skip to main | skip to sidebar

Search Here

...tentang Grace...

Foto Saya
Grace Hasibuan
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
Just an ordinary girl with EXTRAORDINARY GOD... A girl who lives her life with hope, faith and love. A girl who believes in God and His wonderful journey. A girl who is passionate in children, human right, poverty, and environment. She is crazy about the idea of being a traveller... And, she'd love to express all about her and her life in music, photography, and just simple words...
Lihat profil lengkapku

Archivo del blog

  • ▼ 2015 (3)
    • ▼ Juli (2)
      • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
      • Permintaan Paling Serius
    • ► Januari (1)
  • ► 2014 (4)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2013 (44)
    • ► Desember (1)
    • ► Juli (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (4)
    • ► April (4)
    • ► Maret (8)
    • ► Februari (10)
    • ► Januari (15)
  • ► 2012 (6)
    • ► Desember (2)
    • ► Juni (1)
    • ► April (1)
    • ► Januari (2)
  • ► 2011 (16)
    • ► November (3)
    • ► Oktober (2)
    • ► Agustus (1)
    • ► Juni (1)
    • ► Mei (5)
    • ► April (2)
    • ► Maret (2)

Teman-teman

See this :)

  • Home
  • About Me
  • Facebook
  • Twitter
  • About This Blog

Letter from God

Letter from God
gracehasibuan. Diberdayakan oleh Blogger.

God is good all the time

God is good all the time

Ordinary Grace

Ordinary Grace

Popular Posts

  • Pelajaran dari pembuangan Babel :)
    4 Desember 2013. Hari paling bersejarah. Untuk kedua kalinya saya menangis karena hal yang sama. Untuk kesekian kalinya saya merasakan uj...
  • (bukan) FILOSOFI KETAPEL
    Orang-orang yang hidup di fase modern seperti sekarang ini mungkin sudah jarang melihat ketapel. Tapi bagaimana dengan kamu? Pernahkah mem...
  • Kupanggil Kamu, ILALANG
    Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan ...
  • FRIENDS, LOVERS OR NOTHING
    FRIENDS, LOVERS OR NOTHING Wow its been a while since my last blog. Jadi weekend ini saya memang tidak kemana-mana. Minggu lalu udah...
  • Makan, Berdoa, dan Jatuh Cintalah pada Negeriku!
    Holaaaaaaa.. Kemana saja belakangan ini? Saya sudah kemana-mana. Ok, ini lebay! Lama sekali tidak menulis blog. Dua minggu yang l...
  • Aku, Kamu, Hati, dan Logika
    Kenalkan, namanya Logika. Dia yang menemani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya t...

Categories

semacam curhat (36) random thinking (25) me and my GOD (17) (bukan) cerpen (bukan) puisi (14) opini (12) untuk sahabat (12) tentang mimpi (8) cinta dan perasaan (7) lagu (7) surat (7) Keluarga (6) Kisah Kita (5) kicauan pagi (5) pekerjaanku (5) 8-years-story (3) tentang ilalang (3) idola (2) TRAVELLING (1) feature (1) film (1) liputan (1)

What Date is Today?

Quote of The Day

Visit BrainyQuote for more Quotes

Hear This.. :)

When God Writes My Whole Life Story

...tentang warna-warninya hidup ketika ALLAH yang menulisnya... So, Let God be God in your life, dear

Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label surat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2014

It's started from you, Kak ^^

Selamat dini hari, kak..

Surat ini untukmu. Ini yang pertama kali aku tuliskanuntukmu. Semampuku. Surat pertama di tahun 2014. Dan, aku akan memulainya dengan kamu.

Ah, kakak tahu? Bukan hanya surat yang aku mulai dengan kakak, tapi hatiku pun aku mulai dengan kamu. *eeeaakk gombal dini hari*

Saat ini aku menulis ini ditemani sebuah lagu Endah n Rhesa.
Mau aku share liriknya gak kak? Kata anak gaul sekarang sih, "Jlebb banget".

I love you but it’s not so easy to make you here with me
i wanna touch and hold you forever but you’re still in my dream

and I can’t stand to wait your love is coming to my life
but I still have a time to break a silence


I used to hide and watch you from a distance
and i knew you realized
i was looking for a time to get closer
at least to say hello



When you love someone just be brave to say
that you want him to be with you
when you hold your love don’t ever let him go
or you will loose your chance to make your dream come true


I never thought that i’m so strong
i stuck on you and wait so long
but when love comes it can’t be wrong
don’t ever give up, just try and try to get what you want
cause love will find the way






Apa mungkin juga emosi ini masih belum stabil sejak kita bertemu terakhir kali kemarin? Ketika remang- remang lampu jalan di luar menyalakan kembali cahaya lampauku. Cahaya yang seluruhnya kamu. Ketika obrolan kita mengalahkan suara gemuruh jantungku. Ketika lambaian terakhir ke atas kepalaku, seolah kamu tahu aku masih belum rela berpisah. Maka lagi- lagi aku harus membiarkan diriku tersilaukan kenang yang  benderang demi merampungkan secarik surat ini. Menelanjangi rinduku sembari membayangkan senyummu.
*gleekk, gombalnya makin parah*

Kak, mungkin kamu perlu tahu. Menulismu selalu tak semudah yang terlihat. Butuh keberanian yang besar untuk menumpahkan asingku pada kata- kata. Sebab kemudian aku akan menyadari bahwa kamu telah benar- benar hilang dari hari- hariku. Betapa bencinya aku ketika harus mengakui bahwa aku menulismu hanya dengan bangunan karakter di kepalaku.

Biarlah aku menyelesaikan sejumput keberanian lain yang kukumpulkan, mendatangimu dengan segenap rindu dalam kata- kata resah yang panjang dan membosankan.

Apakah kakak masih ingat aku yang dulu? Si gadis di tahun-tahun pertama sekolah menengahnya. Perkenalan kita bermula ketika aku akan mengikuti ujian bersekolah di tempat yang sama denganmu. Sebagai senior pertama yang aku kenal, mana mungkin aku semudah itu melupakanmu. Entah mengapa, aku terlalu yakin kamu pun tidak melupakanku sejak itu, si gadis sombong dan arogan. Aku yang terlalu sibuk dengan persiapan ini itu hingga menanyakan namamu pun terlupa.

Kakak sadar si gadis sombong ini lulus di kelas yang diinginkan? Ucapan selamatmu membuatku tersipu. "Selamat ya dek, cita-citamu kesampaian." Ah, benar kan, kamu mengingat setiap detil kata-kataku dulu. Tapi aku sudah tidak searogan kemarin. Aku berubah menjadi gadis "culun" karena sistem sekolah kita.

Berada di atap yang sama tetap saja tidak membuatku jadi lebih berani. Tetap saja, aku hanya bisa menatapmu dari jauh, mencuri-curi pandang ke arahmu sekali waktu. Aku yang biasanya blak-blakan menjadi aku yang sembunyi-sembunyi menikmati canda tawamu. Aku yang pucat pasi tiap berpapasan denganmu. Aku yang begitu payah sehingga tak pernah berani berbicara banyak padamu dulu itu. Dulu, ketika melihat kepulanganmu dari lantai dua sekolah kita merupakan sebuah kebahagiaan yang sederhana dan cukup saja. Klasik.

Setiap kamu tanyakan kenapa aku selalu menghindar dan tak banyak omong dulu, aku hanya menjawab takut pada senior. Begitu saja pun, aku masih saja sering dihukum oleh senior putri, kak.

Di tahun kedua, Tuhan seperti berpihak padaku. Aku bisa melihat kamu minimal tiga kali sehari saat makan. Kamu seperti candu bagiku. Tapi, tetap saja, menggapaimu ibarat mimpi rasanya.

Aku lupa sejak kapan kita mulai dekat. Aku juga lupa sejak kapan aku mulai sanggup berpura-pura tidak kaku di depanmu. Hubungan "kakak-adik" tidak sah ini sungguh menyiksa, sekalipun aku menikmatinya. Sampai kapan ini akan bertahan, hanya Tuhan yang tahu, kak.

Aku setengah berharap kau melupakan semua hal- hal memalukan tentangku.
Setengahnya tidak.

Si adik-kelas-culun-yang menggemaskan. Hei, meski aku akan selalu menjadi seperti itu di matamu, bukankah akan sangat baik bagiku untuk tetap menempati satu bilik ingatan di benakmu? Jika ya, sungguh, aku lebih memilih untuk menjadi si-adik-kelas-payah ini.

Jadi, ingatan secuil apa yang kamu miliki tentangku, kak? :)

Kakakku tersayang, sembilan musim panas dan sembilan musim hujan telah berlalu semenjak dini hari pertama yang penuh dengan percakapanku dan kamu. Bagiku ini selalu tentang kamu, si kakak kelas dengan suara serak dan kulit eksotisnya. Kakak kelas manis dengan kerlingan nakal dan senyuman tengilnya. Kakak kelas yang dewasa dengan pemikiran-pemikiran dan ekspektasinya yang begitu besar pada dunia. Kakak kelas usil yang selalu aku mintai "snack malamnya". Kakak kelas yang diidolakan banyak wanita dan yang selalu aku rindukan panggilannya "Dedeeek.." sambil memegang kepalaku. Tanda sayang mungkin ya kak? Ah, tapi kau sudah membuatku terlalu ge-er.

Waktu berlalu dengan tega. Begitu cepat. Begitu menyakitkan.

Tidak semudah itu menghilangkanmu dari memoriku sebelum aku mengungkapkan rasa yang dulu pernah ada ini. Tapi, untuk mengungkapkan pun butuh keberanian. Keberanian untuk merusak hubungan manis persaudaraan kita selama ini.

Jadi kak, jangan hentikan aku untuk menyimpanmu dengan apik di geligi memoriku. Sebab di sana kau adalah apa yang hanya kukenal. Selalu kau yang seperti itu.

Kakak, ini adalah surat pertamaku dari entah berapa hari, bulan atau mungkin tahun-tahun ke depan. Meski telah kutulis beratus surat untukmu dari jauh hari yang lalu, meski akan masih ada yang lain setelahnya, jika ini adalah permulaan lain yang kudapat,

.

ketahuilah bahwa aku memulainya dengan kamu.

.
Akan lebih banyak surat datang untukmu, kak.

Memikirkannya saja dadaku bergemuruh. Aku tak ingin surat ini sampai kepadamu sebagai satu dari sekian yang berserakan di depan pagar dirimu, sementara kau masih tertidur di dalam mabuk oleh anggur yang tak lain adalah kekasih lalumu.

Mengutip ulang lirik lagu tadi, sungguh kak, I've never thought that I'm so strong that I stuck on you and wait so long. Love will find its way. Demikian pun surat ini akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepadamu, kak, Semoga surat ini juga membawa serta gemetar jari- jari dan cekat di tenggorokanku yang tak mau pergi.

Berjanjilah, bila kelak surat- suratku sampai juga kepadamu, bacalah sampai habis. Sekali waktu rindu ini perlu teralamat. Bukankah kau yang paling mengerti soal itu?


Salam sayang, adikmu
Grace
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Jumat, Januari 03, 2014 0 komentar
Label: (bukan) cerpen (bukan) puisi, cinta dan perasaan, Keluarga, surat, tentang mimpi

Senin, 22 April 2013

Surat untuk Kartini Masa Depan

Dear kamu...


Nyadar ga kalau kemarin itu tanggal 21 April? Nyadar ga kalau kemarin itu Hari Kartini? Pasti nggak! Mana pernah kamu inget hal-hal seperti ini. Kamu kan yang selalu bilang, buat apa ikut berpartisipasi dalam acara yang belum tentu benar kita pahami maksudnya. Ah, kamu!

Dan suer, kamu pasti akan ngakak kalau aku bilang, kemarin aku ikut perayaan Hari Kartini di gereja bersama para ibu-ibu lainnya. Tuh, kan, ngakak kan? Tenang, bukan perayaan besar-besaran kok, cuma makan bareng di pantai. Katanya sih ini cara kita menghargai jasa ibu kartini. Peringatan atas tercetusnya emansipasi oleh kaum kita. Blah!

Apa gak nyadar ya kalau kita belum benar-benar mendapatkan pengakuan itu? Di negara tercinta kita ini, masih banyak perempuan sebagai objek. Masih ingat tentang UU Anti Pornografi? Menurut kamu, itu mendiskriminasikan perempuan gak sih? Aku sih gak keberatan kalau pemerintah mengatur pendistribusian majalah dan kaset-kaset porno, tapi kalau sampai mengatur tata busana (yang sayangnya, perempuan), itu bikin aku gerah. Ah iya, contohnya lagi, banyak pelecehan seksual di sekeliling kamu dan aku, dengan korbannya tentu saja dong kaum kita.

Eh, ga usah jauh-jauh deh.. Kamu dan aku saja, yang sedang berada di puncak kesuksesan *tsaaaahh*, justru susah mendapatkan pasangan kan? Hihihihiii.. Dengan banyak alasan, yang intinya karena kita dianggap terlalu kelas tinggi. Dari situ saja kita udah tahu, kita belum benar-benar menerima pengakuan kan? Padahal biarpun kita ini keren, berkarir cemerlang, tapi kan tetap saja kita bisa masak, bersih-bersih rumah, dan melakukan tugas lainnya kan? Hehehehe..

Kamu sering lihat di tivi gak? Artis sebut saja namanya bunga, di sisi lain, emansipasi yang dia lakukan justru membuatnya kehilangan banyak hal. Keluarga, suami, bahkan anaknya sendiripun tak mampu dia pertahankan. Dan semua terjadi karena dia memperjuangkan apa yang dia sebut sebagai emansipasi.

Eh, bentar bentar bentar.. Menurut kamu, apa benar yang Kartini inginkan itu adalah emansipasi dan kesetaraan gender? Mungkin ga, kalau katau-kata emansipasi, kesetaraan gender dan hal-hal seperti itu, kita sendiri yang ciptakan? Bisa jadi yang diinginkan Kartini bukan seperti itu. Bukan pula semakin banyak wanita berpendidikan tinggi, berkarir cemerlang, tapi banyak juga di antaranya yang justru mengabaikan kodratnya sebagai perempuan.

Oh, tapi yang jelas aku tahu, yang kita inginkan adalah sama. Kita hanya ingin menjadi perempuan yang lebih baik, untuk melahirkan anak-anak bangsa yang lebih baik di tengah bangsa yang semakin hari semakin mengenaskan ini. Kalau aku bilang ini inti dari emansipasi, kira-kira kamu setuju gak?

Aduh, udah ah! Semakin aku nulis panjang lebar, semakin aku merasa pusing. Rasanya semua terlalu rumit. Benar katamu, tak mudah memahami makna dari sesuatu, makanya lagi-lagi, aku juga heran. Kenapa hari ini aku nulis panjang lebar tapi gak jelas begini yah?

Selamat melanjutkan aktivitas Senin soremu, teman!
Jangan lupa, April ini sudah hampir habis. Emansipasi tak akan membuat kamu berhenti belajar memasak dan berdiskusi tentang hal-hal penting dan gak penting di dunia ini kan? *wink-wink*

Dari,
Aku

"Sampai sedemikian jauh, Kartini disebut-sebut di berbagai peringatan lebih banyak sebagai tokoh mitos, bukan sebagai manusia biasa, yang sudah tentu mengurangi kebesaran manusia Kartini itu sendiri serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Tambah kurang pengetahuan orang tentangnya tambah kuat kedudukannya sebagai tokoh mitos. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung dari pada total jenderal mitos-mitos tentangnya."
**Pramoedya Ananta Toer dalam kata pengantar Panggil Aku Kartini Saja
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, April 22, 2013 0 komentar
Label: opini, surat, untuk sahabat

Rabu, 13 Februari 2013

Untuk The-Man-in-the-Future


PERINGATAN PENULIS: Postingan berikut ini mungkin dapat menimbulkan rasa galau berlarut-larut. Tidak dianjurkan bagi para pembaca labil. Terlebih mereka yang berusia dua-puluhan dan berstatus single. Ehm.

Calon Pacar yang baik,

Kamu mungkin ada di dekatku. Mungkin juga jauh sekali, sejauh jarak Sabang ke Merauke. Tapi aku hanya tahu bahwa kamu ada, di suatu tempat entah di mana. Tidak perlulah rasanya aku menjadi agen Neptunus yang dengan radar mencari dan menemukanmu. Sebab iman sebesar biji sesawi yang aku punya ini yang akan mengantarkanku kepadamu sesuai janji-Nya. (Hey, bukan berarti aku tidak berusaha loh ya!) Aku pernah membaca di Kitab Suci bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, jadi tidak mungkin ada orang yang seumur hidupnya menjomblo sampai kering, kecuali bahwa ia sendiri memutuskan untuk hidup selibat, atau tidak pernah berpartner secara tetap. Itu lain perkara.

Ketahuilah aku tidak seekstrim itu, Wahai Calon Pacar. Aku memang agak takut pada komitmen bernama pernikahan, maka dalam surat ini kusebut kamu 'Calon Pacar' dan bukan 'Calon Suami' sebab jujur saja kata 'suami' membuatku mulas (malas?) setengah mati - tetapi pada dasarnya aku ini kekasih yang baik.

Aku penyayang, jujur, dan rela berkorban. Memang kadang-kadang aku agak nakal, tetapi kalau kamu cukup cerdas untuk terus mempertahankan ketertarikanku padamu, aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan selalu tergila-gila padamu, dan menjaga hubungan kita dengan penuh kasih sayang.

Calon Pacar, kamu tidak harus terlalu tampan. Cukuplah kamu berwajah seperti John Mayer, dengan mata teduh dan senyum yang manis, dengan ekspresi bandelnya yang seksi dan petikan gitar yang catchy. Atau Johnny Depp saat memerankan Mort Rainey, dan bukan Willy Wonka.


Aku sangat menyukai pria yang kalau tersenyum maka di sudut-sudut matanya akan terbentuk kerutan. Itu imut sekali, Calon Pacar, atau 'unyu' kalau kata anak-anak sekarang. Ngomong-ngomong, kata Goenawan Mohamad 'unyu' itu bahasa Sansekerta yang artinya anjing, tapi kamu tahu yang kumaksud bukan itu. Aku bukan Rengganis yang memacari anjing, bukan?

Dan tentang kerutan di sudut mata, itu tidak berarti kamu harus benar-benar berkerut di mana-mana. Aku mencari kekasih yang tidak terlalu tua untuk kuajak pergi ke disko, dan masih kuat pergi sampai pagi jika diperlukan. Kalau kamu terlalu tua, Wahai Calon Pacar, aku kuatir kita harus sudah berhenti berkencan pada pukul sembilan malam, sebab lewat jam itu kamu sudah masuk angin dan mengeluh pegal-pegal.

Jangan salah pengertian, Calon Pacar. Badan kamu tidak harus kuat dan atletis seperti Denny Sumargo. Yang penting kamu tidak terlalu kurus, juga tidak terlalu gendut, dan sehat wal afiat. Apakah kamu merokok atau tidak, buatku sebenernya ada sedikit masalah, sebab aku hanya tidak tega melihat paru-paru dan bibirmu yang seksi itu tergerus dihantam asap rokok. Tapi, kembali lagi, itu pilihanmu, bukan?

Kamu boleh minum bir, atau anggur, pada prinsipnya minuman keras dalam bentuk apa pun, asalkan kamu tidak jadi alkoholik, sebab alkoholik cenderung mati mengenaskan, bukan? Kamu sudah dengar tentang Edgar Allan Poe? Ia pengarang ternama pada zamannya, tapi ia mati terperosok di selokan karena mabuk berat. Aku juga tidak mentolerir penggunaan narkoba. Maafkan kalau terdengar seperti Satpol PP, tapi ini untuk kebaikan kita bersama, Wahai Calon Pacar. Kita tidak ingin agenda pacaran kita ternyata tertangkap basah oleh BNN, seperti yang terjadi pada beberapa seleb akhir-akhir ini, bukan?

Dan kamu juga harus cerdas, sebab aku tidak mengencani pria bodoh. Kedengarannya mungkin kejam atau sok pintar, tetapi percayalah ini sama sekali bukan seperti itu. 'Cerdas' di sini bukan berarti kamu harus memenangkan medali olimpiade Fisika, atau hafal rumus-rumus Kimia, tetapi keberanian untuk berpikir mandiri.

Aku sangat menghargai lelaki yang tidak sekadar ikut-ikutan dalam memandang dunia ini dan semua yang terjadi di sekitarnya. Lelaki yang berani punya pendapat sendiri, dan hidup berdasarkan pendapatnya itu. Lelaki yang tahu apa yang diinginkannya, dan bagaimana cara meraih semua itu.

Lelaki yang kuat, yang tidak mudah kehilangan dirinya sendiri, yang banyak membaca, yang suka mendengarkan musik-musik bagus, jenaka (jejaka?), dan tahu bagaimana cara bersenang-senang. Lelaki yang bisa kuajak pergi ke perpustakaan atau toko-toko buku loakan, tapi juga bisa kuajak pergi menonton konser musik punk favoritku dan yang menemani si gadis bawel ini backpacking keliling dunia. Lelaki yang bisa kuajak ngobrol tentang Tuhan, politik, ekonomi, sastra, musik, mimpi, keluarga, dan sepakbola, namun bisa pula mengoceh bersama tentang hal-hal paling remeh sedunia.

Calon Pacar, kamu bisa berprofesi apa saja. Aku tidak keberatan dengan pekerjaan apa pun, selama kamu menyukainya. Kalau kamu berprofesi sama denganku, semoga ketika kita bertemu nanti, menteri kita yang labil itu tidak jadi mengeluarkan aturan terbarunya yang membatasi cinta ya. Dan kalau bisa juga, ini kalau bisa, janganlah kamu datang dari kalangan pengarang. Seorang teman pernah berkata padaku bahwa amatlah berbahaya mengencani pengarang, sebab ia sering bersikap seolah-olah hidupnya adalah sebuah cerita panjang. Akibatnya, ia sering bersikap aneh-aneh untuk menimbulkan kejutan dan suspens dan intrik agar hidupnya (ceritanya?) selalu menarik. Dengan segala hormat, Calon Pacar, aku lebih suka hubungan yang stabil.

Calon Pacar yang baik,

Akan kututup tulisan ini dengan doa untukmu. Aku berdoa agar Tuhan menjagamu sampai nanti Ia mempertemukan kita yang sama-sama tengah berada di tangan-Nya. Aku terlalu yakin kisah kita nantinya tidak akan kalah mengharukan seperti kisah Ruth dan Boas, atau ketika Ishak melamar Ribka. Ketika saat itu tiba, aku akan mengurusmu baik-baik, menyayangimu sepenuh hati, dan memastikan hidupmu penuh warna. Aku tidak akan membuat kesalahan-kesalahan seperti yang pernah kulakukan dalam kehidupan cintaku sebelumnya. Ah, sejujurnya kamu harusnya bangga sudah jadi yang pertama. Tentang aku sudah jadi yang keberapa, tidak terlalu penting, yang pasti kita sama-sama yakin jadi yang terakhir, begitu bukan? Aku akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia di dunia, dan aku yakin engkau pun akan melakukan hal yang sama. Sebab tidak baik memang jika manusia itu seorang diri saja. Berdua kita akan jadi tim yang baik. Sekarang jalanilah kehidupanmu dengan rasa bahagia. Nikmatilah hidupmu dan bertumbuhlah di dalam-Nya. Ketika kita sudah sama-sama siap dan bersama, akan kupastikan kebahagiaan itu berlipat ganda. Karena kisah ini tidak hanya antara aku dan kamu, tetapi juga ada DIA, Penulis Kisah Kita

Sampai jumpa
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Februari 13, 2013 0 komentar
Label: semacam curhat, surat, tentang mimpi

Senin, 21 Januari 2013

Kupanggil Kamu, ILALANG

Lalu, begini. Kini saya ada di belakang netbook ini dan menulis tentangmu. Saya harap kamu tidak merasa keberatan dengan nama barumu dan semoga kamu suka.


Ada cangkir berisi teh rasa lemon di depan saya dengan gula yang tidak saya aduk. Kenapa tidak diaduk? Saya malas mengaduknya. Biarkan ia larut sendiri. Sama seperti cinta, kadang kamu harus biarkan cinta itu larut.


Lalu saat ini saya sudah larut ke dalam matamu yang hitam dan bibirmu yang tersenyum. Saya begitu terbius dengan kata-kata dalam cerita-ceritamu tentang apa saja yang bisa diceritakan tentang dirimu sendiri-- begitu indah. Apalagi ketika kamu menggambarkan kebahagiaanmu tentang dia-- ah sudahlah.

Kamu tahu saya suka John Mayer dan hujan, lalu mungkin saja kamu sedang menerka saya begitu tergila-gila denganmu-- Ah, mungkin memang kamu begitu memesona saya. Tapi bukan soal fisik, Kamu buat saya jatuh cinta lagi terhadap kehidupan, rasa ini membuat saya begitu sembuh --sembuh total.

Untuk menjalani kembali hari-hari saya. Entah kenapa saya merasa begitu tolol, saya tidak bisa memilikimu. Kita berbeda di banyak segi. Kamu pun sudah memilihnya, entah kamu mencintainya atau tidak. Semoga ini tidak berlebihan.

Tapi tidak apa, saya mau memulai lagi mencinta. Bukan, bukan menjadikanmu sebagai pelarian. Bukan juga ingin memilikimu sepenuhnya. Dan kau tetaplah di sana, tetaplah dengan keberadaanmu, tetaplah seperti sedia kala, seperti sebelum saya menemukanmu di balik rumput hijau.

Lalu, saya memanggilmu ilalang. Kalau kamu tanya? Kenapa saya memanggilmu ilalang. Karena kamu tumbuh liar diantara rumput hijau.




Kamu datang dengan liar lalu memesona. Begitu saja.
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Januari 21, 2013 0 komentar
Label: Kisah Kita, random thinking, surat, tentang ilalang

Sabtu, 19 Januari 2013

Hallo, Kamu!

Kopi dan teh. berbeda warna dan rasa. beda itu kita. sekian.


Hallo, penyebab rasa yang baru-baru ini, aku pun tak bisa mendefenisikannya, lewat berbagai beda. Ini waktunya ku hujani kamu dengan cerita kita. Ah, bukan, sekali lagi, cerita aku dan kamu, yang tak akan mungkin menjadi kita. Tahukah kamu, di atas segala beda, meski kadang ada sedikit duka, tapi candamu mencanduku di tiap tawa. Lagipula, haruskah kita sama untuk bersama?

Hallo, pendamping hari penepis sepiku meski berlain kota. Ada satu kalimat yang aku tak pernah lupa, bahwa jarak memisahkan fisik, bukan hati, dan aku serasa dengan apa yang kau kata. Benar saja, bukankah ratusan kilometer pemisah kita masih bisa dilewati kapan saja?



Hallo, penyebut Tuhanku dengan berbeda nama. Meskipun rumah ibadah kita tak searah, biarlah masa depan akan kita Tuhan yang beri kuasa. Hanya saja doaku, semoga Tuhanmu dan Tuhanku berbahagia, layaknya kita. Kini, bagaimana kalau kita jalankan saja tanpa terlalu banyak menerka?

Hallo, penginspirasi tulisan-tulisanku dengan berbagai cara. Mungkin aku terlalu banyak meminta, tapi beberapa kata ini memang sia-sia bila bukan kamu yang baca. Tidak perlu kamu hitung banyaknya, tapi cukup kamu simpan maknanya, maukah?





Medan, 19 Januari 2013
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Sabtu, Januari 19, 2013 0 komentar
Label: Kisah Kita, surat, tentang ilalang

Senin, 14 Januari 2013

#DearYou


“Biarkan ini menjadi cinta jika segenap rasaku dan rasamu yang berbicara.. biarkan ini menjadi nyata, jika ini adalah hatimu dan hatiku yang jadi jembatannya”


Setiap mendengar lagu Mocca, aku selalu mengingatmu. Entah mengapa setiap mendengar suara Arina hilir mudik di telingaku, aku selalu melihat hadirmu. Kamu yang sebenarnya tak pernah dan tak akan bisa kusentuh, kamu yang sebenarnya bahkan baru sekali aku temui.
Sapa lembutmu mengalir maya dalam jejaring sosial itu. Aku tidak mengerti, dengan hal sederhana, kau bisa membuatku begitu menyukai kehadiranmu. Aku suka saat-saat kita bisa meluangkan waktu sekedar untuk bercerita. Bercerita tentang aku dan kamu, yang mungkin tidak akan pernah menjadi KITA. 


Awalnya semua terasa biasa saja. Kadang, aku memperhatikanmu dari balik dunia maya yang tak tersentuh, dan tak terjamah. Sikapku pun tak lebih, hanya rasa persahabatan yang tak harus memunculkan alasan dan tanda tanya. 

Tapi sejak peristiwa itu, semua berubah. Hanya dengan sapa yang teretas dari mahluk tak bersuara itu, berlanjut ke obrolan-obrolan singkat, kesamaan hobi, canda tawa yang hadir lewat tulisan, hingga memiliki panggilan khusus satu sama lain, kau dan aku menjadi dekat.. seberapa kuatkah kata “HEY” itu? 1 kata, 3 huruf, tapi bisa mendekatkan aku dan kamu. Ah, terlalu tergesa-gesa rasanya kalau aku mendefenisikannya menjadi cinta. Tapi seperti itulah yang aku rasakan, seperti mercon lebaran yang diledakkan di alun-alun selatan, di bawah sinar rembulan, diiringi suara kendaraan yang lalu lalang, perasaan campur aduk yang bahkan tak bisa aku persepsikan. 

Bagaimana dengan perjumpaan  nyata? Aku jelas merindukanmu, walau perkenalan kita terbilang singkat dan instan. Dengan segala kemampuanmu menjentikkan jemarimu pada senar gitar itu, aku terpikat dan terjerat. Inikah jebakan yang tak sengaja kau ciptakan dalam damba semu? Kita berfantasi, seandainya aku dan kamu bisa saling menyentuh, dan saling menggenggam tangan, mengisi celah-celah kecil jemarimu lalu kita melihat bulan, sungguh tak adil jika itu semua hanya angan-angan.


Ah, bagaimana mungkin dengan cara sederhana itu kau telah membuatku jatuh cinta? Padahal mungkin sebentar lagi, hal ini akan sama-sama kita lupakan, berlalu begitu saja, karena benteng begitu tinggi yang sama-sama tidak bisa kita gapai. Perbedaan :)


Aku rasa ini hanya perasaan suka yang tak berdasar logika, hanya perasaan tertarik pada perkenalan pertama dan obrolan yang kau katakan nyaman dan “klik”.


Seandainya kamu ada disini, seandainya kotamu tak berjarak ratusan kilometer dari sini, tentu kita bisa bertemu, tanpa harus berfantasi dan bermimpi. Melihat matahari terbit dan terbenam, bernyanyi diiringi suara gitarmu, dan nada-nada hujan yang hanya  bisa didengar aku dan kamu, melihat bintang yang berteman dengan bulan, lalu saling berpeluk saat dinginnya hujan.


Tuhan, lemparkanlah pandangan-Mu pada kisah aku dan dia. Ehm, tunggu, mungkin hanya aku yang menganggap ini kisah, tidak begitu denganmu. Yah, mungkin. Biarkan dia mengendap-endap berlari dari khayalanku dan memasuki dunia nyataku. Dunia nyata yang jelas-jelas tidak memungkinkan kisah ini akan ada. Tapi, saat jantungku harus berdegup kencang karena sapa mayanya, saat mataku rela tak terpejam hanya untuk membalas pesan singkatnya, di balik perasaan canggung, malu, dan rindu itu, aku temukan BAHAGIA :)

Pernahkah kau juga merasakan hal yang sama, ketika tersenyum sendiri tanpa alasan menatap layar handphone? Kamu adalah alasannya, ya kamu!!
Perasaan ini adalah sesuatu yang belum tentu dapat diciptakan Einstein dengan kemampuan 10% otaknya, yang membuat aku rela menatap handphone berjam-jam hanya untuk menunggu kabar darinya. :D


Untuk sekarang ini, tak masalah kalau nantinya kisah kita tidak tercipta. Entah karena perbedaan yang ada ini, atau mungkin memang kamu yang akhir-akhir ini sudah menciptakan batas-batas antara kita, tidak pernah punya perasaan untukku sejak awal. Ah, iya, aku ingat, kamu pernah cerita, tentang seseorang, yang kepadanya kamu memiliki ketertarikan. Aku juga menyukai wanita itu. Wajah lembutnya tak kalah menghangatkan darimu. Kamu pernah bilang suaranya juga lembut, tidak seperti aku.:) Aku suka cara sederhanamu saat bercerita semua hal tentangnya, semua cara kamu menarik perhatian dan mendekat dengannya. Aku beranggapan kalian mungkin saja orang beruntung yang digariskan Tuhan untuk saling mencintai. Aku menyukai kalian berdua, wanita cantik berwajah lembut, dan kamu pria manis yang menyukai audio romantis. 

Sekarang aku tak perlu lagi memaksamu untuk mengendap-endap masuk ke dalam dunia nyataku. Aku bahagia begini adanya :)

Terimakasih sudah hadir dalam duniaku.

#DearYou seseorang yang tak tersentuh tapi ada, seseorang yang tak terlihat tapi menghasilkan rindu
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Senin, Januari 14, 2013 0 komentar
Label: Kisah Kita, random thinking, semacam curhat, surat, tentang ilalang

Rabu, 19 Desember 2012

tentang suplemen pagi

.....
dua pertiga dari pagi-pagiku, dimulai dari pertigaan ini dan berakhir pada lampu merah diujung jalan itu, diisi oleh harapan-harapan untuk bertemu denganmu. dan selebihnya, dipenuhi oleh khayalan-khayalan akan pertemuan itu sendiri.
.....
>>Baca selengkapnya ya
Diposting oleh Grace Hasibuan di Rabu, Desember 19, 2012 0 komentar
Label: Kisah Kita, random thinking, surat
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod | Distributed by Deluxe Templates