersandar pada idealisme saya. Sekarang kurang lebih tetap sama, hanya si Pengelana Dewasa mulai menyentil dengan pertanyaan,

"Sejauh apa idealismemu bisa membawamu, dalam keadaan tetap dan terus bersyukur?"

Sejak SMA, saya selalu ingin jadi diplomat. Maka dari itu saya memilih jurusan yang berdekatan dengan profesi itu. Tapi sejak kuliah, pandangan saya banyak berubah. Saya telah di-setting dan dipersiapkan menjadi PNS di Kementerian Keuangan. Tapi, rasanya hingga kini, passion saya belum banyak berubah. Memang, saat ini tepat seperti itu saya telah bekerja. Pekerjaan yang banyak diidamkan orang. "Ah, sudahlah Grace, kerjamu udah enak, mapan, banyak uang, kurang apa lagi?"begitu yang teman lama katakan tiap bertemu. Iya, bekerja, tetapi ketika semua itu membuat saya harus terlalu banyak berkompromi, apakah yang harus saya lakukan? Saya bisa saja kan memilih pekerjaan sesuka hati kalau saja perut ini tidak butuh makan, badan ini tidak butuh pakaian, jiwa ini tidak butuh jalan-jalan, dan seterusnya. Tapi kalau saya bekerja sekadar untuk bisa makan, beli pakaian, dan jalan-jalan, mungkin saya akan malu pada diri saya sendiri. Setidaknya untuk saat ini, saya tidak tahu apakah itu hal yang tepat untuk dilakukan.

Saya sedang punya banyak rencana. Saya ingin sekolah lagi. Saya ingin mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Saya ingin mengajar. Saya ingin mengunjungi beberapa tempat di dunia. Dan menuliskannya. Saya ingin berkontribusi pada isu-isu global tentang lingkungan, HAM, anak, dan budaya --hal-hal yang saya suka. Saya ingin menemukan lelaki yang tepat untuk diajak berbagi kehidupan, dan ingin meresmikan hubungan dengannya. Begitu banyak saya ingin, saya ingin, dan saya ingin. Dan semua rencana tersebut sekarang statusnya dalam masa tunggu. Saya benci menunggu. Kamu juga, kan?

Tapi barangkali itulah yang kadang-kadang harus kita lakukan. Seorang pengelana yang paling berani pun pernah merasa ragu, cemas, takut, dan sedih. Ia tidak boleh terlalu keras pada dirinya sendiri. Ada kalanya ia hanya harus berhenti berjalan sejenak, lalu berteduh di bawah pohon untuk berpikir tentang perjalanannya... :)

Kerasnya kehidupan, tetaplah tertawa dan semangat wahai pengelana! Hap hap hap hap!!
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Selasa, Januari 14, 2014 0 komentar
Label: random thinking, semacam curhat, tentang mimpi

Jumat, 03 Januari 2014

It's started from you, Kak ^^

Selamat dini hari, kak..

Surat ini untukmu. Ini yang pertama kali aku tuliskanuntukmu. Semampuku. Surat pertama di tahun 2014. Dan, aku akan memulainya dengan kamu.

Ah, kakak tahu? Bukan hanya surat yang aku mulai dengan kakak, tapi hatiku pun aku mulai dengan kamu. *eeeaakk gombal dini hari*

Saat ini aku menulis ini ditemani sebuah lagu Endah n Rhesa.
Mau aku share liriknya gak kak? Kata anak gaul sekarang sih, "Jlebb banget".

I love you but it’s not so easy to make you here with me
i wanna touch and hold you forever but you’re still in my dream

and I can’t stand to wait your love is coming to my life
but I still have a time to break a silence


I used to hide and watch you from a distance
and i knew you realized
i was looking for a time to get closer
at least to say hello



When you love someone just be brave to say
that you want him to be with you
when you hold your love don’t ever let him go
or you will loose your chance to make your dream come true


I never thought that i’m so strong
i stuck on you and wait so long
but when love comes it can’t be wrong
don’t ever give up, just try and try to get what you want
cause love will find the way






Apa mungkin juga emosi ini masih belum stabil sejak kita bertemu terakhir kali kemarin? Ketika remang- remang lampu jalan di luar menyalakan kembali cahaya lampauku. Cahaya yang seluruhnya kamu. Ketika obrolan kita mengalahkan suara gemuruh jantungku. Ketika lambaian terakhir ke atas kepalaku, seolah kamu tahu aku masih belum rela berpisah. Maka lagi- lagi aku harus membiarkan diriku tersilaukan kenang yang  benderang demi merampungkan secarik surat ini. Menelanjangi rinduku sembari membayangkan senyummu.
*gleekk, gombalnya makin parah*

Kak, mungkin kamu perlu tahu. Menulismu selalu tak semudah yang terlihat. Butuh keberanian yang besar untuk menumpahkan asingku pada kata- kata. Sebab kemudian aku akan menyadari bahwa kamu telah benar- benar hilang dari hari- hariku. Betapa bencinya aku ketika harus mengakui bahwa aku menulismu hanya dengan bangunan karakter di kepalaku.

Biarlah aku menyelesaikan sejumput keberanian lain yang kukumpulkan, mendatangimu dengan segenap rindu dalam kata- kata resah yang panjang dan membosankan.

Apakah kakak masih ingat aku yang dulu? Si gadis di tahun-tahun pertama sekolah menengahnya. Perkenalan kita bermula ketika aku akan mengikuti ujian bersekolah di tempat yang sama denganmu. Sebagai senior pertama yang aku kenal, mana mungkin aku semudah itu melupakanmu. Entah mengapa, aku terlalu yakin kamu pun tidak melupakanku sejak itu, si gadis sombong dan arogan. Aku yang terlalu sibuk dengan persiapan ini itu hingga menanyakan namamu pun terlupa.

Kakak sadar si gadis sombong ini lulus di kelas yang diinginkan? Ucapan selamatmu membuatku tersipu. "Selamat ya dek, cita-citamu kesampaian." Ah, benar kan, kamu mengingat setiap detil kata-kataku dulu. Tapi aku sudah tidak searogan kemarin. Aku berubah menjadi gadis "culun" karena sistem sekolah kita.

Berada di atap yang sama tetap saja tidak membuatku jadi lebih berani. Tetap saja, aku hanya bisa menatapmu dari jauh, mencuri-curi pandang ke arahmu sekali waktu. Aku yang biasanya blak-blakan menjadi aku yang sembunyi-sembunyi menikmati canda tawamu. Aku yang pucat pasi tiap berpapasan denganmu. Aku yang begitu payah sehingga tak pernah berani berbicara banyak padamu dulu itu. Dulu, ketika melihat kepulanganmu dari lantai dua sekolah kita merupakan sebuah kebahagiaan yang sederhana dan cukup saja. Klasik.

Setiap kamu tanyakan kenapa aku selalu menghindar dan tak banyak omong dulu, aku hanya menjawab takut pada senior. Begitu saja pun, aku masih saja sering dihukum oleh senior putri, kak.

Di tahun kedua, Tuhan seperti berpihak padaku. Aku bisa melihat kamu minimal tiga kali sehari saat makan. Kamu seperti candu bagiku. Tapi, tetap saja, menggapaimu ibarat mimpi rasanya.

Aku lupa sejak kapan kita mulai dekat. Aku juga lupa sejak kapan aku mulai sanggup berpura-pura tidak kaku di depanmu. Hubungan "kakak-adik" tidak sah ini sungguh menyiksa, sekalipun aku menikmatinya. Sampai kapan ini akan bertahan, hanya Tuhan yang tahu, kak.

Aku setengah berharap kau melupakan semua hal- hal memalukan tentangku.
Setengahnya tidak.

Si adik-kelas-culun-yang menggemaskan. Hei, meski aku akan selalu menjadi seperti itu di matamu, bukankah akan sangat baik bagiku untuk tetap menempati satu bilik ingatan di benakmu? Jika ya, sungguh, aku lebih memilih untuk menjadi si-adik-kelas-payah ini.

Jadi, ingatan secuil apa yang kamu miliki tentangku, kak? :)

Kakakku tersayang, sembilan musim panas dan sembilan musim hujan telah berlalu semenjak dini hari pertama yang penuh dengan percakapanku dan kamu. Bagiku ini selalu tentang kamu, si kakak kelas dengan suara serak dan kulit eksotisnya. Kakak kelas manis dengan kerlingan nakal dan senyuman tengilnya. Kakak kelas yang dewasa dengan pemikiran-pemikiran dan ekspektasinya yang begitu besar pada dunia. Kakak kelas usil yang selalu aku mintai "snack malamnya". Kakak kelas yang diidolakan banyak wanita dan yang selalu aku rindukan panggilannya "Dedeeek.." sambil memegang kepalaku. Tanda sayang mungkin ya kak? Ah, tapi kau sudah membuatku terlalu ge-er.

Waktu berlalu dengan tega. Begitu cepat. Begitu menyakitkan.

Tidak semudah itu menghilangkanmu dari memoriku sebelum aku mengungkapkan rasa yang dulu pernah ada ini. Tapi, untuk mengungkapkan pun butuh keberanian. Keberanian untuk merusak hubungan manis persaudaraan kita selama ini.

Jadi kak, jangan hentikan aku untuk menyimpanmu dengan apik di geligi memoriku. Sebab di sana kau adalah apa yang hanya kukenal. Selalu kau yang seperti itu.

Kakak, ini adalah surat pertamaku dari entah berapa hari, bulan atau mungkin tahun-tahun ke depan. Meski telah kutulis beratus surat untukmu dari jauh hari yang lalu, meski akan masih ada yang lain setelahnya, jika ini adalah permulaan lain yang kudapat,

.

ketahuilah bahwa aku memulainya dengan kamu.

.
Akan lebih banyak surat datang untukmu, kak.

Memikirkannya saja dadaku bergemuruh. Aku tak ingin surat ini sampai kepadamu sebagai satu dari sekian yang berserakan di depan pagar dirimu, sementara kau masih tertidur di dalam mabuk oleh anggur yang tak lain adalah kekasih lalumu.

Mengutip ulang lirik lagu tadi, sungguh kak, I've never thought that I'm so strong that I stuck on you and wait so long. Love will find its way. Demikian pun surat ini akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepadamu, kak, Semoga surat ini juga membawa serta gemetar jari- jari dan cekat di tenggorokanku yang tak mau pergi.

Berjanjilah, bila kelak surat- suratku sampai juga kepadamu, bacalah sampai habis. Sekali waktu rindu ini perlu teralamat. Bukankah kau yang paling mengerti soal itu?


Salam sayang, adikmu
Grace
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, Januari 03, 2014 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, cinta dan perasaan, Keluarga, surat, tentang mimpi

Kamis, 28 Februari 2013

Am I Living It Right?




“Hari gini makin susah cari kerja! Umur makin tua! Fresh graduate makin banyak. Udah kemana-mana kok ya ditolak mulu.. Udah hopeless ah, males apply lagi.. Aduh ini sebenernya gue bakal mau jadi apa ya nanti...?”

“Kalo gitu mending sekarang nunggu ada laki-laki yang ngelamar aja deh”

“Masalahnya adalaaaaaah mau kawin juga susyaaaah.. Laki-laki di bumi langka.. Kalopun ada setengahnya maho, dan setengahnya lagi pasangannya...”

“Pokoknya gue mesti nikah tahun depan. Kalo ada cowok yang ngelamar, langsung gue terima dah. Siapa aja!!”

Itu obrolan para usia 20-an yang hopeless bin absurd banget ya. Tapi memang masalah seperti inilah yang sedang hangat-hangatnya menjadi topik, soal aktualisasi diri di pekerjaan, karir, finansial, sampai kehidupan berkeluarga. Tahun 2013 yang baru berjalan 2 bulan saja, notification Facebook sudah rame dengan undangan pernikahan. Tak jarang juga saya lihat foto bayi-bayi imut diposting saat saya membuka akun social media. Nah lho, kapan giliranmu, Grace? Begitu pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang sekeliling saya, yang hanya bisa saya jawab dengan tersenyum sambil berkata dalam hati, “Bikin galau binti panik aja nih orang-orang”.


Sayangnya, bukan cuma itu saja yang menjadi masalah saya. Tahukah kalian, kalau saya ini pemalas tulen, dan sialnya beriringan dengan sifat saya yang anti diatur maka kombinasinya sangat maut. Mungkin jarang ada teman-teman atau bahkan sahabat saya yang tahu, bahwa saya bisa mengurung diri di rumah selama berhari-hari. Jika seharian berada di rumah, saya menghabiskan waktu 23 jam saya sehari di dalam kamar. Satu jam di luar kamar saya habiskan untuk mandi, mengambil makanan dan minuman, meletakkan piring ke dalam bak cucian, mengambil sapu untuk membersihkan kamar, dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Dan apa yang saya lakukan di kamar? Tidak lebih hanya membaca buku, mendengarkan musik, nonton TV atau DVD, browsing internet, main game, bengong sendiri mencari ilham menulis (yang lalu pada saat beruntung dapat berbuah sebuah blog entry), dan tentunya TIDUR. Biasanya hal-hal ini saya lakukan saat weekend tidak travelling kemana-mana. Masih gak percaya? Silakan datang dan lihat sendiri ke rumah saya di Medan, begitulah saya selama dua bulan ini.


Tapi belakangan, saya sering terdiam, menatap langit-langit kamar sambil memutar otak. Saya nggak bisa begini terus. Saya merasa sangat membuang-buang waktu saya selama ini, terlebih 2 bulan ini tentunya. Entah karena saya melihat teman-teman saya berkutat dengan dunia pekerjaannya, atau melihat adik saya paling kecil sedang getol-getolnya belajar biar lulus UN dan masuk SMA Favorit, atau karena beberapa teman saya lulus melanjutkan kuliah D4-nya dan sibuk mengurus ini itu yang terkait (FYI, Saya gagal D4 tahun ini, yang menjadi mimpi saya memang, dan saat ini saya juga sedang belajar bersyukur jika tidak ingin stress), atau karena belakangan saya sering mendengarkan “WHY GEORGIA”-nya John Mayer (The “Am I living it right?” part is kind of kicking me), atau mungkin karena saya baru saja selesai menyaksikan perjalanan hidup Chris Gardner di ”Pursuit of Happiness”. 
Either way, saya benar-benar merasa saya tengah menghabiskan waktu saya dengan percuma.


Ah, iya, ada lagi! There is also a feeling that I think I am becoming more anti-social than I have ever been before. Terkadang saya berpikir tentang kehidupan sosial saya yang semakin lama terasa semakin sepi. Mungkin karena sejak saya di Medan, selain bersama keluarga, saya jarang keluar rumah, entah karena memang saya masih pincang, atau karena sebagian besar teman saya berdomisili di luar Medan,(kalaupun ada yang di Medan sibuk dengan karir masing-masing), atau karena sinyal hape yang labil, atau mungkin.....saya memang tengah menghadapi titik yang disebut dengan quarter-life crisis. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah krisis seperempat baya (walapun bagi saya jadi terdengar makin aneh :s)


Dulu saya tidak pernah punya masalah mengenai hal-hal seperti ini. Tapi belakangan, terutama sejak saya berada di rumah, tinggal bersama orang tua, cuti sakit dari segala rutinitas kantor sudah 2 bulan (well, di satu sisi, saya sebenernya sangat bersyukur, jarang-jarang saya yang tinggal jauuuuh dari kota kelahiran, akhirnya bisa ngumpul bareng keluarga segitu lamanya, kalau bukan karena sakit), simtom demi simtom saya rasakan. Sejujurnya saya ingin berbagi masalah badai tidak dikenal yang tengah melanda isi kepala saya ini dengan orang lain. Orang tua tentunya tidak ada dalam daftar sharing-partner saya. They are not used to deal with this kind of problems. It’s too illogical for them. Pilihan jatuh pada sahabat-sahabat saya. But on second thought, saya memilih mundur teratur. Masalahnya, yang pertama, adalah semakin lama saya semakin merasa jauh dengan mereka, orang-orang terbaik saya, entah secara fisik, maupun secara hati. Saya sendiri tidak tahu apa penyebabnya, atau mungkin ini perasaan saya saja, huh? Yang kedua, dengan track record saya yang “becanda melulu” seperti yang sering dibilang oleh teman-teman saya, yang akan saya dapatkan setelah saya curhat hal ini sialnya, pasti bukan solusi, atau bahkan sekedar rangkulan di pundak (baik secara langsung ataupun sekedar emot “peluk” di dunia maya), tapi malah sebuah toyoran di kepala dengan iringan godaan, “Gileeee, bahasa lo berat banget sekarang! Aaaahh, kebanyakan mikir lo, Greeeeees..”


So, i thought i’d rather look for the answer by myself :s

Yang pertama saya cari adalah defenisi dari istilah “Quarter-life Crisis” itu sendiri. Dan pencarian membawa saya pertama kali menuju Wikipedia (one of modern-life bible)

The quarter-life crisis is a term applied to the period of life immediately following the major changes of adolescence, usually ranging from the early twenties to the early thirties. The term is named by analogy with mid-life crisis
(kira-kira begini artinya : suatu periode hidup di mana terjadi perubahan besar pada proses pendewasaan, biasanya terjadi pada sekitar umur awal 20-30an)

OK. Early twenties, eh? Dan berapa umur saya sekarang? 23 tahun. Kriteria pertama sudah terpenuhi.


Berikutnya, aspek emosional.
1. Realizing that the pursuits of one's peers are useless
2. Confronting their own mortality
3. Watching time slowly take its toll on their parents, only to realize they are next
4. Insecurity regarding the fact that their actions are meaningless
5. Insecurity concerning ability to love themselves, let alone another person
6. Insecurity regarding present accomplishments
7. Re-evaluation of close interpersonal relationships
8. Lack of friendships or romantic relationships, sexual frustration, and involuntary celibacy
9. Disappointment with one's job
10. Nostalgia for university, college, high school or elementary school life
11. Tendency to hold stronger opinions
12. Boredom with social interactions
13. Loss of closeness to high school and college friends
14. Financially-rooted stress (overwhelming college loans, unanticipatedly high cost of living, etc.
15. Loneliness, depression and suicidal tendencies
16. Desire to have children
17. A sense that everyone is, somehow, doing better than you
18. Frustration with social skills

Artikel berbahasa Indonesia yang membahas QLC ini menyebutkan ciri-ciri yang sama, yaitu:
  •  merasa tidak cukup baik karena tidak menemukan pekerjaan yang senilai dengan level akademiknya
  • rasa frustasi pada hubungan antarmanusia, dunia kerja dan proses menemukan pekerjaan/karir
  • kebingungan pada identitas diri
  •  rasa ketakutan akan masa depan
  • rasa ketakutan pada rencana jangka panjang dan tujuan hidup
  • rasa ketakutan pada keputusan saat ini
  • peninjauan kembali akan hubungan dekat saat ini
  • kekecewaan pada pekerjaan
  • nostalgia pada kehidupan kuliah bahkan masa sekolah
  • kecenderungan untuk memilih opini-opini yang lebih kuat
  • kebosanan pada interaksi sosial
  •  kehilangan keakraban pada teman sekolah/kuliah
  • stress finansial (beban ‘membayar kembali’ biaya kuliah, mulai memikirkan besarnya biaya hidup, dll)
  • kesepian
  •  keinginan memiliki keluarga/anak
  • perasaan bahwa semua orang melakukan hal yang lebih baik darimu
  • status fresh graduate alias ‘tidak punya pengalaman kerja’ hingga terjebak pada pekerjaan-pekerjaan membosankan yang tidak sesuai dengan keahlian intelektual



Hampir seluruhnya! Kedua mata saya tidak berhenti menatap serentetan daftar aspek emosional itu. Bener saja. QLC!! Detik berikutnya, saya hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri.

Berikutnya, aspek finansial dan profesional.

A primary cause of the stress associated with the "quarter-life crisis" is financial in nature; most professions have become highly competitive in recent years.
I was like. Yeah, so right.

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang mengkonsumsi materi berbau psikologis. (“Chicken Soup” dan “Seven Habbits bla bla bla..” saja belum selesai juga saya baca-itupun jika buku itu masuk kategori buku psikologis) Tapi kali ini saya mencari beberapa artikel dan menemukan sebuah kalimat yang makjleb kalau istilah saya.

“Beranjak dewasa dan memikirkan bagaimana masa depan Anda akan terasa menyakitkan, terutama dalam masa quarter life crisis. Namun, ini merupakan hal alamiah.” –Deborah Smith, Professor Sosiologi di University of Missouri, Kansas City.-

Dalam artikel ini, sang profesor juga menuturkan, banyak orang mengalami kecemasan di usia 20-an karena usia tersebut adalah masa pertama kali mereka menjalani kehidupan sesungguhnya. Di benaknya, ini bukanlah suatu krisis, tapi merupakan keputusan, tekanan, dan perubahan pada fase kehidupan.

Saya setuju dengan kata-kata Smith, QLC adalah fase kehidupan yang harus dijalani.


Oleh karena itu, setelah membaca artikel ini, saya merasa sudah cukup. Mencari jawaban bagaimana mengatasinya merupakan hal percuma buat saya. Merengek-rengek minta oom Google yang menelusuri, sama saja tidak ditemukan tips atau panduan khusus menghadapi fase ini. Percuma saja toh? Lagipula, sedari kecil saya terbiasa mencari jalan keluar akan masalah saya dengan cara saya sendiri. Walaupun begitu, I am still thankful for some advices. Singkatnya, saya putuskan untuk menutup semua tab Mozzila Firefox terkait QLC ini.

Defenisi dan konfirmasi sudah cukup. Kemudian, saya merenung sejenak dan berdoa. Cara mengatasi biarlah saya putuskan setelah ini.


And here is the list of my quickest solutions that I can make :

1. Managing the daily to-do list (just like the old days back there)
2. Getting back with a nice life pattern (no more “bolong” Bible Reading, Sa-Te, and praying time, talking about a less-midnight staying-up and late-afternoon soberness, more laughter, more water consumption, less meat more vegetables, more writing, less day-dreaming, -etc)
3. Arranging some regular best friends gathering (traveller group, maybe? ;))
4. Loving my job and the town (still trying)
5. Coming back to join with Children Service at the church in my town
6. Preparing myself to be A Godly Woman for A Godly Man (in characters, faith, life style, and the way of thinking)

And the most important:


6. Trying hard to get scholarship. SOON.



Wish me luck!! :)
Grace,



*Have got the same feeling, huh? Whatever! God has taught me to say, IT IS WELL WITH MY SOUL :)
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Kamis, Februari 28, 2013 0 komentar
Label: random thinking, semacam curhat, tentang mimpi

Rabu, 13 Februari 2013

Untuk The-Man-in-the-Future


PERINGATAN PENULIS: Postingan berikut ini mungkin dapat menimbulkan rasa galau berlarut-larut. Tidak dianjurkan bagi para pembaca labil. Terlebih mereka yang berusia dua-puluhan dan berstatus single. Ehm.

Calon Pacar yang baik,

Kamu mungkin ada di dekatku. Mungkin juga jauh sekali, sejauh jarak Sabang ke Merauke. Tapi aku hanya tahu bahwa kamu ada, di suatu tempat entah di mana. Tidak perlulah rasanya aku menjadi agen Neptunus yang dengan radar mencari dan menemukanmu. Sebab iman sebesar biji sesawi yang aku punya ini yang akan mengantarkanku kepadamu sesuai janji-Nya. (Hey, bukan berarti aku tidak berusaha loh ya!) Aku pernah membaca di Kitab Suci bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, jadi tidak mungkin ada orang yang seumur hidupnya menjomblo sampai kering, kecuali bahwa ia sendiri memutuskan untuk hidup selibat, atau tidak pernah berpartner secara tetap. Itu lain perkara.

Ketahuilah aku tidak seekstrim itu, Wahai Calon Pacar. Aku memang agak takut pada komitmen bernama pernikahan, maka dalam surat ini kusebut kamu 'Calon Pacar' dan bukan 'Calon Suami' sebab jujur saja kata 'suami' membuatku mulas (malas?) setengah mati - tetapi pada dasarnya aku ini kekasih yang baik.

Aku penyayang, jujur, dan rela berkorban. Memang kadang-kadang aku agak nakal, tetapi kalau kamu cukup cerdas untuk terus mempertahankan ketertarikanku padamu, aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan selalu tergila-gila padamu, dan menjaga hubungan kita dengan penuh kasih sayang.

Calon Pacar, kamu tidak harus terlalu tampan. Cukuplah kamu berwajah seperti John Mayer, dengan mata teduh dan senyum yang manis, dengan ekspresi bandelnya yang seksi dan petikan gitar yang catchy. Atau Johnny Depp saat memerankan Mort Rainey, dan bukan Willy Wonka.


Aku sangat menyukai pria yang kalau tersenyum maka di sudut-sudut matanya akan terbentuk kerutan. Itu imut sekali, Calon Pacar, atau 'unyu' kalau kata anak-anak sekarang. Ngomong-ngomong, kata Goenawan Mohamad 'unyu' itu bahasa Sansekerta yang artinya anjing, tapi kamu tahu yang kumaksud bukan itu. Aku bukan Rengganis yang memacari anjing, bukan?

Dan tentang kerutan di sudut mata, itu tidak berarti kamu harus benar-benar berkerut di mana-mana. Aku mencari kekasih yang tidak terlalu tua untuk kuajak pergi ke disko, dan masih kuat pergi sampai pagi jika diperlukan. Kalau kamu terlalu tua, Wahai Calon Pacar, aku kuatir kita harus sudah berhenti berkencan pada pukul sembilan malam, sebab lewat jam itu kamu sudah masuk angin dan mengeluh pegal-pegal.

Jangan salah pengertian, Calon Pacar. Badan kamu tidak harus kuat dan atletis seperti Denny Sumargo. Yang penting kamu tidak terlalu kurus, juga tidak terlalu gendut, dan sehat wal afiat. Apakah kamu merokok atau tidak, buatku sebenernya ada sedikit masalah, sebab aku hanya tidak tega melihat paru-paru dan bibirmu yang seksi itu tergerus dihantam asap rokok. Tapi, kembali lagi, itu pilihanmu, bukan?

Kamu boleh minum bir, atau anggur, pada prinsipnya minuman keras dalam bentuk apa pun, asalkan kamu tidak jadi alkoholik, sebab alkoholik cenderung mati mengenaskan, bukan? Kamu sudah dengar tentang Edgar Allan Poe? Ia pengarang ternama pada zamannya, tapi ia mati terperosok di selokan karena mabuk berat. Aku juga tidak mentolerir penggunaan narkoba. Maafkan kalau terdengar seperti Satpol PP, tapi ini untuk kebaikan kita bersama, Wahai Calon Pacar. Kita tidak ingin agenda pacaran kita ternyata tertangkap basah oleh BNN, seperti yang terjadi pada beberapa seleb akhir-akhir ini, bukan?

Dan kamu juga harus cerdas, sebab aku tidak mengencani pria bodoh. Kedengarannya mungkin kejam atau sok pintar, tetapi percayalah ini sama sekali bukan seperti itu. 'Cerdas' di sini bukan berarti kamu harus memenangkan medali olimpiade Fisika, atau hafal rumus-rumus Kimia, tetapi keberanian untuk berpikir mandiri.

Aku sangat menghargai lelaki yang tidak sekadar ikut-ikutan dalam memandang dunia ini dan semua yang terjadi di sekitarnya. Lelaki yang berani punya pendapat sendiri, dan hidup berdasarkan pendapatnya itu. Lelaki yang tahu apa yang diinginkannya, dan bagaimana cara meraih semua itu.

Lelaki yang kuat, yang tidak mudah kehilangan dirinya sendiri, yang banyak membaca, yang suka mendengarkan musik-musik bagus, jenaka (jejaka?), dan tahu bagaimana cara bersenang-senang. Lelaki yang bisa kuajak pergi ke perpustakaan atau toko-toko buku loakan, tapi juga bisa kuajak pergi menonton konser musik punk favoritku dan yang menemani si gadis bawel ini backpacking keliling dunia. Lelaki yang bisa kuajak ngobrol tentang Tuhan, politik, ekonomi, sastra, musik, mimpi, keluarga, dan sepakbola, namun bisa pula mengoceh bersama tentang hal-hal paling remeh sedunia.

Calon Pacar, kamu bisa berprofesi apa saja. Aku tidak keberatan dengan pekerjaan apa pun, selama kamu menyukainya. Kalau kamu berprofesi sama denganku, semoga ketika kita bertemu nanti, menteri kita yang labil itu tidak jadi mengeluarkan aturan terbarunya yang membatasi cinta ya. Dan kalau bisa juga, ini kalau bisa, janganlah kamu datang dari kalangan pengarang. Seorang teman pernah berkata padaku bahwa amatlah berbahaya mengencani pengarang, sebab ia sering bersikap seolah-olah hidupnya adalah sebuah cerita panjang. Akibatnya, ia sering bersikap aneh-aneh untuk menimbulkan kejutan dan suspens dan intrik agar hidupnya (ceritanya?) selalu menarik. Dengan segala hormat, Calon Pacar, aku lebih suka hubungan yang stabil.

Calon Pacar yang baik,

Akan kututup tulisan ini dengan doa untukmu. Aku berdoa agar Tuhan menjagamu sampai nanti Ia mempertemukan kita yang sama-sama tengah berada di tangan-Nya. Aku terlalu yakin kisah kita nantinya tidak akan kalah mengharukan seperti kisah Ruth dan Boas, atau ketika Ishak melamar Ribka. Ketika saat itu tiba, aku akan mengurusmu baik-baik, menyayangimu sepenuh hati, dan memastikan hidupmu penuh warna. Aku tidak akan membuat kesalahan-kesalahan seperti yang pernah kulakukan dalam kehidupan cintaku sebelumnya. Ah, sejujurnya kamu harusnya bangga sudah jadi yang pertama. Tentang aku sudah jadi yang keberapa, tidak terlalu penting, yang pasti kita sama-sama yakin jadi yang terakhir, begitu bukan? Aku akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia di dunia, dan aku yakin engkau pun akan melakukan hal yang sama. Sebab tidak baik memang jika manusia itu seorang diri saja. Berdua kita akan jadi tim yang baik. Sekarang jalanilah kehidupanmu dengan rasa bahagia. Nikmatilah hidupmu dan bertumbuhlah di dalam-Nya. Ketika kita sudah sama-sama siap dan bersama, akan kupastikan kebahagiaan itu berlipat ganda. Karena kisah ini tidak hanya antara aku dan kamu, tetapi juga ada DIA, Penulis Kisah Kita

Sampai jumpa
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Februari 13, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat, surat, tentang mimpi

Rabu, 23 Januari 2013

2013 in Action


Januari 2103 hampir habis. Dan berhubung saya anti-mainstream, maka di suatu pagi yang cerah ini, saya juga malah baru sekarang berkicau tentang pergantian tahun. Resolusi. Impian. Target. Agenda. Kenangan. Review. Belum terlambat kan?

2012

Sempat diisukan bahwa kiamat di tahun ini, sampai-sampai dibuat filmnya. 
Peramal lokal yang melihat 2012 'gelap', ternyata memang gelap hanya untuk dirinya.
Heboh dengan isu 'kehancuran' lewat perhelatan besar dunia, ternyata sampai penutupan acara masih aman-aman saja. 
Ada juga berita menyenangkan dari dalam negeri. Akhirnya banyak angin segar tentang pemerintahan ibukota  dari media semenjak duduknya walikota yang dipuja-puja.

Kalau dari saya, tahun ini lewat cepatnya minta ampun. Saat ini saya sedang membuat agenda baru buatan sendiri (lagi) untuk tahun 2013! Rasanya masih aneh menuliskan angka itu.

Tahun 2012 secepat itu lewat, namun ternyata terlalu banyak hal yang terjadi di tahun ini. Drastis. Dari yang jauh jadi dekat, dari yang dekat jadi jauh. Terjadi dalam arti harfiah dan tidak. Dari yang sering menjadi jarang, dari yang tidak pernah menjadi sering. Hahahaha bingung kan?

Tapi ada satu hal besar yang saya pelajari tahun ini.

Meskipun resolusi tidak terpenuhi sepenuhnya,
Meskipun rencana-rencana tidak mulus jalannya,
Meskipun banyak hal di luar ekspektasi,

Saatnya belajar bersyukur, mengenal diri sendiri, dan percaya dengan skenario Yang Di Atas. DIA, Sang Gembala Agung tetap menyertai saya sepanjang perjalanan ini. Sekalipun mendaki gunung lewati lembah, kalau kata Ninja Hattori.

Semuanya pasti berubah, tidak bisa mengharapkan segalanya akan sama menyenangkannya seperti yang diinginkan. Hanya tinggal percaya atau tidak bahwa di balik perubahan (yang saya pikir) buruk itu selalu mendatangkan kebaikan.


Hello, 2013! 



Semoga selalu menjadi pembelajar dan tetap bermimpi besar di tahun-tahun seterusnya. Semoga menjadi lebih baik! Yang paling nyata di depan mata, semoga bisa kembali kuliah lagi dengan memperoleh beasiswa tugas belajar S1/D4! (Ah, iya, pengumuman D4 STAN sebentar lagi, Ceman-ceman. Doakan yah!)

Allah yang sama yang telah menyertai kita di tahun-tahun sebelumnya, akan terus dan tetap menyertai langkah kita menghadapi hari-hari, dan tahun-tahun yang akan datang.


Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.
Banyak hal tak ‘ku pahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang
“I know who holds tomorrow” cipt. Ira F. Stanphill
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Januari 23, 2013 0 komentar
Label: kicauan pagi, lagu, me and my GOD, tentang mimpi
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates